Oleh: Suyito Basuki *)
SALATIGA, wartaintegritas.com – Pada tanggal 6 April 2023 dua tahun yang lalu, Setara Institute memberikan penghargaan kepada masyarakat Salatiga. Penghargaan sebagai kota yang memiliki Indeks Kota Toleran (IKT) ke-2 saat itu. Namun setahun kemudian di tahun 2024, oleh Setara Institute Salatiga dinobatkan sebagai kota yang memiliki IKT nomor 1 dengan meraih skor 6,544, Setelah itu baru menyusul kota Singkawang di urutan ke-2 dengan skor 6,420, padahal tahun 2023 Singkawanglah kota dengan IKT nomor 1. Menurut Direktur Eksekutif Setara Institute, Halili Hasan sebagaimana yang dikutip oleh Kompas.com 27/5/2025 menyatakan bahwa Salatiga tahun 2024 menghadirkan inovasi berupa produk hukum promotif terhadap toleransi, yakni Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Toleransi Bermasyarakat dan Penanganan Konflik Sosial.
Berikut kota-kota yang disebut memiliki IKT berdasarkan penelitian dan publikasi Setara Institute sebagaimana yang dikutip Kompas.com. Setara Institute menobatkan kota Semarang, Jawa Tengah sebagai kota dengan indeks toleransi tertinggi nomor tiga dengan skor 6,356. Lalu, di peringkat keempat diisi oleh kota Magelang, Jawa Tengah dengan raihan skor 6,248. Sementara itu, di peringkat kelima ada kota Pematang Siantar, Sumatera Utara dengan skor 6,115.
Kemudian, kota dengan indeks toleransi tertinggi di peringkat keenam diisi oleh kota Sukabumi, Jawa Barat dengan skor 5,968. Lalu, di peringkat ketujuh ada Bekasi, Jawa Barat dengan capaian skor 5,939. Adapun, peringkat kedelapan diisi oleh Kediri, Jawa Timur dengan skor 5,925. Peringkat kesembilan ditempati oleh Manado, Sulawesi Utara dengan skor 5,912. Dan, di peringkat ke-10 diisi oleh kota Kupang Nusa Tenggara Timur dengan skor 5,853. (Kompas.com 27/5/2025)
Dengan memiliki IKT nomor 1 menunjukkan nilai toleransi yang tinggi di dalam kehidupan masyarakat Salatiga. Meski masyarakat berbeda-beda dan suku antar ras dan golongan, tetapi mereka hidup rukun dan guyub membangun kotanya bersama-sama.
Saya pernah menyaksikan sebuah istigotsah di Lapangan Pancasila, berjalan dengan tertib tanpa gangguan apa pun. Rekan-rekan Kristiani merayakan natal, biasanya tanggal 25 Desember dini hari di lapangan terbuka dengan dihadiri oleh ribuan massa dari inter-denominasi dan berlangsung tertib dan aman.
Asal-usul Nama
Pada waktu saya masih sekolah di SD, sering mendengar cerita guru tentang terjadinya nama “salatiga”. Konon terdapat seorang pembesar Kota Semarang yang bernama Ki Ageng Pandanaran. Karena keinginan Ki Ageng Pandanaran yang sangat besar memperdalam keislamannya, maka bersama dengan istri beliau melakukan perjalanan ke daerah Bayat yang sekarang termasuk wilayah Kabupaten Klaten. Di Bayat ini ada seorang ahli Agama Islam yang berjuluk Sunan Bayat.

Sesampainya Ki Ageng Pandanaran di daerah yang sekarang disebut Tuntang, Ki Ageng Pandanaran dicegat oleh 3 orang begal. Begal adalah sebuah pekerjaan yang mencegat orang dan meminta harta kekayaan yang dibawa orang yang dicegat itu. Jika orang yang dicegat tidak memenuhi permintaan, maka begal itu dengan tega akan menganiaya atau melukai orang yang dicegat itu dengan senjata yang dibawa.
Saat Ki Ageng Pandanaran dicegat oleh ketiga begal itu, Ki Ageng Pandaran berkata,”Salah tiga (maksudnya yang bersalah tiga orang begal tersebut).” Dari “salah tiga” tadi kemudian berkembang menjadi kata Salatiga yang akhirnya menjadi sebuah nama kota kecil yang dihimpit oleh Kabupaten Semarang dan Kabupaten Boyolali itu.
Menurut catatan yang dikutip Kompas.com 14/1/2022, sebagaimana yang tertulis di Prasasti Plumpung yang berupa batu andesit di Kelurahan Kauman Kidul Kecamatan Sidorejo Salatiga yang keberadaannya sejak tahun 750 Masehi. Di batu andesit berukuran panjang 170 cm, lebar 160 cm dengan garis lingkar 5 meter itulah tertulislah asal-usul Salatiga. Seorang sejarawan dan ahli epigraf Dr. J.G de Casparis yang mentransliterasi tulisan di prasasti yang kemudian disempurnakan oleh Prof. Dr. R. Ng Poerbatjaraka. Dalam tulisan itu terdapat informasi bahwa daerah Salatiga dulunya bernama Hampra dan berstatus sebagai tanah perdikan atau swatantra. Para sejarawan memperkirakan bahwa pemberian status perdikan itu diberikan oleh Raja Bhanu karena masyarakat Hampra dianggap sudah berjasa. Raja Bhanu saat itu memiliki wilayah sekitar Salatiga, Kabupaten Semarang, Ambarawa, dan kabupaten Boyolali.
Destinasi Wisata
Menurut catatan Tripadvisor, ada beberapa destinasi wisata yang bisa dikunjungi di Salatiga. Setidaknya sepuluh destinasi wisata tersebut adalah: 1. Taman Wisata Gunung Merbabu, 2. Gunung Merbabu, 3. Air Terjun Kalipancur, 4. Taman Wisata Kopeng, 5. Pemandian Air Alam Muncul, 6. Klenteng Hok Tiek Bio, 7. Kopeng Treetop adventure Park, 8. Top Selfie Pinusan Kragilan, 9. Menunggang Kuda Havana, 10. Nakamura The Healing Touch.

Salatiga berhimpitan langsung dengan Kabupaten Semarang. Selangkah lagi saja juga bisa mengunjungi destinasi wisata yang ada di Kabupaten Semarang. Sebagaimana yang penulis ketahui adalah wisata: 1. Rawa Pening, 2. Taman Hiburan Saloka, 3. Wisata Kota di Awan Goa Rong, 4. Dusun Sumilir, 5. Taman Wisata Eling bening, 6. Taman Religi Goa Maria, 7. Wisata Taman Bunga dan kuliner di Bandungan dan lain-lain.
Sejuk dan Nyaman
Seorang Dekan Fakultas Sains dan Matematika Unniversitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Wahyu Hari Kristiyanto (51) yang saat ini bermukim di Perum Bulu Permai Salatiga menyebut merasa nyaman hidup di Salatiga. Kenyamanan hidup di Salatiga karena anugerah Salatiga sebagai kota pendidikan dan kota bertoleransi tinggi antarumat beragama dan suku budaya.
“Hidup di Salatiga memang cukup ‘hemat’ dengan kesejukan kotanya yang memungkinkan tempat tinggal tidak perlu AC dan relatif sedikit gangguan nyamuk. Biaya hidup yang meliputi harga sewa rumah, harga makanan, sayuran yang relatif lebih rendah dibanding saerah lain menambah imej bahwa hidup di Kota Salatiga memang murah dan memikat. Di Salatiga juga tersedia penginapan dari homestay hingga hotel berbintang dengan harga yang tergolong sangat terjangkau,” demikian Wahyu Hari Kristiyanto pria asal Jepara namun sudah hidup puluhan tahun di Salatiga.
Kota Pelajar
Julukan lain yang disematkan kepada kota Salatiga adalah “Kota Pelajar”. Mengapa demikian, di Salatiga banyak berdatangan para siswa sekolah dan terutama mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dari luar negeri juga untuk melakukan studi di Salatiga.
Di Salatiga terdapat kampus legendaris Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang menampung mahasiswa dari berbagai pulau di wilayah Indonesia sehingga UKSW ini sering disebut sebagai kampus Indonesia mini.
Di samping itu ada universitas dan sekolah tinggi, yakni Universitas Islam Negeri atau UIN yang semula adalah Institut Agama islam Negeri (IAIN). Selain itu ada juga Akademi Kebidanan (AKBID) Ar-Rum, Akademi Kebidanan (AKBID) Bhakti Nusantara, dan Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STIBA) Satya Wacana.
Di Salatiga juga terdapat sekolah internasional, tempat di mana para profesional dari berbagai manca negara menyekolahkan anaknya di sana. Sekolah dari TK, SD, SMP dan SMA ini bernama Mountain Christian School. Sekolah ini terletak di Kecamatan Sidomukti Salatiga.
Suasana Kondusif
Suasana kondusif diperlukan bagi pekerjaan apa pun termasuk pekerjaan jurnalistik. Seorang jurnalis akan merasa nyaman bekerja dalam situasi yang aman dan di masyarakat yang saling menghargai adanya pelbagai perbedaan.

Saya pernah menulis feature tentang Taman Kota Salatiga. Meski saya baru pertama kali bertemu dengan seorang pimpinan taman itu, namun penerimaannya sangat baik dan menjawab apa yang saya tanyakan dengan runtut. Kemudian saya wawancara kepada pengunjung taman yang kebetulan dari warga Amerika yang menikah dengan orang Tegal dan tinggal di Salatiga. Ibu muda dengan beberapa orang anak itu menerima saya dengan baik dan wawancara pun berjalan dengan lancar. Penerimaan yang baik terhadap jurnalis tidak lepas dari sikap masyarakat yang memiliki toleransi yang tinggi!
Semoga suasana Salatiga yang kondusif sebagai kota yang memiliki IKT tertinggi menurut Setara Institute, semakin maju masyarakatnya dalam hidup penuh toleransi pada sesama yang memiliki berbagai macam perbedaan dalam agama, budaya, bahkan cara pandang politiknya!
*) Penulis lahir di Kota Salatiga










