*) Oleh:Suyito Basuki
Bondan tercenung. Tangannya masih berusaha memiringkan tempat tepung gandum supaya gandum tak tersisa, semuanya masuk di tempat adonan. Apakah adonan ini akan menjadi adonanku yang terakhir di tempat ini? Ia berpikir begitu sambil tangannya yang sudah trampil, karena bekerja di toko roti Mandiri Bakery sudah belasan tahun, memencet tombol pengaktifan mesin adonan. Tidak berapa lama mesin adonan berderung, menggilas dan melumat gandum dan bahan-bahan lain pembuat roti. Biasanya, Ong Tek Khian, bos yang sudah mengajarinya membuat berbagai macam jenis roti dengan bermacam jenis rasa, akan memandangnya sambil memberi kode sesuatu. Ia sudah paham dengan maksud kode itu, bosnya itu inginkan suatu zat pemanis rasa harus jangan lupa dimasukkan, karena itulah yang menjadi ciri khas roti mereka.
Namun berharap hal seperti itu akan terjadi, seolah mustahil. Ong Tek Khian sudah bukan lagi pemilik toko roti yang didirikan 40 tahun yang lalu. Kepemilikan toko dan perusahaan roti itu sudah berpindah tangan ke Rasa Utama Bakery sejak hari ini. Bondan yang menjadi tenaga kesayangan Ong Tek Khian, tentu saja harus menyesuaikan kebijakan pemilik baru yang akan dan telah menjadi bos barunya. Menjelang akhir tahun, yang tentunya hati Bondan dan juga puluhan karyawan lainnya dipenuhi dengan bergumpal harapan adanya gaji tambahan untuk akhir dan awal tahun, yang pasti menjadi harapan keluarga yang ditinggal, tiba-tiba harus menjadi layu. Bondan dan juga teman-temannya bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah harapan itu akan terjadi? Apakah Bos Rasa Utama Bakery yang konon kelahiran kota Solo itu akan menerapkan manajemen yang sama dengan Ong Tek Khian, cina keturunan yang sangat memperhatikan karyawan-karyawannya? Ataukah sebaiknya mengikuti Ong Tek Khian kalau-kalau ia masih berusaha membuka usaha roti lagi? Tapi masih punya modalkah ia?
Dalam hati, Bondan mengumpat. Ini salahnya Ong Tek Khian. Bukan saja dirinya dan para karyawan yang harus kebingungan, tetapi termasuk anak dan istri Ong Tek Khian menjerit marah-marah. Bagaimana tidak emosional? Perusahaan dan toko roti yang memiliki aset miliaran rupiah, berpindah tangan hanya dalam semalam. Kegilaan Ong Tek Khian terhadap judilah yang membuat semuanya ini terjadi. Orang-orang yang sore itu seperti biasanya antre untuk membeli roti, mungkin belum tahu akan apa yang terjadi di dalam perusahaan dan toko roti itu. Pengatur lalu lintas, sebagaimana pada setiap akhir pekan sibuk mengatur arus lalu lintas di depan toko yang pasti mobil-mobil para pembeli roti yang membikin macet jalan.
Bondan ingat dengan sebuah cerita pewayangan, yang dulu ketika masih tinggal dengan ayahnya di Bantul Yogyakarta sering diajak nonton pertunjukan wayang kulit. Lakon yang sedang coba ia hidupkan dalam pikirannya adalah cerita Pandhawa Kasukan Dhadhu. Sebenarnya Bratasena sudah mengingatkan kepada Puntadewa kakaknya supaya berhenti main dengan Duryudana dan kurawa. Karena sejak sore mereka main, hingga tengah malam Puntadewa kalah melulu. Lagi pula uang mereka sudah habis. Baik dirinya maupun Arjuna, Nakula, dan Sadewa juga sudah tidak lagi mengantongi uang. Tapi rupanya dasar Puntadewa sedang lupa daratan, maka tak segan-segan mempertaruhkan kerajaan Amarta, bahkan istrinya, Dewi Drupadi pun ia pertaruhkan. Akhirnya, kalah! Amarta dan dewi Drupadi berpindah tangan, hanya dalam semalam. Negara yang susah payah dibangun dengan keringat dan perjuangan yang tanpa lelah, hanya diserahkan begitu saja pada lawan main yang memang angkara murka.
Sudah berkali-kali sebenarnya ia mengingatkan Ong Tek Khian. Dari segi usia, antara Bondan dengan bos toko roti itu tidak jauh berbeda. Lagi pula karena Bondan sudah bekerja sejak zaman perusahaan dan toko dipegang oleh ayah Ong Tek Khian, maka hubungan mereka pun menjadi akrab. Tidak jarang, Bondan yang telah memiliki kosa kata bahasa Sunda, bicara dengan Ong Tek Khian dengan bahasa Sunda. Tapi Bondan bukan Bratasena, tokoh wayang kulit yang tidak bisa berbahasa krama, sehingga setiap nasihatnya kepada Ong Tek Khian itu, ia mesti awali dengan kata, punten…
(Bersambung)
*) Penulis tinggal di Ambarawa






