Oleh: Suyito Basuki *)
Ketika Yesus berkata, “Tetelestai…” yang berarti “sudah selesai” sebagaimana yang direkam oleh Rasul Yohanes dalam Injil Yohanes 19:30, maka sudah pari purnalah tugas Yesus sebagai manusia di dunia ini. Yesus sebagaimana yang dituliskan oleh penulis keempat Injil mengalami kematian sebagai mana yang telah dinubuatkan oleh para nabi demi penebusan dosa manusia yang papa dan hina. Kejadian memang tidak berhenti pada bagian itu saja, tetapi scene berlanjut dengan peristiwa tiga hari kemudian yakni kebangkitan Yesus dari kematian. Kebangkitan yang kemudian diperingati dengan peringatan paskah ini memberi kegembiraan bagi para pengikut-Nya hingga hari ini.
Memang tidak dapat dipungkiri, kematian Yesus, pada hari Jumat Agung itu menorehkan kesedihan bagi para murid-Nya pada waktu itu dan tentunya bagi pengikut-Nya pada hari ini. Ekspresi kesedihan itu bermacam-macam. Subroto Sm seorang pelukis senior Jogja, kelahiran Klaten ini menorehkan kuasnya pada sebuah kanvas. Lahir kemudian dua buah lukisannya. Yang kemudian ia beri jurul “Penyaliban”. Lukisan “Penyaliban” pertama, ia selesaikan di tahun 2002, dengan menggunakan cat akrilik di kanvas, 90x70cm. Saat ini lukisan tersebut dikoleksi Irjenpol Suwondo Nainggolan yang pernah menjadi Kapolda DIY pada masanya.

Berikut kisah proses kreatif, sebagaimana yang Subroto Sm tuturkan terkait dengan lukisan tersebut:
“Pada suatu hari dalam minggu-minggu prapaskah saya tergerak untuk melukiskan Penyaliban Yesus. Lukisan tentang penyaliban Yesus sudah banyak dilukiskan para seniman dalam berbagai bentuk dan gaya. Namun saya punya obsesi bagaimana melukiskan penyaliban Yesus dalam bentuk yang unik atau khas. Hal ini karena saya memegang prinsip bahwa pada hakikatnya seni adalah hasil karya manusia yang bersifat unik.”
“Setelah melakukan kajian visual pada beberapa lukisan penyaliban khususnya karya para maestro seni lukis barat, dan juga membaca beberapa ayat-ayat yang terkait dalam alkitab, saya menetapkan Ide: melukiskan kesan tragis dramatis ekspresi wajah Kristus saat menyerahkan diri ke hadapan Allah yang mengatakan: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku” (Lukas 23:46)
“Dalam gaya ekspresionistik saya lukiskan raut wajah Yesus secara close up dalam bentuk yang esensial, dengan mengutamakan kekuatan garis. Untuk mengeskpresikan suasana sedih dan dramatis saya pilih perpaduan warna-warna biru, ungu, dan hitam.”
Secara pribadi, Subroto meyakini bahwa baginya lukisan tersebut sebuah berkah Allah. Dengan kata lain obsesi untuk menciptakan lukisan penyaliban Yesus yang unik mampu ia ciptakan. Ia memberikan catatan-catatan menarik di balik proses kreatifnya. Berikut catatannya:

“Pertama: saya biasa melukis secara spontan, sehingga pasti ada satu dua kanvas yang gagal. Namun uniknya lukisan Penyaliban 2002 ini sekali jadi, berhasil selesai dalam waktu 15-20 menit.”
“Kedua: penampilan close-up ekspresi wajah Yesus, mahkota duri, dan gestur bentangan dua lengan, tanpa kayu salib mampu menampilkan bentuk esensial, sebagai representasi Yesus yang disalib.”
“Ketiga: kekuatan dan esensi garis tampil efektif dan efisien dilengkapi pilihan kombinasi warna biru, ungu, dan hitam menciptakan kesan tragis dramatis.”
“Keempat: goresan garis Halo/Nimbus pd kepala Yesus tampak tidak utuh, karena cat habis. Secara kebetulan hal ini bukanlah kesalahan, melainkan sebagai berkah karena, bentuk nimbus menjadi bagus dan menyatu dengan kepala Yesus,” demikian ujarnya.
Sekilas tentang Pelukis Subroto Sm, ia Lahir di Klaten, Jawa Tengah, 23 Maret 1946. Tahun 1975 lulus sarjana Jurusan Seni Lukis STSRI “ASRI” Yogyakarta; 1975-1977 belajar keramik di Tokyo Gakugei University, Jepang; 1999 lulus Magister Humaniora UGM Yogyakarta. Pada tahun 1969-2011 mengajar di STSRI “ASRI”/ Fak Seni Rupa (FSR); FSMR; Pascasarjana ISI Yogyakarta. Sejak 1967 sampai saat ini aktif berkarya dan mengikuti pameran seni rupa kelompok di dalam dan di luar negeri. Alamat rumah: Jl. Suryodiningratan 68 Yogyakarta, 55141.
Pengalaman pameran tunggal ia lakukan. Tahun 1984: di Bentara Budaya, Yogyakarta, tahun 2002: di Galeri Milenium, Jakarta dan tahun 2022: di Kiniko Art, Yogyakarta.
Beberapa pengalaman pameran bersama antara lain Pameran Seni Rupa WASKITA SENI, menampilkankarya 17 orang mantan dosen ASRI/FSR ISI Yogyakarta, di Galeri Indieart House, Jalan As Samawaat no 99, Bekelan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, 17 Agustus – 4 September 2022. Pameran Seni Rupa Seni Agawe Santosa ,hasil karya 44 perupa Indonesiadi Galeri Semarang, 9 Februari – 9 Maret 2023. Pameran Bersama 100 Seniman Nguntapke Djokopekik, di Bentara Budaya Yogyakata. 22-28 November 2023. Pameran Seni Rupa Peace & Harmony, di Benteng Vredeburg, Yogyakarta, 19 – 2 Januari, 2024. Dan Pameran Seni Rupa Peringatan UUK DIY 2024, di Museum Sonobudyo, Yogyakarta, 12 – 30 Agustus, 2024 (131 perupa).
(Nantikan lanjutannya)
*) Penulis tinggal di Ambarawa










