Novel: Menguak Takdir Menepis Mimpi (1)

Fiksi151 Dilihat

Oleh : Erna Widyaningsih *)

Hidup

seperti bercanda

sedih dan gembira

berkelindan

seperti orang merenda

sendirian

tapi mengasyikkan

  1. Awal Bekerja, Baju Bermotif Seterika

Setelah lulus dari Perguruan Tinggi Swasta ternama di Yogyakarta, aku mulai mencari pekerjaan. Aku berusaha melamar menjadi guru SMP di Wonosobo, seperti yang disarankan oleh kampusku. Meskipun jauh dari tempat tinggalku, tidak apalah, yang penting untuk menambah pengalaman. Sudah tiga bulan berlalu belum ada jawaban. Aku berusaha mencari sekolah lain. Kubuat surat lamaran yang kutujukan untuk sekolah yang dekat sampai yang jauh dari rumah. Sudah kubuat lamaran untuk 3 sekolahan yang sekiranya masih membutuhkan guru IPA sesuai ijazahku. Aku tidak mau terlalu lama menganggur. Tiga bulan rasanya seperti setahun. Ngelangut.

Tak terasa bulan keempat aku menganggur semenjak lulus. Dan belum ada satupun jawaban untuk lamaranku dari sekolah – sekolah yang kutuju. Rasanya jenuh di rumah terus tanpa kesibukan. Sebenarnya aku juga sudah ikut program ikatan dinas di kampusku. Tapi aku belum tahu apakah aku lolos untuk ditempatkan di salah satu sekolah. Dari 35 mahasiswa satu jurusan IPA angkatanku yang ikut ikatan dinas, ada 15 orang termasuk aku. Aku sebenarnya tidak terlalu pintar, biasa saja. Mungkin karena aku tekun dalam belajar dan berusaha maka dapat ikatan dinas itu dan tiap semester aku mendapat beasiswa.

Aku teringat waktu pertama kali menerima uang beasiswa, rasanya bahagia sekali. Yang pertama kupikirkan waktu itu adalah ibuku. Aku ingin uang itu semuanya segera kuberikan pada ibuku. Ibu selama ini telah bersusah payah membiayai sekolahku. Aku bergegas pulang ke rumah kami di Semarang. Aku berlari menemui ibuku di belakang rumah.

“Ibu, coba lihat. Aku dapat beasiswa dari kampus”, kataku.

“Oh syukurlah, Lia. Ibu ikut senang”. Mata ibu berbinar memelukku.

“Bu, ini uang beasiswaku yang pertama kali. Meski tidak seberapa banyak, tapi ini buat ibu. Ibu mau dibelikan apa dengan uang ini?”, kataku.

Ibu menatapku dalam-dalam. Dia tersenyum lembut.

“Lia, ini uang hasil jerih payahmu kuliah. Ibu tidak minta apa – apa”.

Ibu mengembalikan amplop yang kuberikan padanya. Aku tertegun.

“Bu, ini untuk ibu. Dulu Lia sudah janji kalau nanti dapat uang beasiswa pertama kali akan Lia berikan pada ibu. Pakailah. Ibu mau membeli apa, atau mau menabung. Jadi tolong uang ini diterima ya bu”.

Kembali amplop yang berisi uang beasiswa aku berikan pada ibu.

“Bener ini untuk ibu?” kata ibuku.

“Iya bu, pakailah. Atau apa ibu mau dibelikan sesuatu untuk menghiasi rumah kita?”

“Iya sudah. Sana lihatlah ke ruang tamu, atau ruang tengah. Siapa tahu ada yang bisa kau belikan dari uangmu ini”, kata ibu kemudian.

Aku bergegas ke ruang tamu, ruang tengah dan dapur. Aku menimbang-nimbang, berpikir kira-kira benda apa yang pantas kubeli sebagai penghias ruangan di sini? Apa ya.

A ha. Akhirnya kudapat juga apa yang harus kubeli. Gordyn!

Ya gordyn di rumah orangtuaku ini warnanya mulai pudar dan sedikit kusam. Gordyn ini sudah termakan waktu. Sudah saatnya untuk diganti dengan yang baru.

“Bu, Lia belikan ibu Gordyn saja ya. Gordyn kita sudah usang”, kataku. Ibu tersenyum. Boleh.

Lalu kuambil meteran dan segera kuukur berapa kebutuhan panjang gordyn untuk semua jendela, dan pintu-pintu di rumah orangtuaku ini.

Esok harinya ketika aku sudah kembali ke Yogya, sepulang kuliah kupesankan gordyn plisketan sesuai ukuran yang kemarin sudah kucatat. Gordyn warna cokelat. Warna ini serasi dengan warna cream tembok rumah orangtuaku.

Seminggu kemudian, aku pulang ke Semarang dengan membawa gordyn yang siap kupasang ke jendela ruang tamu dan pintu kamar.

Tanpa menunggu lama, kupasang gordyn yang kubeli di Yogya. Wuih, indah sekali. Aku tak percaya, sekarang rumahku seperti baru, megah.

“Bagus banget, Lia. Makasih ya?”, kata ibu sambil menciumku terharu.

Aku juga ikut terharu.

”Iya, bu, sama – sama”

Seperti tak percaya, hasil beasiswaku ternyata bisa berguna. Aku melihat ibu senang. Matanya berbinar-binar.

Begitulah. Uang beasiswaku yang kuterima pertama kali, kupakai untuk membeli gordyn, penghias rumah orangtuaku.

—————————-

Oiya, tentang keluargaku. Aku berempat bersudara. Aku anak tertua dan cewek sendiri. Aku selalu berpikir bahwa ingin bisa meringankan beban orangtuaku untuk mencukupi kebutuhan kami semua. Itulah impianku, waktu itu.

Aku bertekad harus segera lulus sekolah dan bekerja. Aku ingin bisa membantu bapak ibuku mencari nafkah, mencari uang. Makanya aku mengambil jurusan kuliah jalur cepat, D-3. Bukan S-1.

Sejak lama aku ingin meringankan beban orangtuaku. Aku menyadari bahwa bapak dan ibuku tidak mudah mendapatkan nafkah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kami berenam setiap bulan.

Bapak bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan di Ungaran. Sedangkan ibuku di rumah merawat kami, aku dan tiga adik lelakiku. Ibuku seorang ibu rumah tangga. Meskipun begitu, ibuku wanita yang ulet dalam berusaha untuk menambah penghasilan keluarga. Ibuku pembuat dan penjual es lilin.

Es lilin buatan ibu beda dengan yang lain. Rasanya enak dan empuk. Makanya es lilin ibu selalu habis, — pendeknya laris manis tanjung kimpul, dagangan habis uang terkumpul.

(Bersambung)

*) Penulis Guru Mapel Fisika SMAN 1 Ambarawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *