Oleh: Benyamin Hadinagoro *)
Pernikahan dalam masyarakat Jawa bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan sebuah simfoni harmoni keluarga yang melibatkan restu, etika, dan penghormatan.
Salah satu fenomena budaya yang menarik untuk dicermati adalah tradisi “langkahan”—sebuah prosesi yang dilakukan ketika seorang adik memutuskan untuk menikah mendahului kakak kandungnya.
Peristiwa yang baru-baru ini terjadi di Desa Boro, Purworejo, pada Kamis (19/03/2026), menjadi pengingat bahwa di tengah arus modernisasi, nilai-nilai kultural ini masih memegang peranan krusial sebagai perekat hubungan persaudaraan.
Esensi Penghormatan di Atas Mitos
Secara tradisional, ada mitos yang menyelimuti larangan melangkahi kakak. Namun, jika kita melihat lebih dalam, tradisi ini sebenarnya adalah manifestasi dari tata krama Jawa yang mengedepankan “andhap asor” (kerendahhatian).
Melalui pemberian “pelangkah”—baik berupa perhiasan, uang, atau barang hobi—sang adik sebenarnya sedang mengirimkan pesan cinta dan pengakuan atas posisi sang kakak dalam hierarki keluarga.
Hadiah tersebut bukanlah “uang pelicin” agar izin keluar, melainkan simbol keikhlasan dan dukungan dari sang kakak agar adiknya dapat menempuh hidup baru dengan tenang.
Sinergi Budaya dan Iman
Hal yang menarik adalah bagaimana tradisi ini berkelindan dengan nilai-nilai religius. Dalam perspektif iman Katolik, misalnya, tidak ada larangan hukum kanonik bagi seorang adik untuk menikah lebih dulu. Namun, Gereja tetap memandang positif praktik budaya ini sebagai bentuk penghormatan terhadap orang tua dan saudara, selama esensi cinta kasih menjadi dasarnya.
Ini menunjukkan bahwa tradisi langkahan bersifat adaptif; ia bisa berdiri sebagai identitas kultural tanpa harus berbenturan dengan prinsip administratif maupun teologis.
Menjaga Harmoni di Era Modern
Upacara langkahan yang melibatkan elemen simbolis seperti “tumpeng golong” yang melambangkan kesucian niat, hingga “ayam ingkung” yang bermakna penghormatan, mengajarkan kita tentang pentingnya komunikasi antaranggota keluarga. Di zaman di mana ego sering kali mendominasi, prosesi sungkeman dan permohonan maaf dalam langkahan justru menjadi jembatan untuk meminimalisir potensi konflik batin atau rasa “terlupakan” pada sang kakak.
Pada akhirnya, tradisi ini adalah sebuah doa bersama. Saat sang adik melangkah menuju pelaminan, seluruh keluarga—termasuk kakak yang dilangkahi—turut memberikan restu terbaiknya, sembari menyelipkan harapan agar sang kakak pun segera dipertemukan dengan jodohnya.
Menjaga tradisi ini berarti menjaga hati. Di sanalah letak keindahan sejati dari sebuah keluarga yang tetap berpijak pada akar budayanya.
*) Penulis tinggal di Klaten










