Oleh: Suyito Basuki *)
KAB. SEMARANG, wartaintegritas.com – Ada banyak lakon wayang inspiratif yang bersumber dari kitab Mahabarata dan Ramayana. Dari kitab Mahabarata munculah lakon wayang Baratayuda Jaya Binangun yang mengisahkan peperangan antara para Pandawa dan saudaranya Kurawa. Mereka berperang karena Pandawa ingin mengambil haknya negara Hastina yang oleh orang tua mereka yakni Prabu Pandu Dewanata dititipkan kepada kakaknya, Adipati Destarastra. Setelah Pandu Dewanata meninggal, Destarastra memerintah negara Hastina. Para putranya yang berjumlah 100 orang itu dikisahkan tidak rela jika negara Hastina dikembalikan kepada para Pandawa yang berjumlah 5 orang tersebut. Sehingga terjadilah peperangan besar yang disebut Baratayuda yang dimenangkan oleh para Pandawa.
Dari kitab Ramayana munculah berbagai lakon seperti Sugriwa-Subali, Anoman Obong, Kumbakarna Gugur dan lain-lain. Lakon-lakon itu bermuara pada upaya Prabu Rama yang ingin Dewi Sinta yang diculik Rahwana atau Dasamuka bisa dikembalikan kepadanya. Oleh karena itu kemudian timbulah peperangan antara Prabu Rama yang banyak dibela oleh pasukan riwanda atau kera, sementara Rahwana didukung oleh pasukan raksasa. Setelah peperangan yang memakan banyak korban termasuk Kumbakarna adik Rahwana dan anak-anak Rahwana, yakni Indrajit dan adik-adiknya, akhirnya kemenangan didapatkan oleh pihak Prabu Rama. Dewi Sinta pun akhirnya kembali ke pangkuan Prabu Rama.
Cerita sebagai Katarsis Jiwa
Menonton pertunjukan wayang, sudah ada kesimpulan standar atau pakem dalam hati penonton, bahwa kebenaran pada akhirnya akan mengalahkan kejahatan. Dalam lakon apa pun, baik yang bersumber dari kitab Mahabarata maupun Ramayana hal itu pasti akan terjadi. Hanya saja dalam mendapatkan kemenangan itu, para tokoh akan mengalami banyak tantangan dan cobaan yang ringan maupun yang berat. Cobaan yang ringan mungkin seperti bertemu dengan raksasa atau musuh di jalan, kemudian melakukan peperangan, seperti Arjuna yang berperang dengan buta (raksasa) Cakil. Cobaan yang berat adalah misalnya seorang ksatria dalam upaya mendapatkan sebuah wahyu atau ilmu maka harus melakukan perjalanan yang berat, misal Arya Bima Sena, salah seorang ksatria Pandawa, saat akan mendapatkan ilmu sejati, dia harus ke gunung bertempur dengan raksasa dan menyelam ke samodra untuk mendapatkan ilmu sejati dari Dewa Ruci. Cobaan yang paling berat adalah manakala para putra Pandawa yakni Abimanyu dan Gatotkaca harus terbunuh di medan pertempuran dalam upaya mendapatkan kembali kerajaan Hastina.
Saat penonton mengidentifikasikan dirinya dengan para tokoh wayang yang sedang dimainkan dengan segala problematika yang berkahir pada kemenangan, saat itulah proses katarsis terjadi. Seperti penonton pada pertunjukan teater yang oleh Aristoteles disebutkan mendapatkan katarsis yakni kelegaan dan penyucian jiwa, maka penonton wayang, pada akhir pertunjukan akan merasakan hal yang sama. Sehingga saat penonton pulang dari arena pertunjukan, akan mendapatkan tekad semangat baru dalam bertindak dalam alur kebenaran sehingga mendatangkan sebuah kedamaian.
Sebelum masa pandemi ini, pertunjukan wayang kulit biasanya mulai dari jam 21.00 malam dan akan berakhir sekitar jam 04.00 pagi. Dalam durasi 7 jam pertunjukan itu, keheranan tidak saja tertuju kepada dalang, sinden, niyaga yang kuat bermain semalaman, tetapi juga kepada para penonton yang bertahan melihat sampai usai pertunjukan. Pada waktu Ki Timbul Hadi Prayitno dan Ki Hadi Sugito, keduanya dalang dari Yogyakarta, masih hidup, saat kedua tokoh dalang legendaris ini memainkan wayangnya, maka penonton akan melihat baik dari depan maupun belakang layar sampai pertunjukan selesai. Penulis menyaksikan sendiri hal itu.
Berbagai Jenis Wayang, Layak Dipertahankan
Wayang sebenarnya tidak saja muncul di tanah Jawa saja, tetapi juga muncul di berbagai pulau lain. Selain wayang purwa ada juga wayang Bali dan lain-lain. Wayang juga eksis dengan beraneka ragam jenis, sesuai dengan tujuan pertunjukannya. Selain Wayang Purwa juga ada Wayang Sadat, yakni wayang untuk syiar agama Islam; Wayang Wahyu, wayang yang bersumber pada kitab suci orang Kristiani; Wayang Potehi, wayang yang lahir dari kalangan suku Thionghoa; Wayang Kancil yang menceritakan dunia hewan atau cerita fabel. Ada juga wayang Pancasila yang menceritakan para pejuang kemerdekan Republik Indonesia dan lain-lain.
Wayang mau dimusnahkan? Jangan dong, karena selain wayang bisa menjadi sarana katarsis bagi orang Jawa khususnya, wayang juga memiliki banyak alasan untuk tetap dipertahankan. Mungkin saja ada pemimpin agama tertentu yang menyarankan supaya wayang dimusnahkan terkait dengan pertobatan anggota jemaahnya memiliki landasan tafsir yang berbeda dengan Sunan Kalijaga saat memberi tafsir tentang wayang yang adalah warisan dari kebudayaan Hindu dan Budha. Sunan Kalijaga yang terkenal dalam syiar Islam pada masanya, terbukti tidak memusnahkan wayang, malah wayang sebaliknya digunakannya menjadi sarana dakwah syiar agamanya. Sesungguhnya tafsir agama yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga inilah yang lebih dibutuhkan untuk membangun kokohnya nusantara yang fakta nyatanya adalah nusantara terdiri dari ratusan suku dan ribuan bahasa dan budaya yang masing-masing perlu dijaga kelestariannya. Tidak bisa semena-mena orang mengatakan ini itu salah dan harus dimusnahkan, gara-gara tidak sesuai dengan tafsir pribadi atau aliran mazhabnya.
*) Penulis tinggal di Ambarawa Kab. Semarang
















