Oleh: Erna Widyaningsih *)
2. Hidup Bersamamu
Sudah setengah tahun aku mengajar jadi guru di daerah terpencil. Hubunganku dengan mas Hans terus berlanjut. Seminggu sekali kami bertemu. Suatu hari mas Hans meminangku di hadapan kedua orangtuaku. Gembiranya hatiku, karena orangtua kami menyetujui kami untuk menikah. Waktu itu berbarengan dengan liburan sekolah, aku melangsungkan pernikahan dengan mas Hans. Dengan upacara adat Jawa, aku resmi menjadi istri mas Hans. Bahagianya aku, Tuhan.
Teman – teman sekantorku aku undang, agar ikut merasakan kebahagiaanku. Mereka meluangkan waktu dari Yogyakarta menuju ke Semarang tempatku merayakan pernikahan kami.
Masa berbulan madu kami hanya sebentar. Beberapa hari setelah masa cutiku habis, aku harus pergi kembali bekerja ke Yogya. Karena mas Hans kerja di Semarang dan aku di Yogya, maka kami untuk sementara waktu harus hidup sendiri – sendiri. Kadangkala kami bertemu. Setiap Sabtu aku yang pulang atau mas Hans yang ke tempat kostku.
Sebulan berlalu, tak terasa aku sudah terlambat datang bulan. Seiring berjalan waktu aku sudah hamil anakku yang pertama.
“Mas, kalau nanti aku hamil dan melahirkan aku tidak mau sakit”, kataku waktu itu.
“Yah gak papa, nanti anak pertama kita aku yang sakit pun gak masalah”, bisik mas Hans mesra di telingaku.
Hmm, kubayangkan alangkah bahagianya punya momongan. Bayi mungil hasil cinta kami. Dia pasti akan menambah semaraknya kehidupan rumah tangga kami berdua.
Kami sering bercanda. Mas Hans suamiku orangnya kalem, suka humor, bisa akrab dengan siapa saja, baik orangtua, muda atau anak kecil. Itu yang membuatku tertarik dan merasa aman, nyaman berada di dekatnya. Bersama mas Hans aku bahagia.
Karena tidak mau jauh dariku, dan ingin selalu bersamaku, mas Hans melepas pekerjaannya di Semarang. Padahal waktu itu dia sudah dapat kedudukan supervisor enginering. Mas Hans pindah bekerja di Yogya membuka usaha sendiri, berwiraswasta.
Dan kami pun mengontrak rumah di pinggir kota Yogya. Aku tidak kost lagi. Sekarang aku sudah tidak sendiri lagi, aku sudah ada yang menemani, mendampingi.
Selama aku hamil, beberapa kali aku pergoki suamiku merasa mual, lesu, dan suka buah – buahan yang masam, pepaya, atau mangga muda. Ah, seperti orang ngidam saja suamiku ini.
“ Bu, tadi bapak titip supaya dibelikan asam sekilo, untuk apa to, kok banyak sekali ?” bu Titik tetangga depan rumah cerita ketika ku pulang dari sekolah.
“ Maaf bu Titik, saya malah tidak tahu, coba nanti saya tanya mas Hans”, ucapku sambil berlalu menuju rumah.
Di rumah kudapati mas Hans baru tiduran, malas – malasan.
“ Mas, kok sudah pulang, apa gak berangkat kerja to?”, sambil menghampiri mas Hans yang masih terbaring di tempat tidur.
“ Tadi pulang awal, gak tahu nih kok badanku gregesi, mungkin akan sakit”, jawab mas Hans.
“Lha sudah minum obat? Atau kita periksakan ke dokter yuk”, bujukku. Padahal aku tahu mas Hans tidak akan mau, dia sakit apapun tidak mau berobat ke dokter. Maunya diobati obat tradisional atau dibiarkan sampai sembuh sendiri.
“Alergi dokter”, katanya suatu ketika saat sakit kuajak ke dokter tidak mau.
“ Ah, nanti kan sembuh sendiri”, jawab mas Hans sambil mengambil bungkusan yang berisi asam dekat meja dan memakannya.
Kuperhatikan mas Hans dari tadi makan asam dengan enaknya, tanpa rasa ngilu di giginya.
Beberapa hari ini mas Hans agak kurang enak badan. Badannya lemas, lesu, mual dan pingin yang aneh – aneh, yang masam – masam, buah – buahan segar. Sudah kucoba membujuk mas Hans untuk berobat, tapi hanya sia –sia. Mas Hans itu paling sulit kalau diajak ke dokter.
Ketika aku kerja, ternyata mas Hans sering titip pada tetanggaku untuk dibelikan buah – buahan, kadang nanas, mangga, apel, strowberi. Tetanggaku sampai heran, kok yang hamil tenang – tenang saja, tidak pingin ini itu, tapi suaminya malah yang ngidam.
Memang itu kurasakan. Sementara aku yang lagi hamil, malahan tidak mual, rasanya biasa saja, dan tidak ngidam. Kok mas Hans yang ngidam ya? Apa mungkin karena perjanjian kami dulu kapan itu yang sebenarnya hanya gurauan, tapi kini akhirnya jadi kenyataan? Entahlah.
———————–
Si buah hatiku tiba
untuk melukis dan mewarnai
hidup kami berjalan
indah pada waktunya
bagaikan rona
pelangi datang
sehabis hujan
(Bersambung)
*) Penulis Guru Mapel Fisika SMAN 1 Ambarawa






