Oleh: Suyito Basuki *)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, h. 413) keluarga adalah sekelompok orang yang menjadi tanggungan dalam satu rumah, terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anaknya (keluarga inti, bhs Jawa: batih), atau juga diartikan sebagai satuan kekerabatan yang mendasar dalam masyarakat. Definisi ini menekankan ikatan darah atau perkawinan serta tinggal bersama dalam satu rumah sebagai unit terkecil dalam masyarakat.
Menurut KBBI, h. 504, melayani artinya membantu menyiapkan atau mengurus keperluan orang lain, menghidangkan makanan/minuman, atau merespons ajakan/tantangan, yang bisa juga berarti mengurus penggunaan mesin atau senjata. Kata dasarnya adalah layan, dan dapat membentuk kata lain seperti pelayan (orang yang melayani) atau pelayanan (perihal atau cara melayani, jasa).
Menurut Alkitab, melayani artinya mengabdikan diri, memberikan diri menjadi berkat bagi orang lain, memprioritaskan kebutuhan sesama, dan melakukan segala sesuatu dengan hati rendah hati dan kasih, meneladani Yesus Kristus, bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk memuliakan Tuhan. Ini adalah ungkapan kasih kepada Tuhan dan anugerah-Nya yang memungkinkan kita menjadi alat-Nya.
Menurut KBBI, h. 741, rendah hati artinya sifat atau sikap yang tidak sombong atau tidak angkuh, serta tidak memandang rendah orang lain. Sifat ini mencerminkan sikap tenang, sederhana, dan kesadaran akan keterbatasan diri, berbeda dengan rendah hati (minder) yang merasa diri kurang.
Menurut Alkitab, rendah hati artinya memiliki sikap tidak sombong, menganggap orang lain lebih utama, mau diajar, melayani sesama, dan menyadari diri sebagai ciptaan Tuhan yang membutuhkan kasih karunia-Nya, yang semuanya dicontohkan oleh Yesus, bukan merasa minder atau tidak mampu, melainkan dengan sukarela tunduk pada kehendak Allah dan mengutamakan kepentingan orang lain. Ini adalah pondasi kebajikan yang membawa berkat dan ditinggikan oleh Allah.
Keluarga yang melayani dengan rendah hati berarti sekelompok orang yang terikat dalam ikatan darah atau perkawinan yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang mengabdikan diri, memberikan diri menjadi berkat bagi orang lain, memprioritaskan kebutuhan sesama, melakukan segala sesuatu dengan hati rendah hati dan kasih, tidak menganggap orang lain lebih rendah dengan meneladani Tuhan Yesus. Mampukah keluarga-keluarga Kristen bertindak seperti itu?
Tuhan Yesus dalam Markus 10:45, juga tertulis dalam Matius 20:28 menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan melayani bahkan memberi nyawanya sebagai tebusan bagi banyak orang. Hal itu sudah dibuktikan oleh Tuhan Yesus dengan menyerahkan diri, direndahkan, dianiaya hingga mati dalam penyaliban, sebuah kematian yang tidak terhormat pada waktu itu. “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
Siapa orang yang tidak ingin dilayani? Banyak orang bercita-cita menjadi orang yang hidupnya sukses dan kaya raya. Karena orang sukses dan kaya rayalah hidupnya sehari-hari dilayani oleh orang lain. Dari masalah makanan, bepergian, pekerjaan, pendidikan dan lain-lain tidak perlu dikerjakan sendiri. Orang lain bisa mengerjakan, mempersiapkan, membantu untuk berbagai keperluannya itu. Orang yang sukses dan kaya raya bisa memberi imbalan uang untuk segala keperluan tersebut.
Sementara kata ‘melayani’ memiliki pengertian yang berbalik arah 180 drajat dengan kata ‘dilayani’. Dari pengertian kamus dan alkitab, melayani pada prinsipnya mengutamakan orang lain, memberikan diri untuk kepentingan sesama. Oleh karena itu muncul kata ‘pelayan’ dengan pekerjaan utama membantu menyelesaikan pekerjaan tuannya. Pada jaman Tuhan Yesus pelayan bisa berarti budak atau ‘doulos’ dalam bahasa Yunaninya. Seorang budak tidak memiliki hak apa-apa. Walaupun sudah melakukan segala macam pekerjaan, tetapi tuannya tidak wajib mengucapkan terimakasih kepada pelayan tersebut. Konsep pelayan pada waktu itu adalah telah menjadi milik tuannya. Tuannya tersebut telah membeli budak tersebut di pasar budak.
Bagaimana menjadi keluarga yang melayani dengan rendah hati? Yang pertama hendaknya anggota keluarga melakukannya lebih dahulu secara internal dalam keluarga masing-masing. Kolose 3:18-21 menuliskan seorang istri yang harus menundukkan diri kepada suami, suami yang harus mengasihi istri dan tidak berlaku kasar kepadanya, anak-anak yang harus taat kepada orang tua dalam segala hal, serta orang tua (bapa-bapa) yang tidak boleh menyakiti hati anaknya supaya mereka tidak tawar hati. Dengan melakukan ketentuan-ketentuan tersebut, maka secara internal sebuah keluarga sudah melakukan melayani satu sama lain.
Yang kedua, keluarga secara eksternal melayani sesama dengan rendah hati. Tuhan Yesus yang datang bukan untuk dilayani melainkan melayani, bahkan memberikan nyawanya untuk menjadi tebusan bagi banyak orang adalah teladan utama dalam hal ini. Tuhan Yesus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah, melainkan telah mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan manusia, merendahkan diri, hingga mati di kayu salib (Filipi 2:6-8).
Tujuan Yesus datang ke dunia dengan hidup menghamba adalah supaya manusia yang berdosa dapat diselamatkan dari maut dan mendapatkan anugrah keselamatan kekal (Roma 6:23; Roma 3:23-24). Supaya keluarga dapat melayani dengan rendah hati hendaknya memiliki visi dan tujuan hidup sebagaimana yang dimiliki Tuhan Yesus. Keuntungan material dalam pekerjaan ini belum tentu didapat, bahkan mungkin akan terdapat kerugian secara material karena pengorbanan-pengorbanan yang dilakukan. Tetapi dengan memposisikan diri hidup bahwa keluarga telah dimiliki oleh Kristus, maka kita bisa hidup menghamba yang mendatangkan keselamatan bagi orang yang semula belum percaya kepada Tuhan Yesus dan menjadi berkat bagi sesama orang percaya.
*) Penulis tinggal di Ambarawa









