KOTA YOGYAKARTA, wartaintegritas.com – Pameran Seni Rupa ARTJOG 2025, yang mengangkat tema “Motif: Amalan”, berlangsung di Jogja National Museum mulai 20 Juni hingga 31 Agustus 2025. ARTJOG 2025 menampilkan total 91 seniman. Rinciannya, ada 47 seniman untuk pameran utama dan 44 seniman anak & remaja pada program ARTJOGKids.
Selain pameran utama, ARTJOG 2025 juga menawarkan berbagai program menarik seperti ARTJOG Performance, Exhibition Tour, dan Meet The Artist, yang jadwalnya dapat dilihat di website resmi artjog.id dan Instagram @artjog.id. Pameran yang memiliki event tahunan ini oleh pengamat disebut sebagai ‘hadiah’ bagi dunia, di luar kalkulasi laba rugi yang kerap tak bisa ditakar nilainya.
Unik dan Menarik
Beberapa karya seni rupa bisa dilihat dari para perupa, baik yang sudah dewasa maupun kanak-kanak. Dalam berkarya, mereka memiliki filosofi-filosofi yang mendasari karya-karyanya. Lihat saja karya beberapa peserta pameran.

Edita Atmaja
Melalui karyanya, Edita Atmaja mencoba mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan pelopor yang hidup di area tertentu. Tempat-tempat seperti lapangan parkir, lobi gedung lama, pojok bangunan mangkrak, bahkan celah-celah lantai dan tembok retak merupakan lahan subur bagi jenis tumbuhan tersebut. Alih-alih melihatnya sebagai ‘tanaman liar’, ia tertarik mengamati kehidupan baru yang lahir sesudah tempat-tempat itu tidak lagi ‘hidup’. Tumbuhan pelopor- ingatlah rumput teki, kerokot dan lumut, tanaman herbal yang mirip semak-adalah agen- agen menakjubkan bagi lingkungannya: yang pertama tumbuh dan bertahan hidup dalam kondisi apa pun. Mereka menunjang adaptasi, evolusi, suksesi dan interaksi vegetasi dari waktu ke waktu. Lumut dan sejenisnya, misalnya menyuburkan tanah. Itulah proses kehidupan rimpang: tumbuh meluas tanpa hierarki, bergerak dan terus menjadi. Tumbuhan pelopor adalah hunian sekaligus sumber nutrisi bagi berbagai jenis hewan, maka berperan meningkatkan keanekaragaman hayati di sekitarnya.
Selama beberapa hari Edita yang lahir di Jakarta, 1986. Lulusan Art and Design, Auckland University of Technology (AUT), Selandia Baru, 2009 ini mengumpulkan tumbuhan dan benda-benda dari lingkungan yang terabaikan. Memindahkan ‘kepeloporan’ makhluk hidup itu dan mempersatukannya di dalam ruang baru berbentuk susunan pilar ‘tumbuh’. Objek-objek sisa yang berasal dari lingkungan yang pernah sarat akan interaksi, emosi dan komunikasi berbaur dengan organisme baru yang menyelubunginya perlahan-lahan. ‘Crux Anônumos’ adalah mengubur rasa familiar kita dengan keanoniman, dan sebaliknya. Gambar-gambar Edita yang dikerjakannya dengan sangat tekun-menumpuk noktah (stippling), alih-alih menarik garis-menampilkan citra kehidupan yang menakjubkan itu bersama serangkaian penampang geometris dari bangunan lama, jejak-jejak yang masih menancap di benaknya. Sebuah karya yang unik bukan?
Filippo Sciascia
Karya-karya Filippo Sciascia merupakan eksplorasi mendalam terhadap proses belajar manusia dalam kaitannya dengan semesta. Serial Primitive Learning, yang pertama kali dipresentasikan dalam pameran tunggal di Nonfrasa Gallery, mengeksplorasi bagaimana pengetahuan terbentuk secara akumulatif-melalui jejak purba, tubuh, energi, dan material alam. Bagi Sciascia yang mulai bekerja dan beraktivitas di Bali, Indonesia pada tahun 1988 ini, belajar bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga pengalaman inderawi dan eksistensial yang melibatkan interaksi dengan dunia sekitar.
Di dalam serial ini, ia menggunakan material seperti pigmen tanah, serbuk kuarsa, melatonin, hingga jamur hidup-bahan-bahan yang merepresentasikan keterhubungan antara manusia dan lingkungan. Karya-karya ini bukan sekadar objek visual, tetapi juga bentuk kristalisasi pengetahuan yang hidup-menyerupai ensiklopedia material dari semesta.
Presentasi Sciascia di ARTJOG merupakan sintesis dari Primitive Learning dan karya-karya sebelumnya. Filippo Amato Sciascia yang lahir di Italia, 1972 dan menyelesaikan studinya di Academia di Belle Arti Firenze, Florence inimenciptakan ruang di mana visual, konsep, dan energi saling berpadu sebagai medan pembelajaran. Lukisan, instalasi, dan karya intermedia di ARTJOG memperlihatkan pendekatan artistik yang tidak linier, tetapi jaringan yang menyerap berbagai sumber pengetahuan-dari pencapaian sains hingga mitos dan ritual purba.
Melalui praktiknya, Sciascia mengajak kita melihat bahwa semesta bukan sekadar objek observasi, melainkan ruang belajar yang tak henti memberi petunjuk. Karya-karyanya membuka kemungkinan baru dalam memahami relasi antara seni, ilmu, dan kehidupan.
Meta Enjelita
Karya patung atau konstruksi lunak Meta Enjelita yang lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 1994. Lulusan Jurusan Kriya Tekstil, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta, 2018 ini berfokus sepenuhnya pada kain, baik berkenaan dengan segi-segi materialitas maupun refleksinya. Materialitas kain mendekatkan rangkaian karya ini dengan realitas alam. Alam tampil melalui tahap-tahap pewarnaan kain secara alami (eco dyeing), baik lewat percobaan dengan proses oksidasi karat besi (rust dyeing) maupun pemanfaatan warna-warna tanah (soil dyeing). Pewarnaan kain secara organik ini melahirkan berbagai motif, abstraksi dan perwujudan objek-objek taktil yang mengundang rasa merasa kita untuk mendekat, menyentuh dan meraba. Refleksi Meta akhirnya menyadari keniscayaan sifat-sifat organik, fluktuasi atau ketidaktetapan yang selalu berlangsung seiring pertumbuhan dan pelapukan di dalam proses alamiah itu sendiri.
Inner Monologue menggambarkan posisi Meta yang bekerja di bidang tekstil, batik, dan mode, sebagai perempuan kidal, beraktivitas dengan tangan kiri. Dalam kehidupan kita sehari-hari, tangan kiri kerap kali memperoleh stigma negatif dibandingkan dengan kanan yang lebih positif. Melalui rangkaian karya ini Meta berupaya membangkitkan gambaran atau dimensi material, emosional, bahkan yang sensual dari struktur sosial yang menimbulkan ketidaknyamanan pada seorang kidal seperti dirinya. Perkembangan artistik Meta dapat dipetakan melalui proses perjalanan emosionalnya sendiri bersama kain, jarum dan benang. Elemen-elemen tanah dan besi yang membaur secara visual pada permukaan karyanya berkoeksistensi, menciptakan persepsi akan ruang hidup bersama bagi perbedaan-perbedaan yang ada.
Yudistira Zein Mahadika
Nah ini nih bocil yang ikut berpameran. Saat ini usiaYudistira 7 tahun. Yudistira telah memiliki minat pada dunia menggambar sejak usia 3 tahun. Tema yang paling menarik baginya adalah tentang keindahan alam bawah laut. Selain menggambar, ia juga senang membuat kerajinan tangan menggunakan bahan-bahan bekas. Melalui kesenangan itu, iaakhirnya bisa menampilkan karya dalam beberapa kegiatan pameran seni.
Saat liburan datang ,Yudistira suka memainkan gim dengan tema petualangan bernama Sprunky yang dipenuhi oleh karakter monster. Kecintaannya terhadap gim ini membawanya untuk mengembangkan karakter yang ada di dalamnya secara imajinatif, seperti yang terdapat pada karyanya. Salah satu contohnya adalah “Sale” (Sprunky Lele), karakter ikan lele yang dibuat sederhana. Atau “Sobot” (Sprunky Robot), yaitu karakter robot yang memiliki kekuatan untuk meningkatkan kemampuannya sendiri. Yudistiraberusaha menciptakan karakter-karakter ini dengan alur cerita baru berdasarkan imajinasi dan sesuatu yang dekat di dalam hidupnya.

Konseptual dan Filosofis
Dewi, mahasiswa Seni Rupa UNY dari Wonosobo mengetahui pameran ini dari sosial media, promosi ARTJOG di sosial media sangat gencar. ”ARTJOG tahun ini bagus sekali, karyanya konseptual, filosofis. Terlihat bahwa setiap karya benar-benar dipikirkan konsepnya, maknanya, instalasinya bisa merespon lingkungan sekitar dan isu-isu masa kini,” demikian Dewi sampaikan kesannya.
Dewi memilih karya favorit yaitu karya instalasi berjudul Secret of Eden karya Anusapati. “Ketika memasuki fasad ARTJOG feelnya langsung berubah, perasaan kita dibawa ke suasana karya yang diciptakan,” ujarnya.
Burhan, Fotografer dari Berbah Sleman mengetahui pameran ini sudah lama, menurut pendapatnya pameran ARTJOGmerupakan event tahunan pameran skala Internasional.
“Wangun tenan! Pameran ini selalu saya nantikan setiap tahunnya. Menyukai ARTJOG karena banyak karya Out of the box,” ujarnya menilai.
Burhan memiliki karya favorit instalasi tambang, berjudul Secret of Eden karya Anusapati. “Karya ini terbangun dari elemen-elemen hutan kering, totem, dan pertambangan yang menjadi fasad Arjog 2025,” ujarnya.
Dilan, seorang pendidik asal Pekalongan yang mengetahui Pameran ARTJOG dari teman-teman yang tinggal di Jogjamemiliki kesan lain lagi. “Sangat nano-nano, menyenangkan dan terbawa suasana sedih dari beberapa karya yang mengangkat isu-isu sosial seperti tambang,” demikian katanya.
Karya favorit Dilan adalah instalasi tumbuhan liar, yang berjudul Crux Anonumos karya dari Edita Atmaja lulusan Auckland University of technology, Selandia Baru. “Bagi saya karya ini sangat menyentuh, karena tumbuhan liar mencoba untuk survive di lingkungan yang sudah rusak, penuh sampah dan benda- benda tidak terpakai,” ujarnya.
Malik, konten kreator, Ciamis Jawa Barat mengetahui informasi adanya pameran saat kuliah di UNY Yogyakarta. Malik memiliki kesan positif terhadap pameran ini. “Bagi anak seni seperti kami tentu event ini sangat menarik, dan dinanti-nantikan tiap tahunnya,” demikian ujarnya.
Karya favorit bagi Malik adalah karya fotografi yang manyajikan visual siswa berseragam SD, SMP menyeberang jembatan untuk berangkat sekolah. “Karya ini sangat inspiratif sekaligus berani menyuarakan hal yang belum di jangkau pemerintah, ternyata masih ada ketimpangan di bidang pendidikan,” begitu komentarnya.
Spekulasi Pasar,Prekaritas Seniman, atau Limbah Lingkungan
Menanggapi pertanyaan tentang spekulasi pasar, prekaritas seniman, atau limbah lingkungan,kurator Hendro Wiyanto dan Bambang ‘Toko” Witjaksono dikutip dari written.id memberikan penilaiannya.
“Dukungan kepada seniman dan medan seni rupa ala ARTJOG adalah memberi ruang seluas-luasnya untuk menghadirkan karya yang tidak cuma untuk sedap-sedapan atau pajangan, tapi mengolah isu atau concern seniman pada tema tertentu,” demikian ujar Hendro Wiyanto.
Sementara Bambang ‘Toko’ Witjaksono memiliki ungkapan,”Sebenarnya kalau pasar itu hal yang berbeda ya. Artinya di ARTJOG itu kan lebih kuatnya itu wacana atau tema. Nah dari situ kemudian bagaimana prekaritas senimannya akan diketahui, yang kedua juga bagaimana impact atau peran-peran seniman dalam hal yang lain, misalnya masyarakat maupun lingkungan itu akan lebih terlihat.”
“Kalau menurut saya bukan hanya senimannya ya, bahkan ARTJOG-nya. Misalnya ARTJOG juga sudah mulai memikirkan bagaimana limbah atau sampah-sampah yang selama ini ada di ARTJOG, baik di pengunjung maupun panitia sendiri itu juga diolah. Jadi bukan hanya memilih tema, tapi juga bagaimana ARTJOG memang berperan aktif di situ,” lanjut Bambang.
Oleh: Suyito Basuki dan Kumoro










