Secercah Harapan Indah di Hari Natal

Fiksi85 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki *)

Kereta Argo Bromo Anggrek yang kami tumpangi sudah sampai Kendal, sebentar lagi akan sampai di Semarang, kota tujuan kami.  Udara dinihari ditambah hawa dingin AC membuat tubuh agak menggigil.  Aku mengetatkan jaket yang kupakai, sementara Aryo yang duduk di sampingku tertidur sejak berangkat dari Jakarta tadi malam.  Beberapa kali kulihat wajah Aryo, seorang pengusaha muda yang membawaku ke Semarang untuk diperkenalkan kepada orang tuanya.  Sebenarnya bukan dibawa, tetapi tepatnya aku disewa dengan disuruh mengaku bahwa aku adalah pacar Aryo.  Orang tua Aryo sudah berkali-kali minta supaya Aryo mencari pacar, calon istri dan mereka berpesan supaya Natal tahun ini Aryo pulang ke Semarang dengan membawa calon menantu bagi ayah dan ibunya.

“Hanya sebatas mengaku saja lho ya, tidak melakukan apa-apa,” demikian kataku kepada Lusi yang memberikan pekerjaan itu kepadaku.

“Iya nona manis, kamu hanya mengaku saja sebagai pacar Aryo.  Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang,” kata Lusi saat menawarkan job itu kepadaku.  Aku diminta dua hari menemani laki-laki muda yang bernama Aryo ini selama 2 hari mudik ke Semarang.  Untuk hal ini aku dibuatkan semacam skenario, jika nanti orang tua Aryo bertanya begini, aku harus menjawabnya begitu.  Selebihnya diminta diam saja, tidak boleh bertanya ini dan itu.  Oleh Lusi aku juga diberi tahu nama kedua orang tua Aryo dan kedua adik perempuan Aryo yang bernama Gones dan Vena.  Lusi mewanti-wanti aku supaya bersikap lembut di hadapan orang tua Aryo dan mengusahakan diri agar cekatan  saat di dapur untuk menunjukkan diriku sebagai calon menantu yang prigel, luwes dalam urusan pekerjaan wanita.

“Lalu kalau orang tuanya bertanya kapan kami akan menikah, aku harus jawab bagaimana?” Tanyaku pada Lusi saat nanti tiba di bagian sulit ini.

“Bilang saja, semua terserah pada Aryo, kamu hanya ikut keinginan Aryo saja,” demikian Lusi memberi tahu jawaban atas pertanyaan itu.

Jujur saja aku gugup dengan  pekerjaan yang menurutku aneh ini.  Sebenarnya aku sudah cukup lama mendengar pekerjaan yang dapat dikategorikan pekerjaan jasa tersebut.  Seseorang yang bersedia sesaat diakui oleh orang lain sebagai pacar.  Hal ini disebabkan di kota metropolitan Jakarta ini banyak orang yang mengutamakan karier sehingga menunda-nunda keinginan untuk memiliki pacar, apalagi menikah padahal keluarga laki-laki ingin segera melihat calon menantu.  Jenis orang yang tidak peduli dengan hubungan pacaran ini biasanya termasuk orang yang dikategorikan “work-a holic” orang yang gila pekerjaan, sehingga kebutuhan yang berpotensi menghambat pekerjaan, diabaikan.

“Ayolah sayang, ini pekerjaan ringan.  Bukankah kamu lagi butuh uang?” Lusi sahabat sejak SMP itu seolah mengetahui kebutuhanku.  Benar aku lagi butuh uang untuk penulisan skripsi dan biaya pengobatan ibu yang akhir-akhir ini sakit-sakitan.  Ibu yang sehari-hari berjualan gorengan di pinggir jalan raya, seringkali dadanya sesak, nyeri sampai menembus punggung.  Saat periksa di puskesmas faskes 1, dokter puskesmas menyatakan ada gangguan penyakit jantung, kemudian dirujuk ke rumah sakit terdekat.  Dalam pemeriksaan dokter rumah sakit tersebut, ibu dinyatakan memiliki penyakit jantung.  Kata dokter, terdapat penyumbatan di saluran jantung, sehingga perlu dipasang ring.  Meski ibu menggunakan BPJS untuk pengobatan dan rencana operasi, tetapi untuk transportasi dan kebutuhan lain di rumah sakit tentu butuh biaya bukan?  Lusi rupanya tahu akan kebutuhanku itu.

“Tetapi aku tidak pernah punya pengalaman semacam itu.  Aku hanya seorang guru les fisika yang hanya terbiasa mengajar anak,” aku berkata setengah meratap.

“Nona manis, wajahmu cakep, kulitmu kuning langsat, rambutmu terurai panjang, tubuhmu semampai, cara bicaramu memikat…pasti banyak laki-laki yang  tertarik untuk menjadikanmu pacar sesaat.  Ini mumpung ada pengusaha muda lumayan sukses yang lagi butuh jasa ini.  Soal bayaran, okelah pokoknya,” bujuk Lisa sambil membisikkan besaran uang yang ditawarkan.  Lisa yang rupanya sudah lima tahunan membuka usaha jasa ini, memang pintar membujuk orang. 

“Pokoknya dari segi safety, kamu amanlah, kamu akan aku pantau terus, lewat video call kita akan berkomunikasi.  Pengusaha muda ini tidak akan macam-macam, aku kenal anak muda ini.  Ok, deal ya, 4 juta di awal dan 4 juta lagi setelah pekerjaan selesai,” kata Lisa sambil menyodorkan tangan kanannya, siap untuk disalami.  Akhirnya aku menyalami tangan Lisa, tanda sepakat.  Aku tidak ada pilihan lain.  Aku pikir ini pekerjaan memang aneh, tapi aku lagi butuh uang, apa boleh buat.

Di Stasiun Gambir aku kemudian bertemu dengan laki-laki yang menyewaku menjadi pacar sesaat.  Aryo seorang laki-laki yang gagah, cara bicara sopan.  Meski wajahnya separoh tertutup masker hitam, tetapi tetap kelihatan ganteng.  Wajah ganteng itu nyata terlihat saat Aryo membuka maskernya ketika minum air mineral yang dibawa.  Tiba-tiba saja, wajah itu mengingatkanku pada sosok Argo, orang yang pernah lekat di hatiku.  Argo adalah dosen muda di universitas tempat aku studi.  Argo mengajar di Fakultas Teknologi dan Informatika.  Meski aku bukan mahasiswa di fakultas itu, aku dapat berkenalan dengannya.  Itu terjadi saat kampus mengadakan bakti sosial di kampung Muara Angke yang diterjang banjir.  Kebetulan aku di bagian logistik dan Argo ternyata pemimpin ekspedisi ini.  Kami berkenalan dan rupanya berlanjut menjadi hubungan pacaran.  Kami satu visi rupanya, kami sama-sama tertarik pada pekerjaan sosial.  Hal itulah yang pertama kali menyatukan hati kami.  Sayang sekali, baru setengah tahun kami berpacaran, Argo kecelakaan mobil di jalan tol saat akan pulang ke rumah orang tuanya di kota Semarang.  Ban mobil yang dikendarainya pecah sehingga menyebabkan kendaraan oleng tak terkendali.  Argo sempat dibawa ke rumah sakit, tetapi jiwanya tak tertolong.  Aku tergoncang hebat saat itu, tetapi apa boleh buat, segalanya telah terjadi, aku hanya bisa menerima kehendak Yang Maha Kuasa, sambil berharap bahwa tentu ada rencana paling indah yang sedang Ia persiapkan bagiku.  Janji Argo untuk mengenalkan kakak kembarnya dan juga keluarganya akhirnya melayang.

Kereta sampai di Stasiun Poncol Semarang, jam menunjukkan pukul 05.00 pagi.  Aku lihat di google map, Stasiun Tawang yang menjadi tujuan kami sesaat lagi akan kami jangkau.  Aku membuka aplikasi Whats up dan Instagram.  Ada banyak pesan yang aku baca, baik dari group WA maupun japri yang mengucapkan selamat hari Natal.  Tilah sahabatku  beda keyakinan dari Solo malah menyampaikan ucapan tersebut dengan bahasa Jawa medok: ngaturaken sugeng riyadi natal  temanku yang cantik.  Aku tersenyum.

“Oh kita hampir sampai,” Aryo ternyata sudah bangun dan rupanya memperhatikanku saat aku membaca pesan-pesan WA yang masuk di HP.  Aryo meraih air mineral yang ada di tasnya.  Aryo pun melepas masker yang sejak dari Jakarta, belum pernah dibukanya.  Tiba-tiba saja hatiku berdesir, wajah Aryo memang mirip benar dengan wajah Argo.  Bentuk wajahnya yang oval, bibir yang sedikit tebal, kumis tipis yang melintang, senyum yang menawan, semuanya persis dengan wajah Argo.

“Kenapa seperti terkejut? Ayo minum,” Aryo menyodorkan air mineral kepadaku.  Oh rupanya dia bisa membaca gerak mataku yang memang menampakkan keterkejutan.  “Selamat Natal  ya,” kata Aryo sambil menyodorkan tangannya mengajak salaman.  Aku sambut tangannya yang terasa hangat menggenggam tanganku.  Genggamannya seperti genggaman tangan Aryo, kuat namun lembut.

“Ok, kita mulai skenarionya.  Kita akan turun dari kereta dan kita akan menunjukkan kemesraan di hadapan keluargaku yang menjemput kita pagi ini,” Aryo mulai menjelaskan cerita yang akan kami lakukan pagi dan sepanjang hari ini serta hari kedua nanti.

Aku mengangguk sambil membuka maskerku dan bersiap minum air mineral yang tadi disodorkan Aryo.  Tiba-tiba wajah Aryo seperti terkesiap.  “Hei, sepertinya aku pernah mengenal wajahmu, tetapi di mana ya?” Aryo setengah berteriak menatapku.  Kulihat bola matanya berputar, menunjukkan  keheranan.

Kereta telah berhenti.  Kami membawa barang bawaan dan tas kami.  Seperti skenario awal, Aryo menggandeng tanganku dan aku tersenyum mesra padanya.  Kami harus bercakap tentang apa saja yang menunjukkan keakraban kami di hadapan keluarga Aryo yang menjemput.

“Oh itu ayah ibu ikut menjemput.  Kedua adikku perempuan juga ikut rupanya,” kata Aryo sambil menunjuk orang-orang yang melambaikan tangannya di luar peron.  “Sayang adikku tidak bersama kami lagi saat ini,” kata Aryo seperti mengeluh.  “Oh ya, kenapa rupanya?” aku bertanya, sungguh ingin tahu.  “Kecelakaan tahun lalu di jalan tol saat akan mudik ke kota kami.  Dia adalah saudara kembarku,” jelas Aryo dengan suara bergetar.  Oh, apakah itu Argo yang dimaksud?  Hatiku berdebar kencang.  Aku mau bertanya sesuatu tetapi rupanya keluarga Aryo sudah berteriak-teriak memanggil nama Aryo.  Aku semakin mempererat pegangan tanganku ke lengan Aryo.  Kuambil  tisu, mengelap air mata yang mengembun di mataku.  Aku harus menunjukkan keakraban dan kemesraanku bersama Aryo di hadapan keluarganya.  Dalam hati aku bertanya, benarkah Aryo ini saudara kembar Argo?  Hatiku tiba-tiba kembali berdesir.  Tiba-tiba timbul secercah harapan indah, namun aku takut untuk mendefinisikan.

Jepara, 22 Desember 2025

*) Penulis tinggal di Ambarawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *