Oleh: Ika Lestari *)
“Silakan dicoba dulu, tidak apa-apa kalau masih salah.” Kalimat itu sering terdengar selama kegiatan EMOTA (Enjoy Math Olimpiads And Take Achievement), program pendampingan Olimpiade Matematika yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Sekilas, kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di balik kalimat tersebut, ada semangat untuk mengingatkan siswa bahwa belajar bukan tentang selalu benar, tetapi tentang berani mencoba. Selama ini, prestasi di ajang OSN (Olimpiade Sains Nasional) sering kali hanya dilihat dari hasil akhirnya. Ketika pengumuman keluar, kita mengetahui siapa yang lolos atau siapa yang menjadi juara. Padahal, jauh sebelum itu ada proses yang panjang. Ada latihan yang dilakukan berulang kali, ada soal yang belum berhasil diselesaikan, dan ada rasa ragu yang harus dikalahkan. Proses inilah yang ingin dibangun melalui EMOTA.
Program ini dilaksanakan selama 12 kali pertemuan dengan melibatkan 27 siswa dari lima SMP di Kota Salatiga sebagai persiapan menghadapi seleksi OSN Matematika. Dalam setiap pertemuan, materi disampaikan oleh dosen, sedangkan mahasiswa berperan sebagai pendamping belajar. Tugas kami bukan mengajar di depan kelas, melainkan menemani siswa ketika berlatih mengerjakan soal, mengamati cara mereka berpikir, serta memberikan petunjuk ketika mereka mulai menemui jalan buntu. Pengalaman mendampingi siswa membuat saya menyadari bahwa setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda. Ada yang cepat memahami materi, ada yang membutuhkan waktu lebih lama, dan ada pula yang sebenarnya sudah mampu menyelesaikan soal, tetapi masih ragu untuk menyampaikan jawabannya. Saat menghadapi situasi seperti itu, kami tidak langsung memberikan jawaban. Kami lebih sering mengajak mereka berdiskusi melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana agar mereka dapat menemukan jawabannya sendiri. Dari proses itu saya belajar bahwa terkadang siswa tidak membutuhkan penjelasan yang lebih panjang. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau menemani mereka berpikir.
Salah satu kegiatan yang paling berkesan adalah ketika latihan dikemas dalam bentuk permainan melalui beberapa pos, yaitu aljabar, geometri, bilangan, serta peluang dan statistika. Setiap kelompok berpindah dari satu pos ke pos lainnya sambil menyelesaikan tantangan yang diberikan. Suasana belajar berubah menjadi lebih hidup. Siswa yang berasal dari sekolah berbeda saling berdiskusi, bertukar strategi, bahkan saling membantu ketika menemukan kesulitan. Antusiasme mereka terlihat jelas, terutama di pos aljabar ketika lembar soal yang telah disiapkan habis karena banyak siswa meminta tantangan tambahan. Momen itu menjadi bukti bahwa matematika dapat terasa menyenangkan ketika siswa diberi ruang untuk aktif mencoba dan belajar bersama.
Semangat belajar tersebut juga tercermin pada hasil program. Evaluasi yang dilakukan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan peserta setelah mengikuti pendampingan. Rata-rata skor peserta meningkat sekitar 28 persen dibandingkan sebelum program dimulai. Selain itu, siswa juga tampak lebih berani mencoba menyelesaikan soal-soal bertipe olimpiade dan lebih percaya diri dalam menyampaikan strategi penyelesaiannya. Kebanggaan tentu semakin bertambah ketika beberapa peserta berhasil melaju ke OSN tingkat provinsi. Namun, bagi saya, keberhasilan EMOTA tidak hanya diukur dari jumlah siswa yang lolos. Lebih dari itu, program ini menghadirkan ruang belajar yang membuat siswa berani bertanya, berani mencoba, dan berani belajar dari kesalahan. Di tengah tuntutan untuk selalu memperoleh hasil terbaik, EMOTA mengingatkan kita bahwa prestasi tidak lahir secara instan. Prestasi tumbuh dari proses yang dijalani dengan tekun, didukung oleh lingkungan belajar yang positif, serta didampingi oleh orang-orang yang percaya bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk berkembang.
*) Penulis Mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga










