KOTA SEMARANG, wartaintegritas.com – Seniman asal Pakistan Junaidi Miran menuding pembuat film animasi Merah Putih One For All menggunakan enam karakter 3D karyanya tanpa izin. Ia juga tak pernah dihubungi maupun memberikan kredit atas penggunaan karyanya.
Namun pihak sutradara film Endiarto menyatakan adalah hal wajar bila ada kemiripan. Terserah penonton yang menilai.
Warganet mendorong Junaidi untuk menuntut agar film animasi itu tak diputar di bioskop. Bukan hanya soal karakter tokohnya namun diduga film juga menggunakan asset yang dijual di DdazeD berupa bentuk hutan, air terjun dan jalanan perkotaan
Sekali lagi sutradara menyatakan kemiripan karya adalah sah-sah saja. Tapi secara realita, sajian film ini memang jauh dari ekspektasi warga yang menonton. Ada penonton bahkan memberikan komentar ketika menonton ia keluar setengah jam pertunjukan karena tak tahan dengan kualitas pembuatannya. Juga di Indonesia hanya ada 16 layar bioskop yang dialokasikan dan itupun penontonnya minim
Film animasi Merah Putih One For All tayang perdana 14 Agustus 2025. Namun sepertinya minim animo penonton. Jika pun ada bioskop yang memutar hanya menyediakan satu ruang. Ada kabar, film ini hanya kebagian sedikit layar pada grup Cinema XXI.
Sebelumnya film ini diterpa kritikan karena konon biayanya mencapai Rp 6.7 Miliar. Juga ada yang menyebutkan eksekusi pengerjaan film ini tergesa-gesa. Juga soundtrack diduga dari teknologi buatan. Sedangkan di dunia media sosial film ini disebutkan gagal.
Tema yang diusung sebenarnya baik juga. Bertema kebangsaan. Menanamkan semangat nasionalisme melalui kisah petualangan delapan anak dari berbagai daerah. Karena film ini menerima banyak kritikan malah menimbulkan minat orang untuk sengaja melihat.
Di Semarang misalnya jika dikulik di aplikasi hanya ada satu di DP Mall. Dari 16 layar di Indonesia masih beruntung Semarang kebagian.
Oleh: J Christiono










