Oleh: Suyito Basuki *)
Di sebuah ruang tamu keluarga Ki Sutejo. Ada seperangkat gamelan di sebelah kiri ruang tamu. Gambar wayang Pandawa lima dan Punakawan, terpampang di dinding, siang hari yang terik. Ki Sutejo masuk ke ruang tamu. Dia telah meletakkan sepeda ontanya di teras rumah
Nyi Sutejo dari bilik belakang keluar, “Ee, Rama sudah kondur…,” berseru menyalami dan mencium tangan suaminya.
Fitri iku menghambur, menyalami dan mencium tangan bapaknya,”Rama tadi dicari lho sama siswa rama, katanya mau belajar karawitan dan sabetan wayang; siapa tadi ‘Nang?”
Danang menyalami bapaknya juga,”Mas Bagas, wah mbak Fitri itu pura-pura lupa,” Danang berkata sambil melirik kakaknya, lirikan genit.
“Tadi ‘kan Rama sudah bilang, kalau ada tamu suruh nunggu, paling rama segera pulang…,” Ki Sutejo menjawab.
“Saya lupa je, saya pikir rama lama pisowanannya…,” ujar Fitri.
Ki Sutejo duduk di kursi,”Ya kan biasa, setiap pisowanan itu paling jam 12.00 sudah pulang.”
Nyi Sutejo menyahut sambil membawa kopi pahit di sebuah cangkir,”Lho tidak ndherek Ngarsa Dalem pergi ke gunung Merapi mertinjo kondisi gunung dan makam Mbah Marijan abdi dalem semasa hidup dapat tugas nunggu Gunung Merapi?”
Ki Sutejo menerima cangkir kopi berujar,”Tidak jadi hari ini, mungkin Sabtu Kliwon minggu depan. Hari ini Ngarsa Dalem mendapat tamu dari Jakarta. Katanya sih ngrembuk bantuan-bantuan bencana gempa untuk kawula di Ngayogya…”
Fitri setengah kaget,”Lho jadi dapat bantuan to masyarakat Jogja?”
Ki Sutejo sigap menjawab,”Ya semoga ndhuk, kasihan sekali masyarakat yang kena gempa, banyak di antara tetangga kita yang terpaksa harus tidur di tenda-tenda. Bersyukurlah kita masih dilindungi yang maha Kuasa. Kita selamat tak kurang suatu apa.”
Nyi Sutejo duduk di sebelah kiri suaminya,”Inggih Rama…”
Ini malam hari, ruang tamu terang karena cahaya lampu, ada perangkat gamelan. Danang duduk menghadap perangkat gamelan gender. Membuka buku catatan, belajar tabuhan gender. Fitri keluar dengan segelas kopi pahit, sementara Ki Sutejo duduk dengan mengenakan surjan, wayang Arjuna, Semar dan wayang buto (raksasa) berada di meja. Ki Sutejo meraih sebuah anak wayang Semar melakukan suluk slendro pathet 9. Tanggap dengan hal itu Danang segera menabuh gender ada-ada pathet 9, mengiringi suluk bapaknya:
Semar eka den prayitna/ semu riris ika balik/ titi yoni ganda yoni/ tri sonya purnama sasi/ooo… gilar-gilar semadhi tengahing latar/ milang lintang bima sekti/ oooo…
Fitri meletakkan kopi di samping bapaknya,”Rama ini kalau suluk sekarang suaranya kok nggak jernih lagi to?”
Nyi Sutejo keluar dengan nampan, di atasnya piring berisikan ketela rebus,”Mungkin apa karena rama suka marah-marah itu ya sekarang ini? Kan kalau orang marah itu suaranya akan segera habis?.”
“Lho mau tidak marah-marah gimana? Wong meubel kiriman dari Jepara itu tidak seperti yang saya harapkan…” Ki Sutejo menjawab sambil menyeruput kopinya.
Danang ikut nimbrung dengan suaranya,”Lho Rama katanya memerlukan meja kursi model tanduk hongkong sama sketsel gebyok untuk sketsel pengantin, kan sudah dikirim dengan truk kemarin.”
“Iya sudah dikirim, tapi coba kamu lihat di gudang, namanya tanduk hongkong, tapi tanduknya itu kok tidak kuat, lemnya tidak rekat, sehingga kursi itu tanduknya goyang-goyang, kursi satu truk kok yang masuk hitungan cuma 50 persen. Padahal harga sudah bagus saya kasih, sudah saya transfer penuh…wah jan sontoloyo tenan. Ini kan bisa mematikan pasaran saya di sini,”Ki Sutejo berkata sambil mengambil ketela rebus dan memasukkan ke mulutnya.
Nyi Sutejo menjawab dengan lembut menenangkan suaminya,”Ya sudah, itu bisa diatasi dengan menservis. Danang bisa kan kamu menservis sepulang sekolah?”
“Bisa bu, tapi ya harus dibantu sama tukang yang lain,” jawab Danang sigap:
“Ya pasti to le,” segah Nyi Sutejo.
“Sudah begitu, sketsel gebyok yang datang, ukirannya tidak seperti yang saya pesan, padahal kan Salon Remaja menginginkan motif ukiran Mataraman untuk hiasan gebyoknya. Piye nanti kalau saya dipaido? Dikira tidak bisa mencarikan barang yang sesuai dengan keinginan konsumen?” Ki Sutejo berkata dengan nada kesal.
“Rama pesan motif ukiran yang bagaimana?” Fitri bertanya
Ki Sutejo menjawab, memandang Fitri,”Rama kan pesan dengan motif ukiran sesuai permintaan, tetapi malah diberi motif ukiran Majapahit. Beritanya, kemarin motif yang Rama pesan itu sudah jadi. Ee, malah diberikan kepada pembeli lain yang datang ke rumahnya.”
Nyi Sutejo kembali menenangkan hati suaminya,”Ya sudahlah Pak, kalau memang kurang pas ya dikembalikan atau bagaimana gitu?”
Ki Sutejo berkata masih dengan kekesalannya,”Wah memang susah kalau bisnis kayak gini, orang-orang pada tidak jujur.”
Danang yang masih duduk di dekat gender lalu memainkannya iringan ada-ada suluk laras Pelog Barang menggambarkan kemarahan atau peperangan yang bakal terjadi. Ki Sutejo menoleh ke arah anak laki-lakinya, tersenyum masam, mengambil wayang buto, melagukan ada-ada berdasar tembang macapat Durma, mengekspresikan kegelisahannya
Saya galak/ guling wil yeksa raseksa/ marga padhawa lungit/ brana mayangkara/ wisaya pancakara/ sasrahu asta jemparing/ ganti tinataa/ margana bajra angin…
(Bersambung)
*) Penulis tinggal di Ambarawa
*) Gambar ilustrasi dari Radar Madiun





