Pemimpin Cerdas, Penguasa Culas, dan Rakyat Tertindas

Opini, Politik267 Dilihat

Oleh: Xavier Quentin Pranata*)

SURABAYA, wartaintegritas.com – Di saat merenungkan sikon gonjang-ganjing yang terjadi di planet bumi ini, saat para pemimpin negara saling ancam, pelanduk di tengah macam Indonesialah yang jadi korban utama. Meskipun ‘say hello negotiation’ antara Trump-Prabowo dan Xi Jinping-Prabowo sedikit meringankan, bayang-bayang Indonesia Cemas masih saja membuat kita lemas. Jika Indonesia terinjak, sebagai rakyat jelata, saya pun ikut terpijak. Ketika merenungkan hal itu, tiba-tiba saya teringat novel klasik yang pernah saya baca saat ambil mata kuliah ‘Western Civilization and Culture’ untuk jenjang Bachelor of Art in English Literature yang berjudul Animal Farm karya George Orwell.

Saat membaca visi founding father beberapa negara, saya dibuat kagum dengan pandangan mereka yang jauh ke depan, mementingkan kejahteraan negara dan rakyat di atas kepentingan mereka sendiri dan golongan. Saya tidak punya preferensi khusus terhadap negara tertentu,  meskipun dalam hati, nasionalisme saya berteriak agar cita-cita pendiri bangsa Indonesia bisa terwujud, salah satunya ‘kesatuan Indonesia’. Saya kagum dengan visi ini karena Indonesia terdiri dari banyak sekali pulau, suku, agama, ras dan antargolonngan sehingga rentang gesekan yang jika tidak dimitigasi dengan baik menimbulkan percik api yang membakar negara besar ini. Mari kita simak butir-butir kebijaksanaan dari novel klasik Animal Farm yang masih dan tetap relevan di zaman now. Cerita ringkasnya bisa dibagi menjadi tiga babak. Babak pertama adalah visi sang pendiri.

Impian Sang Pendiri

Old Major, babi pemenang penghargaan bergengsi, mengumpulkan para binatang di Animal Farm untuk menceritakan mimpi besarnya. Dia ingin agar binatang yang tinggal di peternakan itu bebas dari penindasan manusia. Tentu saja diperlukan kerja keras untuk mencapai visi besar itu. Agar menimbulkan kesan grande, dia mengajarkan mereka lagu berjudul ‘Beast of England’ yang menjadi pengobar dan penggedor semangat perjuangan mereka.

Antusiasme tanpa tindakan konkret akan menguap begitu saja. Itu sebabnya tiga pemimpin babi—Snowball, Napoleon, dan Squealer—merumuskan impian besar itu dalam tindakan yang bisa dilakukan dengan filosofi bernama Animalisme. Berkat soliditas para binatang itu, mereka berhasil mengusir Tuan Jones dari peternakan itu. Kuda penarik kereta bernama Boxer, menjadi pelopor dan penggerakan tekad “Aku akan bekerja lebih keras” untuk mempertahakan peternakan itu.

Mengajar Pengajar Agar Tidak Salah Ujar

Babak kedua di Animal Farm dimulai dengan aktivitas mengisi kemerdekaan dengan peningkatan SDM. Snowball memulai gerakan literasi untuk memberantas buta huruf sedangkan Napoleon mengajar sekelompok anjing untuk menjadi ‘tentara dan polisi’ yang bertugas membela negara dan ketertiban negara Peternakan Binatang itu. Di saat tenang seperti itu, Tuan Jones merangsek kembali dan merebut peternakan itu di dalam  pertempuran bernama the Battle of the Cowshed.

Lebih tragisnya, para pemimpin mengabaikan lawan di luar itu dan mulai bertengkar sendiri. Snowball ingin mendirikan pembangkit listrik tenaga angin, namun ditolak oleh Napoleon. Sebaliknya, Napoleon mendidik anjing-anjing untuk menyerang Snowball. Saat Napoleon memimpin, dia mengeluarkan perintah bernada diktator yaitu tidak boleh ada pertemuan. Dimulailah era di mana apa pun yang dikatakan dan dilakukan pemimpin dianggap sebagai Sabda Pandita Ratu yang tidak boleh diubah atau diingkari. Kalau benar tidak apa-apa. Kalau salah?

Meskipun akhirnya Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLTA)  itu berhasil dibangun, ternyata badai merobohkannya. Alih-alih memperbaikinya, Napoleon mengkambinghitamkan Snowball yang dituduh penyebab ambruknya PLTA itu. Lewat tangan kanannya, Boxer, yang membawahi anjing-anjing penjaga (baca = penyerang) Snowball berhasil disingkirkan. Bagi Boxer  yang menganut kepercayaan ‘Napoleon is always right’, apa pun sabdanya, dituruti tanpa nalar logis dan berpihak pada hati nurani. Dengan perlindungan dari Boxer inilah Napoleon menulis ulang sejarah.

Antara Beradab dan Biadab

Babak ketiga dibuka dengan munculnya seorang tetangga bernama Frederick dan menghancurkan PLTA. Napoleon yang haus kekuasaan dan pecandu alkohol rela menjual anak buahnya yang paling setia kepada pembuat lem dan uangnya dipakai untuk mabuk-mabukan. Janjinya untuk agar binatang bisa setara dengan manusia sudah terlupakan karena mabuk miras dan kekuasaan.

Tahun-tahun berlalu. Semakin hari para babi penguasa itu mengadopsi perilaku manusia yang jahat dan haus kekuasaan. Babi-babi itu berjalan tegak, memakai pakaian dan membawa cambuk. Di satu sisi mereka ‘makin beradab’ namun di sisi lain mereka memakai cambuk dan menjadi penguasa diktator yang biadab. Hewan di peternakan itu jadi tidak bisa membedakan mana manusia, mana babi.

Pemimpin korup dan diktator itu menerapkan tujuh prinsip Animalisme, yang dikenal sebagai Tujuh Perintah dan tertulis di sisi lumbung. Intinya, “semua hewan setara, tetapi beberapa hewan lebih setara daripada yang lain.” Ada jarak dan jurang yang lebar dan dalam antara penguasa dan rakyat jelata. Yang membela—pada saat itu belum ada istilah Buzer,  yang ada Boxer—mereka pelihara, yang membangkang mereka tendang. Sangat akrab bagi kita kan?

Novel yang ditulis antara November 1943 dan Februari 1944 serta diterbitkan pada 17 Agustus 1945. Tanggal penerbitan yang membuat saya ‘merinding’ ini makin mengukuhkan bahwa setiap karya sastra punyai nilai besar untuk dijadikan bahan ajar dan perenungan agar kita bisa memiliki bangsa yang besar tanpa dicabik-cabik oleh kuku sang penindas bermulut manis berhati gragas (Jawa = rakus).

Payung yang Teduh dan Membuat Guyub

Baru saja kita ‘selesai’ merayakan HUT RI yang ke-80, namun PR kedepan jauh lebih berarti. Belajar dari Animal Farm, marilah kita ingat kembali peringatan Bung Karno.

Pertama, dengan bersatu kita bisa mengalahkan penjajah. Biarlah “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh’ benar-benar melekat di seluruh diri kita, bukan hanya slogan di mulut. Mari kita introspeksi. Apakah pikiran, sikap, ucapan dan tindakan kita selama ini ‘set up’ atau justru ‘upset’ Indonesia yang sudah kita bangun bersama? Saat diundang bicara di New York, saya sengaja mengunjungi 9/11 Memorial, Ground Zero, New York. Bekas menara kembar yang hancur diterjang pesawat, di tengahnya ada lubang besar dengan air yang mengalir masuk tanpa henti, mengingatkan saya saat ‘melihat’ Black Hole di sebuah museum di Seattle. Ngeri. Miris. Di sepanjang dinding dari granit hitam itu terpahat nama-nama mereka yang terbunuh saat itu. Suasana yang mencekam itu membuat saya melakukan introspeksi betapa dahsyatnya kerusakan yang ditimbulkan oleh percikan api perpecahan!

Kedua, “Trials teach us what we are; they dig up the soil, and let us see what we are made of,” ujar Charles Spurgeon. Rohaniwan yang saleh ini mengingatkan kita bahwa ujian justru membongkar bangkir tanah dan memperlihatkan siapa kita sebenarnya. Bisa jadi kita menghadapi ujian kekurangan, namun seringkali orang yang menang melawan penderitaan justru jatuh saat berada di puncak kekuasaan dan merasakan kenikmatan. Ingat, pencobaan dari Iblis ingin menghancurkan kita dan membuat kita down grade. Namun, ujian dari Tuhan membuat kita level up.

Ketiga, akhirnya apa yang dikatakan William Whewell bisa jadikan insight saat menghadapi setiap pencobaan, ujian dan rintangan. Polymath—orang yang menguasai banyak bidang ilmu—asal Inggris ini berkata, “Every failure is a step to success. Every detection of what is false directs us towards what is true: every trial exhausts some tempting form of error.” “Setiap kegagalan adalah langkah menuju kesuksesan.  Setiap deteksi kepalsuan mengarahkan kita kepada kebenaran: setiap percobaan menguras habis beberapa bentuk kesalahan yang menggoda.”  Saya sangat setuju! Anda?

*) Xavier Quentin Pranata, kolumnis di beberapa media aras utama dan penulis buku, terutama di bidang HRD.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *