Oleh: Suyito Basuki *)
Buku biografi adalah buku yang menuliskan kisah hidup seseorang. Ini perlu dibedakan dengan buku auto biografi, buku yang menuliskan kisah hidup penulis itu sendiri.
Berdasarkan pengalaman yang saya lakukan, setidaknya ada enam langkah penulisan buku biografi.
Langkah pertama: menentukan obyek penulisan
Sebelum menentukan obyek penulisan, kita perlu melakukan pengamatan terhadap tokoh-tokoh yang kita nominasikan sebagai obyek penulisan. Tokoh-tokoh inih seyogyanya memiliki prestasi dan keunikan di bidang keilmuan atau usahanya masing-masing. Hal ini akan berpengaruh pada saat naskah diserahkan ke penerbit dan saat pemasaran buku itu. Selain itu, tokoh yang memiliki keunikan dan prestasi sangat mudah untuk dieksplorasi penulisannya.
Saat saya menentukan Pdt. Em. Sularso Sopater sebagai obyek penulisan buku biografi “Nabi Bisu yang Banyak Bekerja”, saya melihat bahwa Pdt. Em. Sularso Sopater saat menjadi Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) pernah terjadi kontroversial mengenai beliau. Saat krisis moneter terjadi banyak pemberitaan bahwa Pdt. Em. Sularso Sopater ini menyerahkan bantuan emas kepada pemerintah melalui Presiden Suharto saat itu.
Selain itu, Pdt. Em. Sularso Sopater memiliki ketokohan yang luar biasa di lingkungan Gereja Kristen Jawa dan di kampus Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta. Pdt. Em. Sularso Sopater juga merupakan ikon pada waktu itu, bahwa tokoh Kristen pun bisa terlibat dalam pemerintahan Orde Baru.
Pertimbangan yang lain adalah bahwa kebetulan saya bersama beliau sedang tergabung dalam proyek pekerjaan di Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Sehingga hal ini memudahkan komunikasi saya dengan beliau untuk menulis biografi tentangnya.
Langkah kedua: melakukan survei dan pencatatan
Setelah kita menentukan tokoh yang dijadikan obyek penulisan, maka langkah selanjutnya adalah melakukan survei dan pencatatan serba-serbi mengenai tokoh itu.
Jika tokoh tersebut masih hidup, maka kita perlu melakukan wawancara langsung dengannya. Wawancara langsung bermanfaat untuk mengetahui sejarah hidup tokoh tersebut dari sumber pertama. Selain itu dari wawancara kita juga akan mendapatkan ekspresi semangat hidup yang bisa kita deskripsikan saat mengisahkannya.
Peralatan yang dibutuhkan di sini adalah tape recorder atau Hand Phone yang bisa merekam pembicaraan dan alat-alat foto yang bisa digunakan untuk mengabadikan dalam bentuk gambar.
Saya menginap di rumah Pdt. Em. Sularso Sopater di daerah Bekasi selama empat hari saat melakukan survei dan pencatatan tentang beliau. Selama empat hari itulah beliau meladeni semua pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan dan bersama beliau membongkar-bongkar dokumen tertulis maupun foto-foto yang dibutuhkan yang berada di rumah beliau. Selama empat hari itu juga saya juga berkesempatan mengamati kebiasaan-kebiasaan beliau setiap harinya dalam hal olah raga dan lain-lain. Selain itu saya juga berkesempatan berkenalan langsung dengan putra putri beliau bersama dengan cucu-cucunya.
Jika tokoh yang akan kita tulis sudah meninggal, maka survei itu akan kita lakukan dengan menemui dan mewawancarai ahli waris atau sanak saudara terdekat yang memahami kehidupan tokoh obyek penulisan tersebut. Membaca dokumen yang berupa tulisan tentang tokoh itu serta buah-buah pikirannya yang tertuang dalam buku atau artikel karyanya sangat penting dikerjakan. Selain itu mewawancarai tokoh-tokoh yang bersinggungan dengan tokoh obyek penulisan tersebut dalam pendirian dan karya juga sangat penting dilakukan.
Langkah ketiga: melakukan penulisan
Kita melakukan penulisan dengan terlebih dahulu membuat garis besar buku. Biasanya garis besar buku biografi berdasarkan alur kronologi. Alur ini mengisahkan perjalanan hidup tokoh dari sejak lahir, remaja, dewasa dan masa akhir tokoh tersebut.
Namun bisa juga alur berdasarkan tema-tema yang kita tentukan. Misalnya kita mengisahkan tokoh tersebut dari isu persoalan satu ke isu persoalan berikutnya dan bagaimana cara mengatasi tokoh terhadap isu-isu persoalan tersebut.
Atau bisa juga alur ditulis berdasarkan ruang. Misal menceritakan tokoh dari perpindahan tempat tugas yang satu ke tempat tugas yang lain.
Dalam buku biografi “Nabi Bisu yang Banyak Bekerja”, saya melakukan penulisan dengan alur biasa yakni kronologi. Saya mengisahkan Pdt. Em. Sularso Sopater mulai beliau dilahirkan, masa remaja yang bersentuhan dengan masa perjuangan melawan penjajah, masa pernikahan, masa memiliki berbagai jabatan dan pada akhirnya tanggapan para sahabat terhadap beliau.
Langkah ketiga: melakukan penyuntingan
Sebagaimana lazimnya, penyuntingan dilakukan supaya tulisan terhindar dari kesalahan-kesalahan ejaan. Selain itu, penyuntingan juga upaya menghilangkan kekeliruan informasi nama-nama keluarga, pekerjaan yang pernah dilakukan dan lain-lain.
Saya bersyukur, Pdt. Em. Sularso Sopater saat itu sangat aktif membantu penyuntingan buku. Setiap naskah selesai saya buat, lalu saya kirimkan ke beliau melalui email. Sesegera mungkin beliau akan mengoreksi dan mengembalikan ke saya dengan cara mengirimkan lewat email. Sungguh saya merasa sangat tertolong.
Langkah keempat: melakukan penulisan ulang
Berdasarkan kerja penyuntingan yang kita lakukan baik mandiri atau dengan bantuan orang lain, kita menemukan kesalahan-kesalahan ejaan, penulisan kata, penyusunan kalimat dan informasi-informasi yang salah yang perlu diperbaiki.
Sebaiknya penulisan ulang segera dikerjakan, jangan ditunda-tunda. Menunda pekerjaan menulis ulang ini akan mengakibatkan tidak adanya mood dalam penulisan. Selain itu juga menjadikan kredibilitas kita sebagai penulis di mata tokoh yang kita jadikan obyek penulisan dan penerbit yang kita hubungi sebelumnya menjadi berkurang.
Ketika semua naskah perbaikan terhadap buku “Nabi Bisu yang Banyak Bekerja” sudah rampung saya kerjakan, sebelum saya kirim ke penerbit pun saya kirimkan ke Pdt. Em. Sularso Sopater lebih dahulu supaya diperiksa. Ketika beliau sudah mengatakan bahwa naskah itu sudah “fix”, barulah naskah saya kirimkan ke penerbit yang telah siap memproses dan mencetaknya.
Langkah kelima: negoisasi dengan penerbit
Negoisasi dengan penerbit itu terkait antara lain dengan model honor penulisan yang akan kita terima. Apakah buku itu akan dibeli hak ciptanya atau tidak. Jika buku itu dibeli hak ciptanya, maka kita akan mendapatkan honor sekali, kemudian hasil dari penjualan buku akan menjadi hak sepenuhnya penerbit.
Namun jika kita memutuskan untuk menerima royalti, maka kita akan mendapatkan honor sekian persen dari hasil penjualan buku tersebut. Setiap buku tersebut dicetak ulang berikut berapa jumlah eksemplarnya, kita akan diberi tahu dan dimintai persetujuan. Oleh karenanya penerbit akan memberikan laporan rutin perihal berapa buku yang telah laku terjual dan berapa royalti yang telah ditransfer ke rekening kita dalam periode waktu tertentu.
Langkah keenam: menerima feed back dari pembaca
Langkah ini sangat penting, sangat berguna untuk catatan jika buku yang diterbitkan tersebut akan melakukan cetak ulang. Demikian juga saat akan melakukan penulisan buku biografi terhadap obyek tokoh berikutnya, feed back atau masukan dari pembaca itu sangat penting.
Feed back atau masukan itu bisa kita dapatkan pada saat launching buku kita itu atau dengan membaca resensi buku biografi tersebut di media massa. Buku “Nabi Bisu yang Banyak Bekerja” dilakukan launching di aula STT Jakarta. Saya berkesempatan sebagai penulis menyampaikan kata pengantar terhadap buku tersebut setelah Pdt. Em. Sularso Sopater menyampaikan sebelumnya.
Banyak tokoh-tokoh gereja yang hadir pada waktu itu. Saya pun berkesempatan berkenalan dengan mereka dan saya sampaikan kemungkinan saya suatu ketika menulis biografi kehidupan mereka.
*) Penulis tinggal di Ambarawa






