Cerbung: Pertarungan Srikandi-Bisma (20)

Fiksi64 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki *)

LAMPIRAN

  1. Catatan istilah-istilah:
  1. Budhalan: saat pasukan berangkat menuju ke suatu tempat
  2. Batangan (kendhang) : salah satu jenis kendang, tanggung ukurannya.
  3. Cepengan: tata cara memegang dan memainkan wayang di layar.
  4. Cakilan: lih. Perang kembang.
  5. Canglet: salah satu adegan dalam peperangan antar wayang.  Menggambarkan tindakan saling mendorong, upaya untuk menjatuhkan lawan.
  6. Diisis: merawat wayang dengan cara diangin-anginkan.  Untuk menghindarkan wayang dari jamur.
  7. Ditabuh: dipukul dupaya berbunyi.
  8. Demung: salah satu jenis alat musik gamelan.  Selain demung, jenis yang lain misalnya: saron, gender, rebab dll.
  9. Garwa padmi: wanita yang diperistri setelah menjadi bupati.
  10. Garwa ampil: wanita yang diperistri sebelum menjadi bupati.
  11. Gendiran: salah satu adegan perang antara kesatria melawan raksasa.
  12. Gandhok: bagian tambahan dari rumah joglo.  Jika ada kedua gandhok disebut sinoman.  Kedua gandhok terletakdi sisi kanan atau kiri.  Fungsi gandhok untuk acara yang bersifat umum.  Perkembangan selanjutnya gandhok juga difungsikan untuk ruang latihan gamelan, ruang tidur, dsb.
  13. Joglo: jenis rumah Jawa. 
  14. Kendhang ketipung: jenis kendang, kecil ukurannya.
  15. Kendhang ageng: jenis kendang, besar ukurannya.
  16. Keprakan: Kegiatan kaki dhalang memainkan cempala dan keprak.  Fungsinya memberi tekanan dalam sabetan, memimpin irama gendhing, untuk jeda dialog, dsb.
  17. Lancaran: salah satu jenis tabuhan kerawitan Jawa.  Tataran selanjutnya adalah ketawang, ladrang, dan gendhing.
  18. Ladrang: salah satu jenis tabuhan kerawitan.  Bandingkan dengan lancaran.
  19. Mertinjo: melihat keadaan wilayah.
  20. Ngarsa dalem: sebutan untuk Sultan Hamengku Buwono X, raja Kraton Yogyakarta
  21. Laras slendro: sebuah nada dasar/ titi laras gamelan.
  22. Laras pelog: sebuah nada dasar/ titi laras gamelan.
  23. Perang kembang: perang antara kesatria dengan raksasa.
  24. Perang alus-alus: perang antara kesatria dengan sesama kesatria.  Misalnya antara Arjuna dan Adipati Karna.
  25. Perang gagah-gagah: perang antara satriya gagah melawan sesamanya.  Misalnya Gatutkaca melawan Bomanarakasura.
  26. Pisowanan kraton: kegiatan rutin atau incidental abdi dalem di kraton.  Dapat berarti bertemu atasannya di kraton, atau sekedar melakukan kewajibannya sebagai abdi dalem kraton.
  27. Soran: jenis karawitan berdasarkan tabuhan gamelan yang keras.  Berbeda dengan uyon-uyon, tabuhannya lembut.
  28. Slendro pathet 6: slendro menunjukkan nada dasar; sedang 6 menunjukkan pathetnya.  Di dalam pewayangan khususnya, ada beberapa pathet (saat): pathet 6 (sekitar jam 21.00-00.30), pathet 9 (sekitar jam 00.30-03.00), dan pathet manyuro (sekitar jam 03.00-05.00/ selesai).
  29. Tubrukan: salah satu adegan dalam peperangan antar wayang.  Menggambarkan tindakan menubruk lawan.
  30. Wadya bala: para prajurit.
  • Syair lagu ladrang Sri Slamet, dinyanyikan oleh Nyi Sutejo

Kadange dhewe jarwa surya

Ya ndhuk surya lumebeng ancala

Gones-gones srengging karsa

Kancane dhewe mung nedya nyumurupana

Ya mas ya mas teja tirta

gones atmaja nata rahwana

ya mas ya mas kekuwunge

kancane dhewe karya rujit ing wardaya

(ngelik)

Parabesan moro bangun

sepat domba kali oya

aja dolan lan wong priya

goremeh nora prasaja

  • Macapat Durma yang dinyanyikan nenek Bagas

Paman-paman

Apa wartane ing ndalan

Ing ndalan keh wong mati

Mati kena apa?

Mati suduk salira

Neng jaja terus neng gigir

Pan kaniayaa

Garing nganti ngalingking

  • Terjemahan dialog wayang

Resi Bisma (RB):

Tidak salah lihat, ini Srikandhi yang maju di tengah peperangan.

Srikandhi (S):

Benar eyang Bisma.

RB:

Apa di Amarta sudah tidak ada laki-laki?  Wanita yang penuh kerepotan kok maju dalam peperangan?

S:

Wanita itu hanya keadaan, tetapi masalah tanggung jawab membela Negara, itu tanggung jawab semua warga Negara, tidak memandang laki-laki atau perempuan.

RB:

Lho, kamu tidak takut terhadap kesaktianku, Srikandhi?

S:
Hal itu sudah saya tekadi, segela sepak terjang eyang resi akan saya antisipasi.

RB:

Benar-benar cantik kamu Srikandhi, ayo pakailah segala kesaktianmu.  Jika kamu terlena, kamu bisa mati karena tanganku.

S:

Jangan setengah-setengah dalam melawanku eyang resi…

(Jeda)

S:

Kurang ajar.  Eyang Bisma walau sudah tua tetapi pemikirannya seperti orang muda, tidak memiliki tata krama.  BH-ku hilang kena panah eyang Bisma.  Aku betul-betul dipermalukan.  Jangan tertawa eyang Bisma, terimalah anak panahku, matilah kau dengan kesaktianku…

*) Penulis tinggal di Ambarawa

Gambar ilustrasi dari Radar Madiun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *