Oleh: Sylviana Dewi Kinasih *)
SALATIGA, wartaintegritas.com – Kota yang tersembunyi di kaki Gunung Merbabu dan Ungaran, adalah permata kecil di jantung Jawa Tengah. Kota ini tidak hanya dijuluki ‘Kota Hati Beriman’, tetapi juga diakui sebagai salah satu kota paling nyaman untuk meniti hari pada masa tua. Dengan udara pegunungan yang sejuk nan damai, suasana yang tenang, serta pemandangan alam yang hijau, Salatiga menawarkan perbedaan yang menyejukkan dari hiruk-pikuk kota besar. Reputasinya sebagai rumah ideal bagi para pensiunan dan lansia telah lama terukir; bukan hanya karena infrastruktur kotanya yang sederhana, namun utamanya karena sebuah fondasi sosial yang kuat, di mana toleransi telah menjadi denyut nadi warganya, menciptakan lingkungan yang aman, hangat, dan benar-benar inklusif.
Kota Salatiga berhasil meraih peringkat teratas dalam Indeks Kota Toleran (IKT) yang dirilis oleh SETARA Institute tahun 2024 yang lalu. Pencapaian ini menempatkan Salatiga di peta nasional sebagai mercusuar kerukunan. Namun, di balik angka statistik yang mengesankan, kota ini menampilkan sebuah kenyataan yang jauh lebih alami: di sini, toleransi bukan lagi sebuah pencapaian yang diperjuangkan, melainkan fondasi yang sudah menyatu dalam struktur sosial.
Kisah kerukunan Salatiga tampak jelas dalam tata ruang kota. Di jalur utama, Jalan Jenderal Sudirman, simbol-simbol keimanan berdiri berdampingan tanpa sekat yang mencolok. Masjid Agung, Gereja Kristen Jawa, dan Vihara setempat membentuk kelompok tempat ibadah dalam radius yang hanya membutuhkan waktu jalan kaki sejenak. Geografi ini mencerminkan sejarah panjang hidup berdampingan yang telah membentuk kesadaran kolektif warga.
Kondisi ini menegaskan bahwa keberagaman bukan hadir sebagai pendatang, melainkan sebagai elemen permanen yang diterima dan diakui. Tempat-tempat ibadah ini tidak saling mengintimidasi, justru memberikan rasa aman dan saling menjaga.
Toleransi di Salatiga telah bertransformasi dari sekadar wacana kebijakan menjadi etika kolektif yang terwujud dalam gerakan sosial sehari-hari. Selama periode perayaan besar seperti Natal atau Idul Fitri, pergeseran dinamika komunitas menjadi terlihat.
Warga dari komunitas agama yang berbeda secara refleksif mengambil peran dalam menjaga keamanan lingkungan, memfasilitasi parkir, atau bahkan memastikan logistik perayaan tetangganya berjalan lancar. Tindakan ini bukanlah respons terhadap perintah resmi, melainkan wujud dari prinsip tepa salira (tenggang rasa) yang diwariskan turun-temurun. Keterlibatan ini menunjukkan tingkat kepercayaan dan ikatan kekeluargaan yang telah melampaui batas-batas formal keagamaan.
Pemerintah Kota memang telah menempatkan kebijakan yang maju dan terbuka dan minim diskriminasi. Namun, narasi utama toleransi Salatiga terletak pada kebiasaan masyarakat. Hubungan kekerabatan yang kuat antarwarga telah menciptakan sebuah landasan emosional.
Ketika terjadi kebutuhan bersama, seperti musibah atau pembangunan, partisipasi lintas iman terjadi secara spontan. Solidaritas ini membangun jaring pengaman sosial yang memastikan bahwa setiap individu, tanpa memandang keyakinan, merasa menjadi bagian integral dan dihargai dalam komunitas. Ini menjadikan konflik sesama warga, khususnya yang berbasis identitas, menjadi sangat minim.
Pada akhirnya, Salatiga menyajikan sebuah studi kasus yang mendalam. Keberhasilannya melampaui sekadar kepatuhan terhadap hukum atau skor survei. Toleransi telah menjadi napas warga yang dilakukan secara otomatis dan berkelanjutan. Ini menjadikan “Kota Hati Beriman” sebagai contoh nyata bahwa keragaman adalah kekuatan yang diyakini bersama, bukan kerentanan yang harus diwaspadai.
*) Penulis mahasiswa Fak. Fiskom UKSW Salatiga













