Oleh: Erna Widyaningsih*)
12. Akhir Sebuah Penantian
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Mungkin kebanyakan orang yang mengalami nasib sepertiku, yaitu menyandang gelar sebagai janda itu tidak mudah. Banyak gunjingan terjadi. Banyak godaan datang mendera. Aku memang tidak secantik Luna Maya, tidak semlohai Dewi Persik. Wajahku biasa saja. Tetapi banyak teman – teman lelakiku dulu yang suka padaku kini datang ingin mendekatiku. Ada pula tetangga yang datang melamarku. Tapi semua kujawab “ aku masih ingin sendiri”. Dan mereka mundur tertatur.
Apalagi saat aku bisa menyekolahkan anak – anakku, orang melihat sepintas seolah aku tidak mengalami kesulitan. Padahal itu semua hanya penglihatan mereka.
Setiap kali aku disibukkan oleh masalah uang, aku harus putar otak dan berusaha keras, karena aku punya tanggung jawab untuk menyekolahkan anak – anakku dan biaya hidup tiap hari.
Ini bagiku betul – betul perjuangan yang cukup berat untuk mewujudkan impian almarhum suamiku. Dia menitipkan anak – anak padaku untuk kubesarkan, kudidik hingga menjadi manusia yang berguna.
Mas Hans semasa hidup pernah bilang bahwa kecantikan itu bukan soal dilihat luarnya tapi cantik itu lebih utama dari dalam: yaitu kecantikan hati. Itu yang selalu terngiang di benakku sampai sekarang.
Suatu ketika Khaila mengakhiri kuliahnya dan butuh biaya wisuda. Nah, pada waktu yang bersamaan Shinta jatuh sakit gejala typus dan harus dirawat di rumah sakit. Aku hanya terduduk diam karena tidak tahu apa yang mesti kulakukan. Dari mana uang kuperoleh untuk keperluan semuanya? Aku bingung, tidak tahu apa yang mesti kulakukan.
Yang aku bisa lakukan hanya bersujud, berdoa, berpasrah padaNya, meminta petunjuk Nya.
Ternyata Allah masih sayang padaku. Di saat keruwetan pikiranku ada keajaiban terjadi. Uang tabunganku yang tiap bulan aku sisihkan untuk kutabung meski hanya 100 ribu selama 3 tahun ternyata cair. Waktu itu, sebenarnya aku sendiri lupa kalau bulan itu uang tabunganku itu cair. Plong rasanya hatiku. Terimakasih Tuhan atas rezeki yang Kau berikan pada hambamu ini.
Akhirnya Khaila mengakhiri kuliahnya. Sambil menunggu wisuda, Khaila melamar pekerjaan. Beberapa klinik dicobanya untuk didatangi. Karena ijazahnya belum keluar, dia hanya berbekal surat lamaran kerja dan surat keterangan lulus. Khalia berharap siapa tahu ada klinik yang membutuhkan tenaganya.
Dan Tuhan berpihak pada anakku. Khaila diterima bekerja di salah satu klinik bersalin. Dia akhirnya punya gaji sendiri. Tiap hari Khaila berangkat bekerja naik motor, karena terkadang dia pulang malam.
Hari demi hari dia lalui dengan gembira. Akupun bangga karena anakku sudah bisa bekerja. Sudah berkurang bebanku menyekolahkan anakku.Tinggal Shinta yang butuh biaya sekolah.
——————————–
Hari wisuda itu datang juga. Penantian selama tiga tahun kuliah datang juga. Khaila yang kudampingi saat wisuda kulihat sangat bergembira dan bangga. Tapi saat berfoto bersama, dia hanya denganku. Kulihat bola matanya basah oleh air mata. Mungkin dia ingat papanya. Karena teman – temannya banyak yang didampingi oleh kedua orang tuanya.
Kupeluk Khaila menguatkan hatinya.
“Kubangga padamu, dik”, sambil kucium Khaila penuh mesra dan memberi kata selamat padanya.
Akhirnya beban menyekolahkan anak berkurang satu. Meski tidak percaya, tapi ternyata nyata. Aku sudah bisa menyekolahkan Khaila sampai lulus.
Kalau dinalar dan dihitung dengan kalkulator atau dilakukan pembukuan, pasti angka-angka matematikanya tidak akan cocok. Dan kadang aku bertanya, kok bisa semua peristiwa ini kami lalui ya.
Khalia bisa lulus sekolah meskipun sumber nafkahku sebagai guru relatif sedikit. Dan aku menyadari bahwa itu semua karena pertolongan Allah. Aku percaya bahwa tanpa campur tangan Tuhan ini semua tentu tidak akan mungkin terjadi.
———————————–
Indah rencana Mu, Tuhan
di dalam hidup ku
aku menyanyikan itu
di setiap lafal doaku
(Bersambung)
*) Penulis Guru Mapel Fisika SMAN 1 Ambarawa






