SEMARANG, wartaintegritas.com – Bertempat di hotel Siliwangi Semarang, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Assosiasi Pendeta Indonesia (API) Kota Semarang adakan acara yang bertajuk Pendidikan Politik bagi para Hamba Tuhan yang melayani di gereja-gereja di Semarang. Hadir 70 orang hamba Tuhan yang rata-rata adalah pendeta yang mengikuti acara selama dua hari, dari tanggal 11-12 September 2025 yang baru lalu.
Hadir menjadi pembicara dalam seminar adalah Pdt. Dr. Antonius Sartono, S.Pd. yang berbicara perihal Kontribusi Digital dalam Pelayanan Gereja Masa Kini dan Pdt. Brigjen TNI (Purn) Drs. Harsanto Adi, MM.,M.Th dengan bahasan Merawat Keutuhan Bangsa : Kontribusi Gereja di Tengah Pluralitas.
Jangan Diperbudak Teknologi Digital
Pdt. Dr. Antonius Sartono, S.Pd. yang sering dipanggil Pdt. Beton menyampaikan bahwa sejak awal sudah ada teknologi meski dalam bentuk sederhana. “Teknologi dilakukan supaya manusia bertahan hidup,” demikian ujar pendeta sebuah gereja di kawasan Banyumanik Semarang yang sebelumnya selama 10 tahun menjadi manajer sebuah grup Orkes Ken Arok Salatiga. Perintah Tuhan kepada Nuh dalam menghadapi air bah dengan membuat bahtera, menurutnya lebih lanjut adalah menunjukkan hal itu.
“Era sekarang media digital tidak terbendung lagi, semua menggunakan dan senang, semua menjadi mudah dan praktis, semua menjadi keren dan menarik. Jika tidak update maka akan ketinggalan jaman. Yang gaptek pun belajar ikut. Sehingga semua orang fokus pada HP,” demikian urai pensiunan pegawai negeri di instansi Dinas kependidikan di kota Semarang itu.
Oleh karenanya menurutnya, gereja dan Hamba Tuhan mesti harus mengikuti trend sekarang meski masih ada yang ragu-ragu, ada yang sudah berjalan baik dan juga ada yang sudah kebablasan.
“Teknologi digital bagi Hamba Tuhan hendaknya digunakan untuk kebaikan dan memuliakan Tuhan jangan sampai diperbudak sampai lupa ‘siapa kita’, jangan hanya sampai fokus hanya kepada keviralan dan monetisasi. Dengan bermedsos setidaknya ada link yang bisa memberkati,” demikian ujar pendeta yang memiliki banyak pengalaman dalam menggunakan medsos ini.
Fluktuatif serta Kompleksitas Hubungan Gereja dan Negara

Pdt. Brigjen TNI (Purn) Drs. Harsanto Adi, MM.,M.Th pada kesempatan memberikan materi menekankan bahwa NKRI dibangun di atas prinsip-prinsip kesamaan dan kesetaraan. Para bapak pendiri bangsa menurut Ketua Umum API Pusat ini menyadari bahwa Indonesia merupakan negara plural, yang terdiri dari banyak suku, bahasa, keyakinan dan agama. Oleh karena itu para pendiri bangsa menurutnya sadar bahwa di dalam semangat itu, Pancasila merupakan jawaban final yang mampu mengakomodasi perbedaan dan keberagamanitu.
“UUD 45 dibuat untuk mengakui peranan negara yang menjamin kebebasan berserikat dan berkumpul yang termaktub di dalamnya kewaijiban negarauntuk melindungi dan memastikan setiap warga negara Indonesia menjalankan kewajibannya’” demikian urainya terkait dasar hukum negara.
Terkait dengan dinamika hubungan negara dan gereja. Harsanto Adi yang menggembalakan sebuah gereja di Jakarta ini melihat bahwa hubungan gereja dan negara di Indonesia diwarnai oleh dinamika yang kompleks, mencerminkan keberagaman agama dan ideologi yang ada.
“Secara umum, hubungan ini didasarkan pada prinsip negara Pancasila yang mengakui kebebasan beragama namun juga menempatkan negara pada posisi yang netral dan menjamin kerukunan antarumat beragama,” demikian jelas jendral purnawirawan yang memiliki berbagai pengalaman di bidang kemiliteran dan kebangsaan ini.

Menurutnya lebih lanjut, gereja-gereja di Indonesia baik Katolik maupun Protestan, memiliki sejarah panjang dan peran penting dalam masyarakat, termasuk dalam bidang pendidikan, pelayanan sosial, dan pembangunan karakter bangsa.
“Hubungan gereja dan negara mengalami fluktuatif dan kompleksitas sebagaimana faktor-faktor politik, sosial dan agama begitu kuat terlibat,” tegasnya.
Promosi Toleransi dan Kerukunan
Saat berbicara terkait dengan apa yang dapat dilakukan gereja di masa kini, Harsanto Adi memberi arahan bahwa menurutnya gereja dapat menjadi agen perubahan dalam mempromosikan toleransi dan penghargaan terhadap perubahan.
“Gereja dapat menyelenggarakan dialog antaragama dan kegiatan bersama yang dapat membantu membangun pemahaman dan kerja sama antarkelompok yang berbeda. Dengan demikian gereja dapat memberikan contoh bagaimana hidup berdampingan secara harmonis dalam keberagaman,” demikian ujarnya.

Terkait dengan peran dalam penguatan kesatuan dan persatuan, Harsanto Adi berpendapat bahwa gereja dapat menjadi pusat perjumpaan kegiatan yang bertujuan mempertemukan berbagai kegiatan yang bertujuan mempertemukan berbagai kelompok dlam masyarakat
“Gereja terlibat dalam kegiatan bersama seperti jalan santai kebhinekaan, diskusi lintas agama, dan proyek perdamaian yang dapat memperkuat rasa persatuan dan kesatuan. Gereja dapat menjadi contoh bagaimana hidup bersama dalam keragaman, menghargai perbedaan, dan saling menghormati,” demikian jelasnya.
Pandai Berpolitik
Tri Maria Mangesti, SE anggota DPRD Provinsi Jateng yang hadir dalam pembukaan menyampaikan keprihatinannya atas demo yang baru saja berlalu, khususnya di kantor DPRD Provinsi.

“Saya prihatin melihat bangsa kita yang mudah terprovokasi. Kemudian yang terjadi, hal yang jelek menjadi hal yang biasa, lalu modelnya seperti hukum rimba,” demikian Tri Maria Mangesti memulai uraiannya. Terhadap dunia medsos ia mengakui medsos sangat berpengaruh, sementara menurutnya kebenaran medsos menurutnya 80 prosen, oleh karena itu para pemakai medsos harus pandai menyaring informasi.
Dia berharap para pendeta memiliki peran Pendeta menggembalakan jemaat pada masa sulit seperti sekarang ini.
“Dalam situasi seperti sekarang ini dimana hati seolah tidak lagi berarti. Pendeta dapat mengajarkan iman supaya jemaat takut akan Tuhan. Pendeta sebagai gembala jemaat hendaknya mengambil bagian masing-masing sehingga pemuda, anak-anak diberi kegiatan yang positif,” demikian harapnya.
Tri Maria menyampaikan bahwa pada masa lalu pendeta alergi terhadap pendidikan politik. “Sekarang hal itu jangan terjadi. Pendeta hendaknya pandai dalam politik bukan meski tidak harus menjadi politikus,” demikian pungkasnya penuh harap.
Membangun Bangsa dengan Iman dan Tindakan

Dengan mengambil nas renungan Nehemia 2:17-18 dan sejarah perjuangan Martin Luther King Jr. seorang pendeta Baptis, teolog, dan pemimpin gerakan hak-hak sipil di Amerika Serikat pada tahun 1950–1960-an yang dikenal dunia sebagai ikon perjuangan melawan rasisme dan diskriminasi dengan jalan non-kekerasan (non-violence) dan ketidaktaatan sipil (civil disobedience), Pdt. Dr. Samuel Basri H, dalam ibadah pembukaan di acara API tersebut mengajak para peserta acara untuk menjadi Nehemia zaman ini yang melihat reruntuhan bangsa, tidak apatis, melainkan membawa harapan dan pemulihan.
“Mari kita membentuk jemaat yang peduli bangsa, mendidik umat agar tidak hanya menjadi Kristen baik di gereja, tetapi juga warga negara yang bertanggung jawab, terlibat dalam politik kebangsaan secara positif. Ini bukan berarti semua gembala jadi politisi, tetapi semua gembala bertugas menolong jemaat agar berani hadir sebagai garam dan terang dalam birokrasi, pemerintahan, pendidikan, dan kehidupan publik,” demikian tegas pendeta yang menggembalakan sebuah gereja di kawasan Citarum Semarang ini.
Oleh: Suyito Basuki dan Kumara











Tks Pdt. Suyito Basuki M.Th unt aktifitas API diliput di wartaintegritas.com
Sama-sama pak, sangat memberkati, GBU
Bagus dan bisa mengisi cara pandang orang kristen di indonesia yg berbineka tunggal ika ini
Terimakasih pak, GBU