Trilogi Ketiga: Mesin Ketik

Fiksi62 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki *)

Kau pernah berkata kalau bunyi ketukan mesin ketik itu serasa mengganggu, berisik di tengah malam.  Mungkin sebetulnya kau tidak suka aku bekerja sampai jauh larut malam, meski sebetulnya membuat tulisan opini, featured, kisah perjalanan, cerpen dan puisi sebenarnya serasa nikmat jika jauh malam.  Kau selalu mengatakan, kerja sampai larut malam tidak sehat.  Kau selalu memarahiku jika aku kerja tidak memperhatikan waktu.

Tetapi mesin ketik dengan sisipan kertas karbon di antara dua kertas hvs ini memang sangat penting bagiku.  Dengannya selain berita-berita akan kutulis pengalaman kita saat bertemu dan menjalin cinta antar kota.  Akan kutulis juga saat bercinta di sebuah penginapan, di atas ranjang yang berderit di setiap pergerakan kita.  Kau pasti marah jika tahu rencana penulisan ini. Tapi toh kita sudah menikah, tidak ada salahnya kan menuliskan itu bahkan ada yang lebih heboh lho kisah kisah percintaan kita daripada kisah percintaan di ranjang yang berderit-derit itu?

Mesin ketik juga akan kugunakan untuk menulis berbagai kisah manusia di alam raya ini.  Kita tahu bahwa banyak kesedihan di dunia ini, jika ditulis dengan baik,  akan membuat orang lain menjadi bersyukur dengan keberadaannya, bahwa dia masih lebih baik dari keadaan kisah tulisanku. 

Kau sendiri juga begitu, sering menarik napas dan menghembuskannya dengan napas panjang.  Kau sering mengeluh dengan kehidupan kita dan sebenarnya aku tersinggung karena hal itu.  Kurang apa aku sebagai suamimu, kerja keras siang malam untuk menghidupi anak kita yang jumlah semuanya lima orang anak. Yang sudah bekerja dua orang anak, di Disdukcapil dan di klinik kesehatan.  Dua orang anak  lainnya masih kuliah, sedangkan si bungsu masih sekolah di SMA.  Kau juga sudah diberkati Tuhan, menjadi pengajar di sebuah SMK dan SMP swasta dan banyak teman-teman baik di lingkunganmu.  Tapi kalau aku bilang, kau mengeluh, kau pasti bilang tidak.  Tapi memang lama-lama aku menyadari, bahwa kebutuhan kita bukan hanya untuk membesarkan anak, tetapi kau pun ingin diperhatikan, sesekali satu keluarga pergi wisata ke Blora, Wonogiri tempat asal keluarga.  Dan itu perlu mobil bukan? 

Sementara aku sudah merasa cukup dengan apa yang ada pada kita.  Aku sudah puas dengan keadaanku saat ini, sebab sudah memiliki sepeda, tustel dan mesin ketik sebagaimana impian masa beliaku.  Mungkin kalau motor, bolehlah, tapi kalau mobil, nggak usahlah ya.  Kita cukup sewa saja supaya tidak banyak uang dikeluarkan untuk perawatannya.

Sekarang sudah punya sepeda, bahkan beberapa motor untuk mobilitas anak-anak.  Mengayuh sepeda mulai merasa malas, apalagi harus memompa ban sepeda yang tiba-tiba kempes di pagi hari.  Anak-anak yang sudah bekerja bertanya kepada ibunya,”Bagaimana kalau kita beli mobil, kami yang sediakan uang muka dan ibu yang membayar kredit mobil tiap bulannya.  Tidak usah mobil baru, mobil seken juga tidak apa.”

Mesin ketik pertama yang kumiliki adalah mesin ketik bekas.  Aku beli di Pasar Triwindu Solo.  Aku lupa, mungkin uang itu hasil menulis cerpen di Mingguan Suara Merdeka dan ditambah uang dari menulis di mingguan Dharma Nyata Solo, menulis cerpen dan berita-berita seputar Surakarta.  Eh, pernah lho aku menulis tentang Dono Warkop yang tiba-tiba muncul di pentas musik rock di kampusku.  Kau pernah kuberi tahu kan bahwa saat aku mahasiswa dulu, aku menghidupi diriku dengan menulis di beberapa media.  Teman-teman di kampus menjulukiku “si wartawan”, padahal aku kuliah di keguruan.

Sebelum memiliki mesin ketik sendiri, maka aku sering pinjam ke rekan kuliah, Sudi Harini namanya.  Terakhir aku dengar beritanya dia ngajar di Malang, sempat komunikasi lewat Face Book.  Kuketahui kemudian dia mengidap kanker dan akhirnya kudengar kabar dia dipanggil Tuhan karena penyakitnya itu.  Pengalaman dengan dia, aku kacau sekali.  Pernah suatu hari aku pinjam motornya untuk ngantar pacarku ke terminal Tirtonadi, pacarku mau pulang ke Blora.  Saat sampai di dalam bus, tiba-tiba aku ikut sampai ke Blora.  Motor Sudi Harini kutitip di tempat parkir, kuambil esoknya setelah dari Blora.  Kau tahu kan, Sudi Harini seharian bahkan semalam-malaman dia bingung karena motor yang kupinjam tidak segera dikembalikan dan tidak ada kabar dariku.  Sudi Harini teman sangat baik, mau memaafkanku dan selalu kupinjam mesin ketiknya untuk menulis puisi, cerpen dan karya jurnalistik lainnya sebelum memiliki mesin ketik sendiri itu.

Setelah kau pergi, tidak ada lagi yang merawat mesin ketikku.  Biasanya kamu yang melap mesin ketik itu supaya tetap besih dan memberi minyak singer untuk bagian-bagian mesin yang perlu diberi pelumas.  Kau kan suka jahit baju waktu itu untuk pakaian anak-anak kita semasa mereka masih kecil.  Jadinya minyak pelumas itu selalu ready dong.

Sekarang ini aku menulis dengan laptop bekas yang kubeli.  Harganya enam tahun yang lalu cuma 1 juta.  Uang itu hasil dari aku menjadi pemimpin redaksi dan editor dan menulis di sebuah penerbitan di sinode gereja kita.  Selain itu juga kubelikan sebuah monitor agak besar.  Mengapa?  Karena laptop bekas ini saat kunyalakan pertama kali bawaannya mesti bruwet, tidak jernih.  Setelah beberapa menit baru kemudian jernih.  Maka kubelikan saja sekalian monitor itu untuk membantu tampilan screen-nya.

*) Penulis tinggal di Ambarawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *