Novel: Menguak Takdir Menepis Mimpi (5)

Fiksi61 Dilihat

Oleh: Erna Widyaningsih*)

3. Kelahiran Anak Pertama

Semenjak usia kandunganku delapan bulan, aku cuti hamil dan pulang ke Semarang. Bersama mas Hans, aku tinggal di rumah keluarga mas Hans. Alasannya karena rumah ini dekat dengan rumah sakit bersalin dan rumah sakit umum. Sehingga kalau sewaktu – waktu nanti aku akan melahirkan, aku mudah dibawa ke tempat salah satu dari rumah sakit tersebut.

Malam itu, saat mas Hans sedang menyelesaikan pekerjaannya, dan aku sudah beranjak tidur di kamar. Terdengar mas Hans mengaduh kesakitan sambil memegangi perutnya.

”Aduhhh…, perutku sakit, mules….”, erangan suamiku.

Karena mendengar suara gaduh seisi rumah terbangun, termasuk aku. Tapi aku tidak langsung menemui mas Hans di ruang tengah, karena ternyata bajuku basah semua, seperti ngompol. Saat aku hendak ke kamar mandi, ibu melihat bajuku basah semua dan kandunganku turun.

“ Lia, kamu kenapa, kok basah semua? Apa mau melahirkan?”.

“ Mungkin bu, tapi waktunya masih kurang seminggu, dan aku tidak merasakan apa-apa”, jawabku sambil melangkahkan kakiku ke kamar mandi untuk membersihkan badanku yang sudah basah semua seperti ngompol.

Dari kamar mandi, aku masih melihat suamiku kesakitan sambil memegangi perutnya.

“ Mas, kenapa mas, apa yang mas rasakan?” tanyaku cemas sambil jongkok dengan susah payah karena terganjal perut yang buncit.

Kudekati suamiku sambil aku mengelus – elus perutnya yang katanya sakit tak karuan. Suamiku masih memegangi perutnya yang sakit, tapi tampaknya kini sudah tidak sesakit seperti tadi sebelum aku elus.

” Wuk, kita harus ke rumah sakit, kelihatannya kamu akan melahirkan, karena perutku sakit sekali seperti mau melahirkan”, kata mas Hans.

Setelah mempersiapkan beberapa baju yang sudah kumasukkan dalam tas, aku, mas Hans , bapak serta ibu pergi ke rumah sakit bersalin.

Sampai rumah sakit bersalin ternyata benarlah. Setelah diperiksa aku memang sudah waktunya melahirkan. Selang sepuluh menit kemudian terdengar suara tangisan bayi. Proses melahirkan anakku pertama sangat singkat, mudah.

Bapak mertuaku yang tadinya jalan – jalan baru beberapa saat untuk menghilangkan kegelisahan, kejenuhan menunggu, dia berbalik arah menuju tempatku karena mendengar tangisan seorang bayi.

Ternyata bayi mungil sudah kulahirkan dari rahimku. Bersamaan dengan kelahiran bayiku, anehnya saat itu pula perut suamiku tidak terasa sakit lagi. Apa mungkin ini karena perjanjian kami dulu? Meski seperti tak percaya tapi ini bagiku nyata.

Betapa bahagia rasa hati ini, saat dipangkuanku sudah hadir bayi mungil dan cantik. Tak kalah bahagianya adalah bapak dan ibuku, karena ini adalah kali pertama kehadiran cucu pertamanya. Mereka juga ikut sibuk menimang, menggendong, menina bobokan anakku.

—————–

Tak terasa masa cuti hamilku habis. Aku harus kembali bekerja. Karena belum dapat orang yang bisa momong anakku, ibuku ikut ke Yogya. Beberapa waktu ibu mengasuh anakku, sebelum ada asisten rumah tangga. Setelah aku dapat yang momong anakku, maka ibu kembali ke Semarang, karena di Semarang juga ada bapak dan adik – adikku yang juga membutuhkan ibu.

Hari – hariku bersama mas Hans dan anakku sangat bahagia. Anakku mulai tumbuh dan sehat. Kalau aku masuk mengajar dan mas Hans tidak sibuk, anakku diajaknya jalan – jalan ke kebun binatang Gembira Loka, atau ke Taman Pintar, atau ke alun – alun.

“ Adik, dari mana?”, sahutku menyambut kedatangan anak dan suamiku, suatu ketika.

“ Dari jalan – jalan naik dokar”, celoteh anakku. Dan dia mulai asyik cerita kemana saja dia tadi, lihat apa. Pokoknya ceriwis, dia menggemaskan dengan gaya kebocahan .

” Ma, tadi aku naik gajah, tapi agak takut, gajahnya besar, aku sama papa”

“ Lha mama kok tidak diajak to tadi”, jawabku. Lalu kugendong dia.

“ Lha mama kerjanya lama, sampai sore, nanti kalau nunggu mama tempat gajahnya tutup,”celoteh Khaila.

Setelah bercerita banyak banget tentang jalan – jalannya tadi, mungkin karena lelah Khaila tertidur sambil minum susu. Kubiarkan dia tidur dalam gendonganku.

Waktu itu siang yang terik. Mas Hans lalu mengajakku ngobrol di beranda rumah.

“ Wuk, besuk aku ada garapan buat taman di Jakarta. Aku dan anak buahku harus ke sana beberapa hari”, mas Hans cerita.

“ Terus adik nanti dengan siapa, kalau aku tinggal kerja?”, jawabku bingung. Mbak Kustiyah pembantu rumah tanggaku memang tidak pernah tidur di rumah kami. Setiap pagi dia datang sebelum aku berangkat kerja, dan dia pulang beberapa waktu setelah aku pulang kerja. Mas Hans menyarankan aku untuk menemui mbak Kus. Siapa tahu mbak Kus bisa membantu.

“Mbak Kus, selama bapak pergi, mbak Kus nginep di sini ya”, rayuku pada mbak Kus. Aku berharap dia mau untuk sementara waktu menginap di rumahku, nemani aku dan Khaila.

Untung mbak Kus mau.

“ Ya bu, tapi kalau Sabtu saya pulang  ya, kan Minggunya ibu libur”.

“ Ok, boleh”, kataku mengiyakan usul mbak Kustiyah.

Aku lega.

Waktu itu hari Senin, sudah jam setengah tujuh mbak Kus belum muncul. Padahal biasanya jam 6 dia sudah datang. Anakku sudah kumandikan, sudah aku suapi, tinggal menunggu mbak Kus dan aku berangkat kerja.

Hatiku mulai gelisah. Kutunggu 5 menit lagi, kalau dia tidak juga datang ya terpaksa anakku kuajak kerja. Waktu 5 menit rasanya 5 jam. Karena penantianku tidak kunjung datang, yah kuberangkat kerja dengan menggendong Khaila anakku. Waktu itu dia masih berumur 1,5 tahun.

Aku mengajar sambil menggendong anak. Serba bingung rasanya waktu itu. Tadinya aku mau menaruh dia dan kutidurkan di UKS sambil aku mengajar. Tetapi aku takut nanti Khaila terjatuh, karena tak ada yang mengawasi. Repot juga rasanya. Tetapi apa boleh buat. Aku mengajar sambil menggendong anakku.

“ Bu, anaknya saya momong saja bu, ibu tinggal ngajar gak papa, biar dengan saya aja,” kata Darsono, anak paling bandel di kelas 2.

“ Jangan boleh bu, nanti malah dinakali,” teriak teman – teman Darsono seperti koor.

“Nggak ding bu, aku kan anak baik. Biasa kok momong adik di rumah”.

Seluruh kelas menjawab: Huuu……

Aku hanya tersenyum mendengar usulan Darsono.

“ Sudahlah, makasih Darsono, tapi maaf tidak usah, nanti malah merepotkan”, kataku sambil tersenyum pada Darsono.

“Tapi maaf ya, kalau ibu mengajar sambil menggendong anak,” kataku menjelaskan. Murid-muridku memahamiku.

Sewaktu pulang, aku penasaran kenapa mbak Kus tidak masuk kerja kok tidak ngabari hari ini. Aku langsung ke rumah mbak Kus.

Sesampai di rumah mbak Kus, ternyata kudapati ibunya mbak Kus tengah tergolek sakit. Dan mbak Kus sedang merawat ibunya.

“ Maaf bu, saya tidak sempat ngabari, karena simbok tidak mau ditinggal”, ucapan penyesalan mbak Kus.

“ Lain kali ngabari dulu ya mbak, jadi aku tidak khawatir atau menunggu mbak Kus kelamaan”, kataku sambil menuju ke tempat tidur ibunya mbak Kus . Mbak Kus tertunduk. Dia masih merasa menyesal.

”Ya bu, sekali lagi maaf” ,kata mbak Kus kemudian.

”Apa sudah diperiksakan ke dokter, bu?”, kataku sambil duduk di samping pembaringan.

“ Sudah tadi pagi, kata dokter sakit gejala typus”, jawab ibu mbak Kus lirih nyaris tak terdengar.

“Berarti ibu harus banyak istirahat. Dan makannya yang halus – halus ya bu “, kataku. Kami pun bercengkerama ringan. Aku mencoba menghibur ibunya mbak Kus. Semoga dia lekas sembuh.

Setelah beberapa saat aku pamitan dan kembali kugendong anakku untuk pulang.

——————————-

Seperti tak putus dikepung

Rinai hujan Bulan Januari

Siang atau malam

tak terasa lagi hembusan

kerisik segar tiupan

angin Nya

dingin menembus

kenangan silam

(Bersambung)

*) Penulis Guru Mapel Fisika SMAN 1 Ambarawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *