KLATEN – wartaintegritas.com — Suasana syahdu menyelimuti Kabupaten Klaten saat ribuan umat Katolik berkumpul dalam sebuah acara istimewa bertajuk “Magnificat Jiwa: Simfoni Kasih bagi Bunda Maria”. Acara yang memadukan doa rosario dengan konser orkestra ini berlangsung khidmat sebagai bentuk penghormatan khusus di bulan Maria.
Gelaran ini berlangsung di Gedung Gelora Bung Karno (GBK) Rabu Malam dimulai pukul 18.30 (6/05/2026) dengan menghadirkan Grego Julius Orchestra yang membawakan deretan komposisi nada dan syair indah hasil permenungan spiritual sang komposer, Grego Julius.
Perpaduan Doa dan Seni
Ketua Panitia, Robertus Widiharsanto, menjelaskan bahwa konsep acara ini sengaja dibuat berbeda dari doa rosario biasanya. “Kami mengemas doa rosario ini dalam bentuk konser. Tujuannya agar umat semakin tergerak dan tertarik memuji Bunda Maria tidak hanya lewat doa, tapi juga melalui ucapan syukur lewat lagu-lagu,” ujarnya di sela acara yang di temui awak media wartaintegritas.
Melalui sebuah sambutan hangat, Romo Yosep Kristanto Pr., membuka acara peluncuran album nyanyian rohani Bunda Maria serta konser orkestra bertajuk “Magnificat Jiwa: Simfoni Kasih bagi Bunda Maria”.
Karya ini merupakan buah kontemplasi dari Grego Julius. Dalam sambutannya, Romo Kristanto mengungkapkan bahwa karya-karya yang disajikan dalam konser ini bukanlah sekadar komposisi musik biasa, melainkan hasil dari pergulatan hidup yang dibawa dalam keheningan doa.
”Semua pergulatan hidup itu tidak ia simpan sendiri, ia bawa dalam keheningan malam, ia sujudkan dalam doa. Dari keheningan itulah lahir syair-syair dan nada-nada indah yang mengalir dari kedalaman hati,” ujar Romo Kristanto.
Doa Melalui Nada dan Syair
Acara ini tidak hanya dipandang sebagai pertunjukan musik, tetapi juga sebagai sarana devosi. Romo Kristanto mengajak seluruh hadirin untuk membuka hati dan meresapi setiap bagian dari konser ini sebagai bentuk doa yang hidup.
Beliau menekankan beberapa poin spiritual dalam menikmati karya ini:
Nada sebagai Rosario: Setiap nada yang terdengar diharapkan menjadi butiran rosario yang didaraskan oleh umat.
Syair sebagai Salam Maria: Setiap baris syair yang dinyanyikan diharapkan menjadi ungkapan “Salam Maria” yang tulus.
Jalan Menuju Kristus: Sesuai dengan semboyan “Per Mariam ad Jesum” (Melalui Maria sampai kepada Yesus), karya ini diharapkan menuntun umat untuk mengenal Putra-Nya lebih dekat.
Meneladani Ketabahan Bunda Maria
Selain sebagai bentuk pujian, konser ini juga menjadi pengingat bagi umat untuk meneladani ketabahan Bunda Maria. Romo Kristanto menyampaikan pesan penguatan agar bersama Maria, umat tetap percaya dan kuat dalam menghadapi “Golgota” atau tantangan hidup masing-masing.
Menutup sambutannya, Romo Kristanto mendoakan agar persembahan karya Grego Julius ini berkenan di hati Bunda Maria dan menjadi jembatan spiritual yang membawa umat semakin dekat kepada Tuhan Yesus Kristus.
”Biarlah setiap nada yang kita dengar malam ini menjadi rosario yang kita daraskan, dan setiap syair menjadi Salam Maria yang kita ucapkan,” tutur Romo Kristanto dengan penuh haru di hadapan hadirin.
Peluncuran Album Religi
Tak hanya sekadar konser, momen ini juga menjadi ajang launching lagu-lagu terbaru karya Grego Julius yang seluruhnya bertema Bunda Maria.
Grego menyatakan bahwa lagu-lagu dalam album ini mengandung pesan SYUKUR dan BAHAGIA atas pendampingan Bunda Maria dalam kehidupan imannya.
”Harapannya, lagu-lagu ini tidak hanya didengarkan sebagai musik, tetapi juga bisa menguatkan iman para pendengar dan menjadi teman dalam doa mereka,” ungkap Grego Julius usai konser.
Dihadiri lebih dari 2000 Umat.
Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Tercatat sekitar 2000 lebih orang hadir memadati lokasi acara. Peserta tidak hanya datang dari wilayah Klaten, tetapi juga dari luar kota seperti Solo, Wonogiri, hingga Boyolali, dan Yogya.
Turut hadir dalam acara ini Vikaris Episkopalis (Vikep) Surakarta, Romo Herman Yosef Singgih Sutoro, Pr, serta para romo, suster, bruder, dan frater dari berbagai paroki di Rayon Klaten, termasuk Paroki Bayat, Wedi, dan Kalasan.
Penampilan penutup dengan meriah lagu “Maria Cha Cha” yang membangkitkan semangat sukacita seluruh hadirin, sekaligus mempertegas pesan bahwa memuji Tuhan dan Bunda Maria bisa dilakukan di akhir acara dengan berbagai ekspresi seni yang indah.
(Benyamin Hadinagara)










