Oleh: Erna Widyaningsih
Malam tak berbintang, suara jangkrik memeriahkan sunyinya malam. Aku baru pulang dari kerja di perusahaan garmen. Nglembur. Tempat kerjaku ke rumah memakan waktu 30 menit dengan naik kendaraan umum, dari jalan raya ke rumah masih jalan kaki sekitar 15 menit. Aku dilahirkan dari keluarga pas-pasan. Bapakku seorang buruh di pasar, dan ibuku jualan gorengan dijajakan keliling kampung. Selepas dari lulus SMA aku cari kerja untuk membantu beban orang tua. Adikku 2 orang masih kelas 4 SD dan 3 SMP . Setelah melamar sana sini dan akhirnya diterima di sebuah perusahaan konveksi. Meski gajiku masih sesuai UMR, tetapi sudah sangat membantu meringankan beban orang tuaku.
”Welas, kok baru pulang?” tanya ibu sambil membukakan pintu.
“Ada tugas lembur Bu,” jawabku sambil menuju ke kamar mau ganti baju dulu.
Aku capek banget, tapi aku harus bantu ibu menyiapkan dagangan untuk besok pagi.
“Bu, bagaimana dagangan hari ini?” tanyaku pada ibu sambil membantu mengupas brambang bawang.
”Tinggal sedikit, tapi akhirnya habis dimakan adik dan bapakmu,” jawab ibu sambil tersenyum.
“Syukurlah kalau habis Bu, kita harus menjajakan dalam keadaan hangat, biar tambah pelanggan,” kataku pada ibu.
“O iya, tadi Bu Rani pesan mi goreng 30 bungkus ditambah tempe dan tahu goreng untuk 2 hari lagi, ada acara kumpulan RT,” kata ibu kelihatan senang.
Tapi wajah ibu kemudian terlihat sedih.
“Ada apa Bu, kok kelihatan sedih?” tanyaku ragu.
“Bu Rani belum memberikan uang muka, uang ibu untuk beli bahan pesanan masih kurang. Bapakmu tadi juga tidak bisa ke pasar kerja, sakit nya kambuh.” ujar ibu kemudian.
“Bu, Welas masih punya uang tabungan sedikit, bisa digunakan dahulu.
Apa bapak sudah dibelikan obat?” ujarku mendekati ibu.
”Tadi bapakmu tidak mau dibelikan obat, mau tiduran saja, katanya sebentar lagi pasti sembuh.” jawab ibu menunduk lesu.
Ku berjalan ke kamar bapak, ternyata bapak sudah tidur pulas.
Kutatap wajah bapak, terlihat tua dan rapuh karena sering sakit. Ku berjanji suatu saat nanti akan membahagiakan ke dua orang tuaku dan keluargaku.
“Sudah larut malam Bu, ibu tidur dulu, besok pagi kita lanjutkan lagi,” kataku sambil membereskan bumbu-bumbu yang digunakan untuk besok pagi.
“Ini uang untuk membeli bahan untuk memasak pesanan Bu Rani, semoga cukup,” kataku sambil memberikan uang tabunganku pada ibu.
**
Sudah seminggu bapak sakit, sudah ku bujuk untuk periksa ke dokter. Tapi beliau selalu tidak mau.
“Bapak sebentar lagi sembuh sendiri, eman-eman uangnya kalau harus periksa ke dokter,” kata bapak setiap kali kuajak periksa ke dokter.
Hari ini, hatiku rasanya tidak karuan. Tapi tidak tahu kenapa. Aku khawatir terjadi apa-apa dengan bapak, karena tadi pagi, ibu ke luar dari kamar sambil sedikit tergopoh-gopoh karena bapak muntah darah.
“Welas, ada telepon untukmu,” kata operator memberi tahuku.
“Ya mbak, terimakasih,” sahutku bergegas menerima telepon.
”Welas, ini pak RT, sebaiknya kamu segera ijin pulang, bapakmu kritis di rumah sakit,” kata pak Harto.
”Baik pak, saya akan segera pulang, sementara titip bapak dulu ya pak,” sahutku di telepon dengan gugup.
Sesampai di rumah sakit, ibu melihatku langsung mendekati dan memeluk sambil menangis.
”Bapakmu kritis, Wel, ini bagaimana?” Ibu meneteskan air mata kesedihan.
”Kita doakan yang terbaik bagi bapak ya Bu, kita harus pasrah pada Yang Kuasa,” kataku juga sambil terisak sedih.
“Keluarga pak Tono?” tanya dokter ke luar dari ruang ICU.
“Ya, kami keluarganya, gimana pak dokter?” kataku mendekati dokter yang menangani bapakku.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Tuhan berkehendak lain,” jawab pak dokter.
Mendengar khabar itu, ibu langsung lemas. Menangis, menghampiri jasad bapak.Untung
ada pak RT di dekatnya sehingga tidak sampai jatuh ke lantai.
”Mbak,kita akan membantu mengurus jenazah pak Amin, mbak Welas dan ibu yang sabar ya,” kata pak RT.
“Terimakasih bantuannya pak,” ujarku sambil menangis.
Pemakaman bapak berjalan lancar, dibantu para tetangga yang sangat mengasihi kami.
**
Setahun sudah bapak meninggalkan kami sekeluarga. Aku,ibu dan adik-adik sangat kehilangan sosok seorang bapak yang sangat kami kagumi dan sayangi. Meski dalam keterbatasan tapi bapak tidak pernah mengeluh. Bapak bekerja keras untuk kami sekeluarga tidak pernah mengenal lelah, dan selalu terlihat tenang dalam keadaan apapun. Itulah hebatnya bapakku.
Siang yang gerah, segerah hatiku saat ini. Tidak pernah terpikirkan olehku kalau hari ini hari yang sangat menentukan ku.
“Karena perusahaan baru mengalami kolap, maka dengan sangat terpaksa kami akan mengurangi beberapa karyawan,” kata pimpinan perusahaan di tengah para karyawan.
“Gimana nasibku ya, aku termasuk yang dipangkas tidak ya,” bisik-bisik teman-teman sangat resah.
“Aku pasrah saja pada Yang di atas,”jawabku pada Nia yang ada di sebelahku.
“Kalau kamu kena PHK, aku juga pasti dong, kan kita bareng kerjanya,” sahut Nia menimpali.
“Kalau kita di PHK, kita harus cari kerja di mana lagi?” kataku ikut resah memikirkan nasibku kelak.
“Coba kita dengarkan saja pengumuman selanjutnya,” kataku kemudian.
Ternyata pengumuman pengurangan pegawai di tempel di bagian masing-masing ruangan.
Setelah acara dibubarkan, maka kami bergegas ke bagian masing-masing untuk melihat pengumuman di PHK apa tidak.
“Gimana Wel, kita langsung lihat yuk pengumumannya,” kata Nia sambil menarik tanganku.
Satu-satu kubaca nama-nama yang harus ke luar dari perusahaan
“Welas Asih,” teriak Nia sudah menemukan namaku termasuk yang tertera di situ
“Nia Andini,” sahutku menimpali.
“Oh, ternyata kita senasib, sama-sama di PHK. Sedih rasanya melihat kenyataan yang terjadi. Tapi apa boleh buat,itu keputusan yang sudah ditentukan oleh perusahaan dengan banyak pertimbangan,” sahutku menghibur diri.
Hari-hariku tidak seceria dulu lagi. Kenapa cobaan ini datang bertubi-tubi? Kenapa takdirku seperti ini? Sampai kapan akan berakhir? Mulai bapak yang meninggal kemudian aku di PHK. Aku kehilangan orang yang sangat berharga dalam hidupku, sosok seorang bapak yang begitu baik, bertanggung jawab. Kemudian disusul aku kehilangan pekerjaan, yang sangat kubutuhkan untuk menopang kelangsungan hidup keluarga. Aku kasihan pada ibu dan nasib adik-adikku. Hidup yang suram penuh cobaan, sampai kapan ini akan berakhir?
“Welas, mulai besok bantu ibu menjajakan dagangan ya!” kata ibu tampak lesu.
“Welas, cobalah cari kerjaan lagi,” kata ibuku mengiba.
“Aku sudah berusaha Bu, tapi belum berhasil,” sahutku menimpali.
Sekarang aku sering menyendiri, tapi tak lupa berdoa meminta petunjukNya, agar hari-hariku yang suram cepat berakhir.
Empat bulan,waktu yang sangat lama untuk hanya berdiam diri saja.
Suatu hari kubaca koran yang sengaja ku beli untuk mencari informasi lowongan pekerjaan.
Alhasil, ternyata ada sedikit titik terang. Ada lowongan pekerjaan jadi baby sister di luar negeri, jadi TKW. Aku akan mencoba mengadu nasib di negeri orang.
“Bu, minta doa restu ya,” kataku mendekati ibu.
“Mau minta restu apa? Kamu mau menikah? Atau mau apa?” kata ibu penasaran.
“Bu, kalau Welas melamar jadi TKW di Hongkong gimana?” sahutku.
“Apapun yang terbaik untukmu akan ibu restui,” sahut ibu sambil memelukku.
Ku langkahkan kakiku untuk mencoba mendaftar jadi TKW. Setelah mendapat restu dari ibu, kubulatkan tekat untuk mengadu nasib ke luar negeri. Setelah mengurus syarat-syarat dan ditraining beberapa hari akhirnya tibalah keberangatanku ke Hongkong. Rasanya sedih sekali harus berpisah dengan ibu dan adik-adikku. Tapi ini jalan yang terbaik untuk mengubah nasib.Sebenarnya saat aku pergi aku menyimpan duka dan kecemasan. Aku pergi bukan berarti tidak suka dengan ibu atau adik-adikku. Hatiku sebenarnya enggan untuk pergi jauh, tetapi pikiranku meminta. Aku berharap mencapai kemakmuran yang luar biasa daripada hanya duduk manis, jalan di tempat.
Pergilah aku ke Hongkong. Awalnya serba dibuat pura-pura kuat, seolah tidak terjadi apa-apa. Tiga tahun tanpa melihat kampung halaman ini menjadi pengalamanku yang pertama kali. Kurasakan bagaimana caranya untuk mengalihkan rasa rindu pada ibu, adik dan teman-temanku.Aku sudah paham bagaimana caranya menghibur diri sendiri dari kekalutan hati. Dalam perjalanan waktu keberadaanku di Hongkong tidak hanya sekedar bekerja tetapi setiap langkahnya kujadikan sebagai tempat belajar.
Setiap hari Sabtu kebetulan orang-orang Indonesia yang menjadi TKW selalu berkumpul di suatu tempat. Di sana saling kenalan dan curhat. Ada yang cerita kalau majikannya pemarah, ada yang baik hati. Dan masih banyak lagi. Kadang aku pergi menyendiri ke taman kota atau pergi ke perpustakaan. Aku selalu menyemangati diriku sendiri, aku harus kuat, aku harus tegar, karena suka tidak suka, life must go on, hidup harus terus berjalan!









