Novel: Menguak Takdir Menepis Mimpi (13)

Fiksi114 Dilihat

Oleh: Erna Widyaningsih*)

10.Haruskah Engkau Pergi

Liburan hari raya telah tiba. Adikku yang dapat istri orang Sulawesi dan tinggal di Makasar, kali ini pulang ke Semarang. Dia datang untuk berlibur bersama istri dan anak – anaknya ke tempat kami. Rumahku menjadi ramai. Maka keluargaku dan keluarga adikku sepakat jalan – jalan ke Borobudur. Kali ini tidak seperti biasanya, mas Hans mau kami ajak pergi jalan- jalan. Biasanya ada saja alasan mas Hans menolak untuk tidak ikut kami berwisata bersama. Kali ini dia mau ikut berwisata kami semua.

Waktu itu saat  kami tiba di Borobudur, petugas meminta kami semua untuk memakai kain khusus yang disiapkan petugas bagi tiap pengunjung.  Dan kesempatan itu kami abadikan dengan berfoto bersama. Biar ada kenangan keluarga berfoto bersama.

Seingatku kami sekeluarga dalam formasi lengkap, jarang berfoto bersama. Tapi belakangan aku tahu, bahwa ternyata ini adalah saat terakhir mas Hans berfoto bersama kami sekeluarga. Begini ceritanya.

————————————-

Waktu itu aku masih ngelesi di ruang les. Dan mas Hans sedang ada tamu di ruang depan. Anak buah mas Hans sedang menggoreng lele hasil menjaring di kolam belakang rumah. Lele goreng ini akan jadi lauk pada makan-makan kami semua nanti sore. Kebetulan waktu itu hari Minggu, hari libur bagi kami semua.

Tiap kali dan berkali – kali kulihat mas Hans menengok ke ruanganku saat aku memberi les privat di ruang belakang. Mas Hans seperti mau bicara sesuatu. Tapi waktu aku tanya ada apa? dia tidak bilang apa-apa. Dia kembali ke depan menemui tamunya lagi.

Tiba – tiba, tak berapa lama kulihat mas Hans jatuh di sofa dekat tempatku memberi les privat. Kukira dia hanya bergurau, karena mas Hans memang suka bergurau. Kukira itu hanya main-main, bercanda. Karena jatuhnya terdengar sangat keras, aku menghentikan kegiatanku mengajar.

Kuhampiri mas Hans yang masih tidur telentang di sofa. Dia seperti mendengkur.

“ mas, jangan bercanda berlebihan to?”, kataku sambil kulihat keadaan mas Hans.

Keringat dingin ternyata mengucur dari tubuhnya. Dan suaranya terdengar keras seperti orang mendengkur.

“Mas, mas Hans, kenapa kamu mas !”, tanyaku pada mas Hans sambil kuhapus keringat yang membasahi kening dan tubuhnya. Aku menyadari keadaan dan panik. Ternyata mas Hans sedang tidak main-main Dia tidak bercanda. Ini sungguhan, dia sakit. Ada apa ini. Kamu sakit apa suamiku?

Untung ada tamu teman mas Hans yang membawa mobil. Dengan tanpa pikir panjang aku minta tolong mereka untuk segera membawa mas Hans ke rumah sakit. Dengan ditemani anakku yang besar, yang kebetulan sedang di rumah, tidak di asrama, dan anak buahnya mas Hans, kami segera ke rumah sakit.

Tiba di rumah sakit. Mas Hans langsung kami hantar ke UGD, dan diperiksa.

Ternyata mas Hans terkena serangan jantung. Dokter jaga bilang bahwa mas Hans sakit jantungnya sudah parah. Aku syok, tertunduk diam.

 Mas Hans tidak pernah mengeluh sakit jantung, tiba – tiba sekarang dikatakan sudah parah. Kenapa kamu tidak pernah mengeluh sakit mas, kenapa aku baru tahu sekarang mas?            

Seminggu sebelumnya , sewaktu mengantar anakku yang besar ke asrama memang mas Hans pernah mengeluh kalau tangan kirinya sakit di bagian atas dan seperti keram. Waktu itu dalam perjalanan, dalam mobil, dia memintaku untuk mengeroki tangannya. Aku lakukan. Aku keroki tangannya, sambil dia nyetir mobil waktu perjalanan pulang. Sempat aku gosok dengan minyak kayu putih. Dia bilang rasa sakitnya sudah agak mendingan hilang. Aku tidak tahu kalau mas Hans punya gejala sakit jantung.

——————————–

Tiba – tiba mas Hans bangun dari tempat tidur dan bilang “ aku keracunan telur ikan “. Kami yang di situ saling melihat satu sama lain. Kami semua heran. Tadi ikan lele kan baru digoreng dan belum ada yang matang. Apalagi telur ikannya kan juga belum di goreng. Kok mas Hans bilang keracunan telur ikan?

“Bu,tolong ambil obat untuk bapak ya”, kata dokter memberiku resep.  Kutinggalkan mas Hans . Aku mengantre di bagian pengambilan obat di rumah sakit itu.

Tak berapa lama aku sudah memperoleh obat untuk mas Hans.  Aku bergegas ke tempat mas Hans dirawat tadi di UGD.

Ternyata, sebelum obat diterima, dokter memintaku untuk membeli alat dan obat-obat lainnya lagi. Dokter juga bilang bahwa mas Hans akan ditangani di ruang ICU. Terpaksa aku mengantre obat lagi. Hatiku gelisah tak menentu.

Sampai sudah giliranku, obat kudapat. Aku segera berlari kecil membawa obat dan alat untuk mas Hans. Akan tetapi, sebelum sampai di tempat mas Hans dirawat, anakku datang memelukku. Aku tanya dokter. Ada apa ini dok, apa yang terjadi dengan suamiku?

Kulihat tim dokter dan perawat sedang memacu jantung mas Hans dengan alat yang diletakkan di dada. Berkali kali dicoba memacu.  Ternyata akhirnya mas Hans tidak bisa ditolong. Dia menghembuskan nafas terakhir. Mas Hans meninggal.

“ Masss…. ada apa mas…, kenapa kamu hanya diam saja ?” ucapku dengan derai air mata.

Ku peluk mas Hans erat – erat tidak mau kehilangan. Ku meraung dan menangis melihat kondisi mas Hans yang lemas, tak berdaya dan hanya diam saja.

Tapi kemudian ku sadar mas Hans sudah tidak bisa menjawab pertanyaanku. Mas Hans sudah tiada.

Aku sangat terpukul syok dan sedih. Aku menjerit dalam hati, karena dia berpulang tanpa pamit. Mas Hans meninggalkanku. Dia pergi untuk selamanya dariku.

Tanpa suara, tanpa kata, aku memandangi jasad mas Hans. Aku masih tidak percaya bahwa suamiku yang kukasihi baru saja pergi meninggalkan kami. Pergi untuk selamanya.

Isak tangis memenuhi ruangan UGD rumah sakit. Sudah tidak kuperdulikan lagi orang – orang di sekitarku yang berusaha menenangkanku, ku peluk mas Hans dengan erat sekali sambil berlinang air mata.

“Paaa… papa….. kenapa papa meninggalkan kami secepat ini paaa ?”jerit Khaila syahdu sambil menggoncang – goncang tubuh papanya yang sudah tiada.

Pak Bambang, tetanggaku yang mengantar dengan mobilnya tadi mencoba menenangkanku dan mengajakku ke pinggir tempat tidur.

“ Yang sabar bu, yang tabah, pak Hans sudah tenang di sana, jangan tangisi dia, ikhlaskan dia,supaya mudah langkahnya menuju surga,” pak Bambang menasehatiku. Aku dan Khaila harus bisa menerima kenyataan ini.Ini yang terbaik dari Allah.

Beberapa saat setelah semuanya mereda dan segala urusan rumah sakit sudah kuberesi, dengan bantuan teman -teman mas Hans dan pak Bambang, kubawa jenazah mas Hans dengan ambulan ke rumah. Dengan tubuh gontai aku ikut naik ambulans. Sesampai di rumah, para tetangga kulihat sudah siap –siap menyambut jenazah mas Hans.Karena ternyata tetanggaku sudah dikabari tentang meninggalnya mas Hans dari pak Bambang, dan mereka saling membantu mempersiapkan segala sesuatunya di rumah.Saat jenazah dikeluarkan dari ambulans, aku sudah tidak kuat lagi.Tubuh seperti melayang,tubuhku lemas tanpa daya. Aku tak ingat apa-apa. Semua gelap. Aku pingsan.

—————————-

Cobaan apalagi yang harus kualami. Kenapa Tuhan selalu mencobaiku. Kenapa satu persatu orang – orang yang kucintai meninggalkanku? Kenapa ini selalu terjadi padaku. Apa salahku padamu ya Allah, apa dosaku. Kenapa Kau cobai aku terus menerus? Batinku menjerit.

Saat aku tersadar dari pingsan, kukuatkan diri untuk menghantar suamiku  ke tempat peristirahatan terakhir, di pemakaman. Aku baru menyadari bahwa yang melayat suamiku ternyata seperti lautan manusia. Mereka berduyun-duyun datang melayat dari mana-mana. Mereka adalah teman kerabat dan handai taulannya mas Hans, juga termasuk teman, kerabat dan relasiku. Mereka para pelayat itu, jumlahnya menyemut, banyak sekali.

Sesaat jenazah mas Hans akan dimasukkan ke liang lahat, entah kenapa tiba – tiba duniaku menjadi gelap. Dan aku tidak sadarkan diri lagi. Aku pingsan lagi.

 Dan ketika tersadar, aku sudah mendapatkan diriku di tempat asing. Ini tempat belum pernah aku singgahi. Tempat apa ini, di mana ini? Oh, ternyata sesaat aku pingsan, orang-orang telah membawaku ke sini, ke rumah seorang warga dekat pemakaman.

                Malam harinya, ternyata masih banyak orang silih-berganti datang melayat ke rumah kami. Malahan ada pula diantara mereka para pelayat itu adalah sesama teman yang lama mereka sudah tak bertemu. Maka jadilah suasana melayat itu juga menjadi ajang reuni mereka, sesama kawan-kawan SMP atau kawan SMA dahulu.

Itu semua memberi penghiburan bagiku. Mereka semua menguatkan hatiku supaya aku tabah menghadapi semuanya. Mereka mengatakan bahwa aku harus kuat, masih ada anak – anak yang membutuhkan aku, butuh kasih sayang seorang ibu. Ibuku pun juga mengatakan hal yang sama demikian.

“Lia, kalau kamu bersedih terus bagaimana kelak nasib anak – anakmu “,  kata ibuku.

——————————————

Layang-layang terputus

limbung tertiup angin

tinggi mengangkasa

tak tahu entah

kelak mendarat

di mana

(Bersambung)

*) Penulis Guru Mapel Fisika SMAN 1 Ambarawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *