Sudaryanti, Ciptakan Ratusan Lagu Berdasar Pengalaman Hidup

Seni Budaya426 Dilihat

YOGYAKARTA wartaintegritas.com – Suatu ketika Sudaryanti, kena tipu.  Ceritanya begini, Sudaryanti warga Gentingan RT. 04 RW. 06 Sido Agung Godean Sleman Yogyakarta ini suatu ketika  diminta datang ke rumah tetangga.  Tetangga tersebut minta tolong untuk menebangkan pohon pisang, berbarengan saat ada orang tak dikenal sudah bertamu dari pagi kemudian minta tolong dicarikan kos-kosan.

“Dia cari kos-kosan satu rumah utuh. Harga ngikut yang punya. Lha saya punya chanel, eee mau katanya, dan akan lakukan transaksi sorenya. Tamu tersebut bicara ini itu lha saya dimintai sejumlah uang dan next akan dikembalikan sorenya. Saya sama sekali tidak curiga apa – apa. Yaaaa sudah, uang saya raib dibawa orang tak dikenal itu,” kisah Sudaryanti pensiunan guru SD ini.

Sadar telah ditipu, Sudaryanti pulang dan nangis, di kamar kemudian ia buat lagu yang diberinya judul Modus.  Lengkapnya liriknya sebagai berikut: Jarene golek kos-kosan/ jebule modus penipuan/ akting memelas njaluk bantuan/ jebul tega aksi pemerasan// modus penipuan akeh tenan/ ngono ngene endinge merugikan/ sabar eling waspada ing panguripan/ aja nganti aku kowe dadi korban.

Genre Lagu Bermacam-macam

Sudaryanti yang mulai mencipta lagu sejak tahun 2010 ini, total sudah tujuh ratusan lagu yang ia ciptakan.  Genre lagunya pun menurutnya bermacam-macam.  Mulai dari Pop, Rock, Dangdut, Campur Sari, Keroncong, dan irama kontemporer lainnya.  Tema lagunya pun bermacam-macam.  Tentang wisata, kesehatan, pendidikan anak dan lain-lain.  Lagu dengan tema pendidikan antara lain: Ayo Membaca Buku, Aku Suka Makan Ikan, dan lain-lain.  Sedang lagu yang bertemakan wisata antara lain: Sleman itu indah, Tebing Breksi, Sleman Padhang lan Resik, Bupati Sleman, Roro jonggrang, Kutha Jogja, dan Wisata Sleman.

Saat serahkan lagu bertemakan minuman tradisional (Dokumen: Sudaryanti)

Sebuah lagu ciptaannya yang bertemakan minuman tradisional dilirik dan dipinang oleh seorang pengusaha UMKM yang poduknya sudah go international.  Lagu yang diberi judul “Wedang Uwuh” ini dipinang sebagai lampiran proyek indikasi geografis Kabupaten Bantul yang menurut Sudaryanti dikirm ke Presiden dan sukses tahun yang baru lalu. “Pernah juga mendapat penghargaan Rekor Muri pada even Minum Wedang Uwuh dengan peserta 9. 000 orang di wilayah Bantul,” demikian terang Sudaryanti yang mengajar di SD N Margoluwih Bantul sejak 1 September 2007 dan pensiun 1 Maret 2025 tahun lalu. 

Keluarga Pendidik

Sudaryanti lulus Sarjana Muda Seminari Theologia Injili Indonesia dan pernah kuliah juga di UKRIM dan IKIP PGRI Wates tetapi tidak sampai lulus karena terkendala biaya karena berbarengan menyekolahkan 3 anaknya.  Sudaryanti memiliki suami seorang pendeta, Maryanto yang menggembalakan sebuah jemaat di Godean Bantul Yogyakarta.  Dari pernikahan itu lahir tiga orang anak: Putri, Zimon, dan Yabes.  Saat ini Putri di Bandung, Zimon dan istrinya mengajar di Universitas Palangkaraya Kalimantan Tengah; sedang Yabes menjadi guru di Papua.

Bersama dengan suami (Dokumen: Sudaryanti)

Rupanya mereka adalah keluarga pendidik.  “Saya, ayah, ibu, suami pernah menjadi guru dan anak kami juga guru,” demikian ujar Sudaryanti dengan bangga.  Saat menjadi guru di SD BOPKRI Sidomulya dan SMP BOPKRI Rewulu,  Sudaryanti sempat mendidik anak-anaknya di sekolah tersebut.  “Saya ibu sekaligus guru mereka. itu Sangat butuh kebijaksanaan. Bersyukur mereka paham harus disiplin, saya pun harus memposisikan diri sebagaimana mestinya,” ujarnya.

Pengalaman mengajar Sudaryanti beragam, dari honor mengajar PAK  di SMK PGRI Sentolo Kulonprogo dan Pramuka di SMA, SMP dan SD Bopkri;  sebagai guru PNS diterima di SD Negeri Margoluwih  1 September 2007 s/d  1 Maret 2025.

Menanam Tanaman Hias dan Berkebun

Sudaryanti, selain mengisi hari-hari pensiun dengan mencipta lagu, dia juga mengembangkan hobi menanam tanaman hias.  Branding tanaman hiasnya adalah Yanti Love Flower.  Yanti Love Flower  saat ini mengelola bibit tanaman  100 lebih varietas dengan produk bibit 1.000 lebih. 

Buah-buahan hasil kebun (Dokumen: Sudaryanti)

Selain itu, Sudaryanti mengelola sebuah kebun seluas 600 m2.  Hasil buah-buahan disetor ke Toko Buah atau pembeli datang langsung ke rumah.  “Kemarin saat panen buah durian, terjual 1 juta rupiah,” katanya bangga.

Curhatan Kisah Hidup

Ada sebuah lagu ciptaan Sudaryanti yang sudah diunggah di Channel You Tube miliknya yang bernama Hallo Sudaryanti.  Lagu ini memiliki lirik antara lain: mbangun tresna wis saking suwene/ bebrayan ro kowe seprana-seprene/ ngerti watak wantune uga suba sitane/ berjuang kapan aku ngadhepi kowe/ ngersakke iki tansah tak turuti/ ngersakke kuwi aku pinangkani/ aku berjuang ora nguciwani/ aku setya nyandhing nganti saiki…  Seorang pemusik Edhy Putranto yang beralamatkan di Mejing Kidul sekaligus pemilik studio tempat rekaman, mengiringi Sudaryanti menyanyikan lagu ini.

Dari kiri Yabes (anak ke-3), Agin (menantu) Putri (anak 1), Rachel (cucu), dan Zimon Pereiz (anak ke-2). (Dokumen: Sudaryanti)

“Ini termasuk lagu kategori spesial karena curhatan saya sebagai istri  yang saat itu berjuang cari nafkah, suami sebagai pendeta yang sedang merintis di gereja di desa, hasil sangat minimalis.  Selama puluhan tahun tetap saya yang meng-handle kebutuhan tiga anak dan studi mereka.  Bersyukur saat kuliah, Tuhan tetap curahkan berkat sehingga mereka sukses studi S1 dan S2,” tutur Sudaryanti yang saat ini tinggal berdua saja dengan suami.   Keinginannya saat ini tetap menciptakan lagu sekaligus menyanyikan lagu sampai seumur hidupnya selain menanam pohon di pekarangan rumah, utamanya sayuran dan  pembibitan serta tanaman hias dan herbal. Sukses dan bahagia selalu ya bu, GBU.

(Suyito Basuki)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *