Oleh: Suyito Basuki *)
Di ruang administrasi universitas, terdapat meja kursi tamu. Meja petugas administrasi, tumpukan map-map absen dosen terdapat di atas meja petugas, siang hari. Bagas setelah selesai mengajar, duduk di kursi ruang tamu. Bercakap-cakap dengan Purnomo pegawai bagian administrasi
“Kok tiba-tiba saja kemarin sore polisi masuk ke kelas. Apakah keadaan demikian genting?” ujar Bagas sambil meletakkan tas yang dia bawa di meja.
“Mungkin Pak, bukankah Polisi tengah gencar-gencarnya memerangi peredaran narkoba?” Purnomo menjawab.
Bagas tersenyum duduk dan memandang Purnomo, pegawai universitas yang seumuran dengannya,”Hebat kamu, pakai istilah ‘memerangi’ segala…”
Purnomo berkata sambil tertawa,“Lho bukankah narkoba itu jahat, makanya perlu diperangi? Jika terlalu diberi peluang, wah bisa runyam kan hidup kita pak?”
“Alaah, kayak tahu saja,” kata Bagas bergurau.
Purnomo tidak mau kalah,”Kan sudah banyak contoh Pak, kayak siapa itu bintang film …Nha itu. Terpaksa berpisah selama berbulan-bulan dengan istri cantiknya karena harus tinggal di kamar prodeo. Padahal artis itu ‘kan kelihatan agamis sekali sebelumnya? Apa artis selalu seperti itu, penampilan ok, tapi dalamnya kropos ya pak?”
Bagas masih menjawab dengan gurauan,”Ah, kamu kebanyakan nonton infotainment di televisi…”
Purnomo garuk-garuk kepala,”Lho Pak Bagas ini gimana to…”
“Iya, iya, saya setuju dengan pendapat situ…’Dah ya, saya pamit mau ke ruang saya dulu,” Bagas menandatangani absensi akademik dan keluar dari ruang administrasi. Di lorong kampus, beberapa mahasiswi buru-buru mendatanginya.
Seorang mahasiswi berkata,”Pak Bagas dapat salam…”
Bagas menjawab,”Dari siapa?”
Mahasiswi itu menjelaskan,”Dari kakakku, Yuni Irmawati.”
Bagas berjalan sambil bertanya,”Oh ya?”
Mahasiswi itu kembali menerangkan,“Katanya dulu teman SMP bapak, sekarang sudah menikah dan kerja di Jakarta.”
Bagas melambaikan tangan,”Iya, salam kembali, wah sory ya saya harus ke kantor dulu.”
Bagas berbelok ke arah perkantoran dosen, mahasiswi-mahasiswi itu meneruskan langkah mereka menuju kantin kampus.
Sebuah konter hand phone (HP). Terdapat meja etalase, di dalamnya dipajang berbagai merek HP dengan berbagai assesorisnya, sore hari. beberapa pemuda berkumpul mengamat-amati HP yang ada di toko, kemudian datanglah Bramasto dengan jeepnya disertai dengan teman-temannya. Bramasto masuk dengan seorang rekannya yang bernama Kapuk.
Penjual HP menyapa akrab,”Hai bosku, gimana nih lama ngga mampir.”
Yang disapa menjawab,”Bisnis kacau, kacau…”
Penjual HP bertanya,”Apanya yang kacau bosku, lancar-lancar saja kan?”
Bramasto sambil duduk di kursi yang tersedia di konter HP itu berkata,”Bayangkan, hobi yang menggairahkan denyut hati…”
Kapuk teman yang menyertai Bramasto bertanya,”Hobi apa itu Bos?”
Bramasto dengan sengit,”Sabung ayam, goblok!” Kapuk nyengir mendengar umpatan yang diarahkan kepadanya.
Penjual HP nimbrung bertanya,”Memangnya kenapa dengan sabung ayam?”
Bramasto berkata dengan memegang jidatnya,”Wah sekarang penggerebekan oleh polisi di mana-mana, hobi kayak gitu ‘ngga bisa dilakukan. Padahal itu ‘kan asyik dan menghasilkan ya?” Semua tertawa.
Penjual HP kembali bertanya,”Eh, barangnya bawa ngga?”
Bramasto menjawab sambil mendekatkan kepalanya,”Sudah baca WA?”
Penjual HP menjawab setengah berbisik,”Sudah, tapi banyak ‘ngga barangnya?”
Bramasto juga berkata berbisik,”Cukup, cukup, mana konsumenmu?”
Penjual menunjuk orang-orang yang berada di dalam konter HP,”Tuh 6 orang.”
Bramasto mengambil sesuatu dari tas cangklongnya, memberikannya kepada penjual HP,”Nih barangnya, hati-hati membagikannya. Tapi uang harus segera ditransfer ya?” Bramasto menyodorkan satu bungkusan dengan isi lintingan-lintingan.
Tiba-tiba ada seorang bapak muda dengan 2 orang anak kecilnya, menyeruak ke Konter HP, sepertinya mencari-cari sesuatu.
Penjual HP segera bertanya,”Cari HP baru atau second Pak?”
Bapak muda tadi menjawab,”Anu, mau cari baterai untuk HP ini.” Bapak muda tadi menunjukkan HP selular keluaran lama.
Penjual dengan sigap melayani,”Ada Pak, ini…”
Bapak muda merasa senang, bertanya,”O ya, berapa harganya ini?”Bapak muda mengamat-amati baterai, sesekali mengedarkan pandangan ke orang-orang sekitar yang seolah-olah sibuk dengan mengamati barang-barang di konter HP itu.
Bapak muda kembali bertanya,”Berapa harganya?”
Penjual HP menjawab,”40 ribu…”
Bapak muda mengacungkan uang Rp. 50.000,- penjual segera menerimanya dan memberi kembalian Rp. 10.000,-. Segera Bapak muda tadi pergi diikuti kedua anaknya, dengan masih disertai tanda tanya dengan suasana konter HP itu.
Bramasto dengan muka bersungut berkata,”Wah, gawat juga transaksi di tempat seperti ini.”
Sambil mengamati kepergian Bapak muda tadi, penjual HP berucap,”Tenang bosku, aman-aman saja, percayalah.”
Bramasto memberi kode kepada rekan-rekannya dengan kepala yang ditolehkan ke kiri kemudian memandang tajam ke penjual HP,”Ok, aku cabut dulu. Jangan lupa segera transfer ke rekeningku, termasuk hutangmu bulan lalu.”
Penjual segera menjawab,”Beres bosku.”
Bramasto pergi meninggalkan Konter HP diikuti rekan-rekannya. Terlihat penjual counter HP segera membagi barang-barangnya kepada keenam orang yang sudah menunggu. Mesin mobil jeep berderu.
(Bersambung)
*) Penulis tinggal di Ambarawa
*) Gambar ilustrasi dari Radar Madiun







