Oleh: Suyito Basuki *)
SALATIGA, wartaintegritas.com – Dalam ngelmu Jawa ada istilah “katuranggan”. Katuranggan itu membahas bentuk fisik seseorang atau makhluk hidup yang dari bentuk fisik itu akan nampak sifat-sifatnya. Sehingga katuranggan yang secara umum dikatakan jelek, maka biasanya menampakkan sifat-sifatnya yang tidak bagus. Namun ternyata tidak selamanya seperti itu. Ternyata dalam Serat Tri Pama karya KGPA Mangkunegara IV dikisahkan seorang tokoh yang menurut ngelmu katuranggan tadi “nggegirisi” tetapi ternyata memiliki sifat-sifat yang “nyatriani” atau berperilaku sebagaimana watak seorang ksatria. Dialah Kumbarna!
Kumbakarna adalah adik dari Prabu Rahwana. Kumbakarna berbadan besar, dan terlahir sebagai raksasa. Namun meski demikian, hatinya baik, melebihi kebaikan hati seorang manusia. Kumbakarna tidak setuju dengan perilaku kakaknya yang menculik Dewi Shinta istri dari Prabu Rama. Sehingga sebagai protes, Kumbakarna pergi meninggalkan kerajaan Alengka untuk bertapa.

Saat peperangan terjadi, maka Prabu Rahwana membangunkan Kumbakarna dari pertapaannya. Prabu Rahwana meminta supaya Kumbakarna menjadi panglima perang bagi kerajaan Alengka. Dalam hati sebenarnya Kumbakarna tidak setuju dengan peperangan yang terjadi akibat ulah angkara murka kakaknya. Tetapi setelah didesak oleh kakaknya dengan mendeskripsikan potensi kehancuran kerajaan Alengka akibat kemungkinan kekalahan yang diderita, maka timbulah semangat juang Kumbakarna untuk membela negaranya, meski sebenarnya sangat jahat para pemimpinnya. Meski Kumbakarna sempat berjaya di peperangan, tetapi akhirnya kalah dan matilah dia sebagai pahlawan di medan laga.

Pelajaran yang mau disampaikan oleh KGPA Mangkunegara IV dengan mengambil tokoh Kumbakarna sebagai teladan heroik adalah keinginan Kumbakarna dalam membela negara, tidak masalah dengan baik buruknya negara. Dalam bahasa Inggris ada istilah “Right or wrong is my country”! Dalam masa seperti sekarang ini memang sangat menyenangkan para pejabatnya jika ada banyak warga negara yang membela negaranya meski negara penuh dengan pejabat yang korup dan menyengsarakan rakyat. Hal ini adalah sebuah peluang majunya sebuah negara. Seharusnyalah negara kemudian mengimbanginya dengan memberi kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakatnya, serta perbuatan korup haruslah dibasmi segera.
*) Penulis tinggal di Ambarawa
















