Oleh: Suyito Basuki *)
Saat menentukan pilihan antara Adi dan Kustri inilah, Ina mau tidak mau harus membanding-bandingkan keduanya. Baik Adi maupun Kustri, setelah mereka lulus dan bekerja, keduanya menyatakan cintanya pada Ina dan mereka berniat meminang Ina menjadi istrinya. Sebetulnya dari banyak hal, Adi dan Kustri tidak jauh berbeda. Hanya saja saran dari orang tua Ina, supaya Ina lebih memilih Adi saja. Hal ini terutama disebabkan Adi bekerja satu kota dengan Ina. Dengan demikian, maka tanpa berpikir panjang, Ina kemudian menerina pinangan Adi daripada pinangan Kustri.
Pesta perkawinan Ina dan Adi pun digelar, sederhana tetapi menurut Ina sangat bermakna. Ina memakai gaun pengantin warna putih tulang, Adi mengenakan jas warna putih tulang juga. Kedua orang tua Ina dan Adi menyesuaikan dengan pilihan busana pengantin anak-anak mereka. Ayah Ina mengenakan jas hitam dengan tuxedo, sedangkan ibu Ina mengenakan kebaya warna puti h dan jarik batik kelabu. Demikian juga ayah dan ibu Adi menyesuaikan mengenakan pakaian seperti yang dikenakan oleh ayah dan ibu Ina. Suasana yang bahagia itu terasa bagi seluruh kerabat Ina. Semuanya bersuka cita. Pada saat perkawinan Ina dan Adi itu mereka membuat sebuah vokal grup dan menyanyikan lagu perkawinan bagi Ina dan Adi.
Sementara itu Kustri yang tertolak cintanya, berhari-hari menjelang perkawinan Ina dan Adi, dia meratap di kamarnya. Kepada perusahaan tempat ia bekerja, ia mengajukan ijin tidak masuk kerja. Kustri memang sulit konsentrasi kerja begitu mendengar rencana pernikahan Ina dan Adi. Sejak SMA sebetulnya perasaan Kustri pada Ina dipendam dalam-dalam. Bahkan saat kuliah pun dia berusaha tidak mengutarakan perasaannya pada Ina. Pertemanannya dengan Ina dia bangun dengan biasa saja. Sesekali saat Ina ulang tahun, Kustri mengucapkan ucapan selamat ulang tahun tanpa kado apa-apa. Kustri menjaga diri, jangan sampai orang tuanya yang tergolong berekonomi tidak mampu menjadi bahan nyinyiran orang jika orang tahu bahwa ia mencintai Ina.
Oleh karena itulah, baru setelah bekerja, Kustri berani menyampaikan isi hatinya kepada Ina. Tetapi betapa seperti disambar geledek saat Ina menyatakan bahwa ia akan menikah dengan Adi. Kustri yang memiliki pembawaan riang sehari-harinya, tiba-tiba menjadi seperti orang yang bersusah. Tidak ada lagi gairah dalam hidupnya. Namun setelah Kustri merenung diri beberapa hari di kamarnya, pada akhirnya dia berkesimpulan bahwa jodoh adalah wewenang dan kehendak Tuhan. Mungkin Ina bukan jodoh terbaik saya. Tuhan pasti akan memberikan jodoh yang terbaik bagi saya kelak kemudian. Demikianpemikiran Kustri saat itu.
Dengan demikian, Kustri kemudian bangkit dari keterpurukannya. Kustri kemudian masuk kerja lagi. Hari-harinya dijalaninya dengan penuh penyerahan diri kepada Tuhan. Saat pernikahan Ina dan Adi, Kustri ikut menghadirinya. Bersama rekan-rekan pemuda gerejanya, Kustri mengucapkan selamat kepada Ina dan Adi. Kustri ikut menyanyi bersama dengan rekan pemuda di altar gereja, memberi ucapapan selamat berbahagia. Kustri sesekali melihat Ina dan Adi yang kelihatan banyak tersenyum. Sesekali hati Kustri merasa sakit, tetapi itu ditahannya. Keyakinan bahwa Tuhan akan memberi jodoh yang terbaik baginya sangat menghiburnya.
(Bersambung)
*Spesial buat H, R & Rn
*) Penulis tinggal di Ambarawa, riwa-riwi ke Salatiga/ Jepara






