Oleh: Erna Widyaningsih *)
Kebetulan pengusaha es lilin di daerah kami belum banyak. Makanya banyak pedagang yang berjualan di sekolah-sekolah TK, SD atau SMP terdekat dari rumah kami, selalu mengambil dagangan es lilin buatan ibu.
Kalau musim kemarau, es lilin ibu bertambah laris terjual. Di siang hari, para pedagang es lilin ibu sering datang lagi karena stok dagangan es lilin mereka sudah keburu habis terjual.
Setiap pulang sekolah sewaktu aku SMA, aku lebih sering membantu ibuku. Aku membungkusi es lilin memakai plastik dan memasukkan ke kulkas. Lalu esuk hari, es lilin itu sudah jadi. Bapak pun seringkali kulihat membantu usaha ibu. Sebelum berangkat ke kantor, bapak menghantarkan es lilin ke tempat pedagang di sekolah-sekolah. Begitulah kegiatan rutin keluargaku, setiap hari.
Ketika aku sudah kuliah, aku membantu membungkusi es lilin hanya waktu liburan saja. Pada hari-hari biasa, ibuku yang membungkusi es lilin sendirian, sedangkan bapak yang mengantarkan es lilin ke para pedagang.
Pernah aku sarankan agar ibu mencari pegawai untuk membantu.
“Nggak usah, ibu masih mampu kerja sendiri. Lagian ini kan hanya untuk tambah – tambah penghasilan. Ibu tidak ngoyo kok”. Begitulah selalu jawaban ibu. Dia tidak mau dibantu oleh asisten rumah tangga.
———
Pagi yang cerah, aku biasa bangun pagi untuk membantu ibu menyapu dan bersih – bersih halaman rumah. Tak terasa sudah jam 09.00. Waktu itu aku mau mencuci pakaian. Ibu memanggilku.
“Lia, itu ada pak pos ngantar surat, tolong kamu ambil dulu! “, suara ibu dari dapur.
”Ya, bu”
Aku bergegas ke luar menemui pak pos.
”Ini surat untuk mbak Lia”, kata pak pos sambil menyodorkan sepucuk surat untukku. Dari siapakah? Kubaca pengirimnya ternyata dari kampusku. Kenapa hati ini jadi berdebar ya, ada apa ini, apa yang akan terjadi.
Tak sabar kubuka surat itu. Kubaca dengan teliti. Ternyata apa yang kutunggu – tunggu dan yang sangat kuharapkan datang juga. Itu surat pemberitahuan kalau aku diterima jadi guru negeri untuk ditempatkan di suatu daerah di Yogyakarta. Hatiku bersorak. Aku senang sekali. Segera kuberitahu kabar gembira ini pada ibu dan bapakku.
“Ditempatkan di mana Lia”, bapak mendekatiku sambil menerima surat yang kusodorkan. Bapak membaca suratku, tersenyum dan mengucap selamat kepadaku. Ibuku juga begitu, aku dipeluknya sebentar.
Rasanya aku mau menangis, tertawa, gembira, dan sedih bercampur aduk. Berulang – ulang kubaca surat panggilan itu. Surat yang berisi pesan bahwa aku diangkat jadi CPNS, dan ditempatkan di Gunungkidul Yogyakarta.
Rasanya seperti mimpi, yang kutunggu – tunggu akhirnya datang juga. Aku bersyukur karena bisa ditempatkan di Yogyakarta meski di desa yang jauh dari kota. Padahal biasanya kakak kelasku yang terdahulu penempatannya di Papua Barat atau Timor Timur. Tak henti – hentinya aku mengucapkan syukur. Terimakasih, Tuhan.
Mas Hans tunanganku kuberitahu kabar gembira ini. Dia sangat senang mendengarnya. Sepulang kerja Mas Hans menjemputku untuk menemui bapak ibunya mas Hans. Mereka juga harus tahu kabar ini. Kebetulan bapak ibunya mas Hans, dua – duanya juga guru.
“ Pak, bu , ini ada surat dari kampus tentang penempatan Lia “, sambil kusodorkan surat ke bapak dan ibunya Mas Hans setelah aku duduk di ruang tamu. Setelah beliau membaca penempatanku ”Gunungkidul”, bapaknya mas Hans langsung mencari peta. Beliau seperti penasaran. Beliau ingin tahu persis tempat kelak dimana aku bekerja. Bapak mas Hans serius sekali mencari lokasi di peta. Dibentangkannya peta di atas meja dan dicari lokasi calon tempat kerjaku.
“Lia, di peta ternyata tidak ada jalan penghubung antara desa dan kota. Berarti ini daerah terpencil. Bagaimana kamu nanti di sana?”, suara bapaknya mas Hans seperti khawatir.
Sebetulnya ibu mas Hans tak kurang panik. Beliau kebetulan guru geografi jadi tahu betul lokasi yang akan ku tuju di peta. Tetapi ibu berusaha tetap tenang.
”Kita cari dulu tempatnya, besuk ditinjau dulu saja, dilihat lokasinya”, suara ibu kalem menyejukkan hatiku. Kesabaran ibu mas Hans menenangkanku. Beliau bijaksana sekali, tahu kegundahan hatiku.
Keesokan hari aku pergi ke Gunungkidul Yogyakarta untuk melihat lokasi penempatanku diantar mas Hans.
“Gimana Wuk (panggilan sayang untukku), kita langsung ke lokasi sekolahan atau ke kampusmu dulu?”
Mas Hans minta pendapatku.
” Kita ke sekolahan penempatanku dulu saja”, sahutku.
Setelah keliling tanya sana sini ketemulah sekolahan yang kutuju. Ternyata ya Tuhan, itu suatu desa terpencil. Suatu daerah pelosok. Daerah dimana belum ada penerangan listrik. Berarti aku harus mencari kost di dekat sekolah dan membiasakan diri tanpa listrik.
Transportasi dari kota ke desa itu juga masih jarang. Kalau pun ada itu terbatas. Ada bus kecil untuk bisa sampai di desa itu. Jalanan naik dan berbelok – belok dan harus melewati bukit – bukit berbatu; juga hamparan sawah yang ditanami pohon ketela pada musim kemarau dan padi kalau musim penghujan.
(Bersambung)
*) Penulis Guru Mapel Fisika SMAN 1 Ambarawa








