Dramatari “Babad Benteng Willem I” Kembali Digelar, Angkat Kisah Sejarah Kawasan Ambarawa

Seni Budaya202 Dilihat

KAB. SEMARANG — wartaintegritas.com — Pertunjukan seni berskala besar kembali hadir di Ambarawa, Kabupaten Semarang yang dikemas dengan pergelaran kolosal “Dramatari Babad Benteng Willem I”, di Grha Mandala Cipta, komplek Benteng Fort Willem I Ambarawa, Selasa (24/03/2026) malam.

Tim Kreatif Pertunjukan, J.P. Awig Soedjatmika, menjelaskan bahwa dramatari ini menjadi karya artistik yang secara khusus mengangkat kisah sejarah Benteng Willem I, yang merupakan bangunan monumental peninggalan masa kolonial dan sejak lama menjadi saksi perjalanan sejarah kawasan Ambarawa.

“Melalui bahasa seni pertunjukan, kisah itu akan dihidupkan kembali dalam bentuk dramatari yang memadukan kekuatan tari tradisional, teater dramatik, musik karawitan, serta tata visual panggung yang megah dan sinematik. Pertunjukan ini digarap oleh tim kreatif yang memiliki latar kuat di bidang seni pertunjukan,” terang J.P. Awig Soedjatmika kepada awak media, di sela pertunjukan dramatari, Selasa (24/03/2026) malam.

Pertunjukkan dramatari itu dirancang dengan alur dramatik berdasarkan riset sejarah Benteng Willem I. Koreografi pertunjukan ditata Ino Sanjaya, komposisi musik digubah oleh Alrest Kentung. Tentunya, menghadirkan perpaduan nuansa karawitan tradisional dengan atmosfer dramatik yang kuat. Produksi pelaksana dikoordinasikan Antonius Luky, sekaligus memimpin jalannya produksi panggung dan kolaborasi antarkomunitas seni.

“Dramatari kolosal ini merupakan hasil kerja bersama berbagai komunitas seni yang selama ini aktif mengembangkan seni pertunjukan di wilayah Kabupaten Semarang khususnya dan umumnya di Jawa Tengah. Sejumlah sanggar dan komunitas yang terlibat antara lain Sanggar Tari Kemrincing, Sanggar Karawitan Nayanika, Legato Music School, Mapio Collection sebagai tim tata rias dan aksesori tari, Sanggar Teater Tawar, tim kreatif visual dari Sanggar Desain, Animasi, dan Fotografi Penta. Selain itu, hadir sebagai bintang tamu Lala Thalia dan Bejo,” ujar Awig.

Kehadiran para seniman dari berbagai disiplin seni tersebut menjadikan pertunjukan sebagai sebuah karya kolaboratif yang kaya warna artistik. Tari, teater, musik, tata rias, kostum, hingga desain visual panggung berpadu menjadi satu kesatuan dramatik yang utuh. Bahkan, turut diramaikan kehadiran bintang tamu penyanyi populer “Lala Thalia”.

Lebih lanjut Awig menceritakan bahwa sebagian besar penampil dramatari ini berasal dari kalangan muda yakni para pelajar dan generasi kreatif yang selama ini aktif berlatih di berbagai sanggar seni di Ambarawa dan sekitarnya. Keterlibatan generasi muda ini menjadi bagian penting dari semangat pertunjukan, yakni menghadirkan ruang ekspresi kreatif sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya merawat sejarah dan warisan budaya.

“Melalui dramatari ini, nantinya penonton tidak hanya diajak menyaksikan sebuah pertunjukan seni, namun juga diajak memasuki lorong waktu sejarah. Kisah tentang dinamika kehidupan masa kolonial, pergulatan masyarakat, hingga perubahan zaman di kawasan Ambarawa disajikan melalui bahasa gerak, musik, dan visual panggung yang kuat secara emosional maupun estetis,” katanya.

Gelaran dramatari ini merupakan kolaborasi Javayo Production sebagai penggagas dan penyelenggara utama, bersama Hanoman Art Studio dan Lawu Grup, dengan dukungan dari Djarum Foundation yang selama ini dikenal aktif dalam mendukung pengembangan seni dan budaya di Indonesia.

Danrem 073/Makutarama Kolonel Arm Ezra Nathanael mengawali sambutannya lebih dulu membacakan dua pantun. Setelah itu tidak lupa mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri untuk masyarakat dan terkhusus kepada seluruh penonton beserta tamu undangan.

“Dramatari Babad Benteng Willem I Ambarawa ini, bukanlah sekadar tontonan pada umumnya. Namun, dramatari ini menceritakan perjalanan waktu Benteng Fort Willem I ini. Benteng ini menjadi saksi bisu kolonial Belanda di Tanah Jawa dan terkhusus di Ambarawa ini. Dari Benteng inilah muncul sosok Pangeran Diponegoro, yang perjuangannya layak untuk menjadi teladan bagi kita semua,” ujar Kolonel Arm Ezra Nathanael, dalam sambutannya.

Hadir dalam acara tersebut Bupati Semarang H. Ngesti Nugraha, Danrem 073/Makutarama Kolonel Arm Ezra Nathanael, Dandim 0714/Salatiga Letkol Kav Fajar Hapsari Nugroho, Kapolres Semarang AKBP Ratna Quratul Ainy, Kepala Dinas Pariwisata Kab Semarang Wiwin S., Forkopincam Ambarawa, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

PergelaranDramatari Babad Benteng Willem I Ambarawa ini dihadiri tidak kurang tujuh ratus orang dari berbagai daerah di Kabupaten Semarang.

Sementara itu, beberapa penonton sangat senang melihat pertunjukan dramatari ini, yang benar-benar digarap secara apik dan tertata. Selain itu, alur ceritanya pun bagus. Harapannya, dramatari ini dapat digelar secara rutin dan menampilkan komunitas seni budaya yang ada di Kabupaten Semarang secara bergantian.

“Kami sangat senang dan bangga dengan sajian dramatari Babad Benteng Willem I Ambarawa ini. Harapannya, dramatari ini dapat digelar secara rutin dan dapat pula menampilkan kelompok-kelompok seni budaya yang ada di Kabupaten Semarang secara bergantian. Atau juga bisa dramatari ini dikemas dengan model lain meski tetap berkaitan dengan alur cerita Benteng Willem I ini. Sekali lagi, apresiasi untuk seluruh panitia dan pendukung dramatari ini,” tutur Ibu Retnowati (53) didampingi tiga rekannya sesama pegiat seni asal Kabupaten Magelang.

(Heru Santoso)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *