Lukisan Penyaliban karya Subroto Sm, Warna Monokromatik Coklat Tua, Simbolkan Kefanaan Manusia (2)

Seni Budaya172 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki*)

Setelah di tahun 2002 Subroto Sm, pelukis senior Yogyakarta melukis dengan tema penyaliban (baca artikel sebelumnya: Lukisan Penyaliban karya Subroto Sm Ciptakan Kesan Tragis Dramatis (1)), maka tahun 2012, Subroto Sm kembali ciptakan lukisan penyaliban dengan media cat akrilik di kanvas, 70x90cm. Lukisan ini kemudian dikoleksi Oyik Edy Prakosa, seorang kolektor lukisan.

Subroto Sm dan Ibu bersama alm. Godod Sutejo dan rekan (pematung Dunadi dan Ibu) (Dokumen: Subroto Sm)

“Sepuluh tahun kemudian tepatnya dalam masa-masa prapaskah tahun 2012, saya kembali tergerak untuk melukiskan penyaliban Yesus lagi.  Dalam hal ini saya tetap berusaha menciptakan lukisan yang unik tentang penyaliban  Yesus dalam ide dan bentuk yang berbeda,” demikian urai Subroto Sm memberi latar proses kreatifnya.

“Seperti tertulis dalam Alkitab, penyaliban menjadi bukti tertinggi dari kasih setia Yesus yang rela berkorban demi sesama, menjadikan-Nya teladan dalam mengampuni dan peduli kepada orang lain,” ujar Subroto Sm terkait pengalaman rohaninya.

“Hal itu ditunjukkan-Nya dalam pengampunan untuk penyiksa-Nya (Lukas 23:34), pengharapan bagi penjahat di sisi-Nya (Lukas 23:43), kepedulian kepada Maria dan Yohanes (Yohanes 19:26-27), tidak membalas hujatan orang-orang terhadap-Nya;  dan puncaknya ketaatan sempurna kepada Bapa demi keselamatan manusia (Lukas 23:46),” 

“Bertolak dari pembacaan dan perenungan atas firman Tuhan di atas, saya menetapkan ide untuk melukiskan kasih setia Yesus kepada sesama,” demikian lanjutnya.

Berdasar hal-hal tersebut di atas, kemudian timbulah keinginan Subroto Sm untuk ciptakan sebuah lukisan yang unik, dengan demikian ia melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

 “Pertama: format lukisan saya pilih horisontal/landscape. Format ini melambangkan sifat kasih setia Yesus sebagai manusia kepada sesama di kiri-kanan-Nya. Secara visual hal ini menjadi unik, karena pada umumnya lukisan penyaliban Yesus berformat vertikal/portrait.”

“Kedua: bentuknya esensial dengan dominasi garis yang efektif dan efisien dalam warna monokromatik coklat tua. Warna coklat merepresentasikan warna tanah/debu, sebagai simbol bahwa manusia berasal dari debu, akan kembali menjadi debu (Kejadian 3:19)”

“Ketiga: tubuh Yesus berwarna putih kanvas kosong, namun secara visual menjadi bentuk yang berisi/positip, sekaligus menjadi simbol kesucian. Hal itu disebabkan rendering pada outline bentuk figur Kristus yang disapu dengan kuas keluar menjadi menggelap sehingga memunculkan bentuk tubuh Yesus yang putih.”

“Keempat: lukisan ini merupakan kanvas kedua yang berhasil. Dikerjakan dalam waktu ± 20 menit.”

Akhirnya, lukisan penyaliban Yesus yang ia idekan itu terwujud.  Terhadap lukisan penyaliban baik yang ia lukis di tahun 2002 dan di tahun 2012 itu, Subroto Sm berharap lukisan tersebut memberikan kebahagian bagi penikmatnya.  “Semoga kedua lukisan ini memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Bapak Irjenpol Suwondo Nainggolan dan Bapak Oyik Edy Prakosa, sebagai kolektor yang memilikinya, serta orang lain yang mengamatinya,” demikian ujarnya.

Subroto menjelaskan dua pendekatan dalam melukis.  “Saya melukis menggunakan dua pendekatan. Kadangkala saya hanya ingin membuat bentuk-bentuk seolah tanpa memikirkan isinya: dalam arti bentuk-bentuk itu sendiri sekaligus sebagai tema atau isinya (contoh: Torso. Nude, atau Gadis Duduk). Di saat lain saya melukiskan berdasarkan tema tertentu, seperti kasih sayang ibu dan anak. perasaan manusia yang terhimpit, bencana alam, penyaliban, kelaparan disb. Ide-ide lukisan bisa jadi baru saja muncul hari ini, tetapi bisa juga sudah tersimpan lama, tetapi belum sempat atau sulit diwujudkan,” jelasnya.

“Dalam hal visualisasi, saya menginginkan bentuk-bentuk yang tidak terlepas dari bentuk alami dan dapat mengekspresikan getaran tangan dan perasaan yang mendalam dengan bertumpu pada kekuatan garis.  Dengan cara demikian akan tercipta bentuk-bentuk yang esensial, murni, dan ekspresif.  Semoga wujud lukisan saya yang sederhana itu mampu menggugah dan memperkaya batin yang mengamatinya,” demikian harapnya.

Subroto Sm bersama Ikaisyo (Dokumen: Subroto Sm)

Subroto Sm, ia  Lahir di Klaten, Jawa Tengah, 23 Maret 1946. Tahun 1975 lulus sarjana Jurusan Seni Lukis STSRI  “ASRI” Yogyakarta; 1975-1977 belajar keramik di Tokyo Gakugei University, Jepang; 1999 lulus Magister Humaniora UGM Yogyakarta.  Pada tahun 1969-2011 mengajar di STSRI “ASRI”/ Fak Seni Rupa (FSR); FSMR; Pascasarjana  ISI Yogyakarta. Sejak 1967 sampai saat ini aktif berkarya dan  mengikuti pameran seni rupa kelompok di dalam dan di luar negeri. Alamat rumah: Jl. Suryodiningratan 68 Yogyakarta, 55141.

Subroto Sm dalam kiprahnya mendapat beberapa pernghargaan.  Tahun 1968, Piagam & Hadiah Wendy Sorensen Memorial Fund-USA untuk seni lukis terbaik dalam Pameran Seni Rupa Dies Natalis ASRI Yogyakarta 1968.  Tahun 2008, Piagam & Hadiah sebagai salah seorang pencipta lambang ISI Yogyakarta, berdua dengan Drs Parsuki; (23 Juli 2008). Dan tahun 2017, Piagam Penghargaan Jogja Annual Art #2, 2017: BERGERAK, atas Dedikasi dan Pemikirannya dalam mengawal seni rupa Indonesia. Tahun 2023, Subroto Sm dan Siti Adiati terima “Lifetime Achievement Award” dari Yayasan Biennale Jogja dalam penutupan acara Biennale Jogja #17: TITEN, 2023.

*) Penulis tinggal di Ambarawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *