Cerbung: Penantian di Ujung hari (4)

Fiksi31 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki *)

Ina sekarang sudah bekerja seperti semula.  Seperti biasa, Ina bekerja penuh dengan semangat.  Teman-teman kantornya kadang mengingatkan supaya bekerja tidak terlalu keras, maksudnya supaya Ina juga mengingat kesehatannya.  Mendengar nasihat teman-temannya ini Ina hanya tertawa.  Ina memang suka bekerja.  Jika di kantor tidak ada pekerjaan, Ina malah kebingungan.

Mengunjungi kolam renang anak-anak di kotanya, sering sekali dilakukan oleh Ina.  Dengan ke kolam renang anak-anak, maka dia akan terasa lebih dekat dengan dunia anak-anak.  Sejak operasi kiret yang dilakukannya lina tahun yang lalu, Ina belum ada tanda-tanda mengalami kehamilan.  Oleh karenyalah, doanya tiap hari kepada Tuhan adalah supaya ia dan Adi segera diberi keturunan oleh Tuhan.  Seringkali Ina berdoa kepada Tuhan,”Tolonglah hamba  diberi anak ya Tuhan,  entah laki-laki atau perempuan.  Hamba ingin, anak hamba nanti dapat memuliakan Tuhan melalui hidupnya.”  Dalam doanya, Ina teringat dengan kotbah Pak Pendeta tentang ibu Hana yang mandul, akhirnya diberi anak yang dinamakan Samuel.  Samuel tersebut menurut kotbah Pak Pendeta akhirnya menjadi seorang nabi yang mengurapi Saul dan kemudian Daud menjadi raja Israel.

“Kita harus sabar sayang, saatnya nanti Tuhan akan memberi anak pada kita.” Demikian Adi suaminya memberikan penghiburan kepadanya.  Tetapi Adi tahu bahwa Ina memasuki tahun kelina pernikahan mereka, seringkali terlihat sedih dan kadang marah karena hal-hal remeh yang terjadi dalam keluarga.  Misal saja Adi pulang terlambat dari pekerjaannya, Ina akan menjadi marah.  Adi seperti tahu keadaan, sehingga Adi lebih banyak diam.  Adi dalam hal ini memang bijaksana.  Adi pun kemudian berusaha untuk menolak pekerjaan mengantar tamu ke luar pulau.  Jika itu ke kota yang berdekatan dengan kotanya, Adi lakukan, jika jauh apalagi luar pulau, maka kesempatan itu akan ia berikan kepada rekan kerjanya yang lain.

Ina sadar dengan kelakuannya, sehingga ia pun mawas diri.  Ina pun tidak lagi bekerja dengan keras, ia bekerja dengan agak santai.  Segala urusan yang bisa dilakukan esok hari, akan ia kerjakan esok harinya.  Padahal sebelumnya Ina akan mengerjakan pekerjaan esok hari itu dikerjakan pada hari ini.  Dulu, Ina ingin pekerjaan-pekerjaan selesai dengan perfect.  Tapi akhir-akhir ini ia bekerja dengan lebih slow.  Bahkan cuti tahunan yang biasanya hanya ia ambil separohnya, akhir-akhir ini ia ambil secara penuh.  Ina merasakan bahwa dia dan Adi perlu waktu banyak untuk bersama-sama.  Dengan demikian, Ina dan Adi akhir-akhir ini sering terlihat bersama.  Pergi ke sebuah pegunungan, seperti anak-anak sekolah, mereka membuat tenda berdua atau dengan teman mereka.  Sering juga Ina dan Adi pergi ke kafe untuk duduk dan bercengkerama berdua.

Kadang Adi menemani Ina ke kolam renang anak.  Tetapi Ina menyadari bahwa Adi juga harus bekerja, sehingga Ina pergi ke kolam renang anak lebih banyak sendirian.  Saat Ina mendengar tawa canda anak-anak di kolam renang ini, maka Ina pun merasa nikmat dan Ina pun memanjatkan doa kepada Tuhan tentang keinginannya segera punya anak.  Entah siapa yang menyanyi dengan karaoke, tiba-tiba ada lantunan lagu rohani.  “Tuhan selalu menolongku, selalu menjagaku, Dia menyenangkanku dan memliharaku, seumur hidupku… Tuhan selalu menolongku, selalu menjagaku, sehelai di rambutku tak akan terjatuh, tanpa seijin-Mu.”  Hati Ina menjadi seperti diiris-iris menyadari perbuatan Tuhan atas umat-Nya.  Betapa Tuhan mengasihi manusia dengan begitu besar-Nya.  Dalam perenungannya, Ina meyakini bahwa Tuhan akan memberikan apa yang menjadi permintaan doanya.

(Bersambung)

*Spesial buat H, R & Rn

*) Penulis tinggal di Ambarawa, riwa-riwi ke Salatiga/ Jepara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *