Trilogi kedua: Tustel

Fiksi112 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki *)

Sekarang ini jamannya gawai atau gadget.  Kita bisa menggunakan telpon pintar kita untuk alat komunikasi dan juga untuk berfoto ria.  Dulu kan belum ada telpon seperti ini, maka yang kuimpikan adalah tustel atau kamera foto. 

Aku selalu kagum dengan alat yang bernama tustel ini.  Sewaktu masih kecil, aku diajak oleh tetanggaku ke sebuah studio foto, Tikson namanya, letaknya dekat Tugu Muda Semarang.  Setelah bersepeda sekitar satu setengah jam, maka kami bergaya dengan berbagai pose baik di dalam dan di taman di luar studio.  Bersama tetanggaku, mas Kirno, Kirmanto dan Marsono kami dijepret dan akhirnya keluarlah gambar foto hitam putih yang memesona.

Tustel kurindukan karena alat ini bisa mengabadikan kemana pun kita pergi.  Bukankah ini bagus untuk kenangan bahwa kita pernah muda dan saling mabuk cinta?  Aku kira cukup kenangan ini saja yang kita wariskan kepada anak dan cucu kita kelak, karena selain itu memang kita tak punya apa-apa.  Dengan tustel, akan kufoto wajahmu dan kuabadikan senyummu.  Foto-foto itu akan kupajang di ruang tamu dan di kamar pembaringanku.

Tustel juga bisa kugunakan untuk memotret peristiwa-peristiwa yang bisa mendukung berita yang kutulis.  Kau tahu bukan bahwa dulu aku punya cita-cita menjadi seorang wartawan.  Saat itu kupandang wartawan itu profesi yang keren, kemana pun pergi menenteng tustel.  Selain itu wartawan memiliki tugas mulia menjadi pewarta, sehingga masyarakat di tempat lain, bahkan di belahan dunia mana pun bisa tahu apa yang diberitakan.

Tustel pertama yang kumiliki itu sebetulnya tustel milik kampus tempat aku bekerja di Jogja.  Aku menjadi pemberita kampus dengan jurnal yang aku terbitkan rutin tiap bulannya.  Oleh pihak pimpinan, aku dipinjami tustel.  Gara- gara aku memberitakan kerusuhan yang terjadi di kampus, mendeskripsikannya terlalu detail supaya alumni bisa tahu kejadian sesusungguhnya, tiba-tiba pihak yayasan membreidel jurnal berita itu.  Aku membujuk pimpinan kampus yang meminjami tustel supaya tustel itu bisa kumiliki dari pada tidak berfungsi.  Akhirnya aku menjadi juru foto untuk peristiwa pernikahan-pernikahan tetangga.

Tustel yang kumiliki berikutnya kubeli saat aku mau ke  Belanda.  Kau setuju kubeli tustel itu walau sedikit mahal.  Dengan bangganya tustel selalu kutenteng, sejak di Bandara Ahmad Yani Semarang, Soekarno Hatta Jakarta dan Schipol Belanda.  Setelah pulang dari Belanda, tustel lebih banyak digunakan oleh anak kita.  Sayang sekali lensanya mulai buram.  Gonta-ganti baterai juga sekarang terasa mahal setelah aku pensiun seperti sekarang ini.  Apalagi anak-anak lebih senang menggunakan gawai untuk mengabadikan aktifitas mereka sehari-hari.

Pernah juga kubeli tustel kecil baru bersamamu, merk keluaran  Korea.  Setelah rusak kubeli sebuah kamera kecil juga, bekas.  Kubeli saat bertugas di Salatiga,  COD dengan pemiliknya di ruang kerja saat siang istirahat.  Saat itu anak bungsu kita mau ke Bali, perlu kamera katanya.

Tustel menjadi sebuah kenangan, dan pernah kita memilikinya.  Sayang sekali, banyak hasil jepretan tustel sekarang entah kemana.  Beberapa saja yang masih tertempel di dinding.  Sesekali aku melihatnya jika aku merindukanmu dan ingin mengenangmu.

*) Penulis tinggal di Ambarawa Kab. Semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *