Dari Kurang Menjadi Berlimpah

Kontemplasi61 Dilihat

Matius 14:13-21

Oleh: Suyito Basuki *)

Menyerahkan kendali pada Tuhan, selanjutnya kuasa Tuhanlah yang bekerja dan menyempurnakan segala sesuatunya.

Mengawali kehidupan berumah tangga selain masa yang sangat menyenangkan, tetapi juga masa yang kadang mencemaskan.  Anak-anak masih kecil, kebutuhan hidup semakin menanjak – tempat tinggal, kehidupan sehari-hari, kebutuhan pendidikan anak dan lain-lain.  Singkat kata, seolah kami tidak mampu untuk menjangkau kehidupan yang ideal di masa depan.  Tetapi herannya, kami merasa senang, kehidupan kami jalani saja, kami mengerjakan pekerjaan sehari-hari.  Selanjutnya kami hanya berserah kepada kuasa Tuhan.

Dikisahkan, suatu ketika para murid menghadapi masalah yang sangat sulit.  Yesus berkata bahwa mereka harus memberi makan sekumpulan orang dengan jumlah sekitar 5000-an. “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Demikian kata Yesus. (ay. 16)

Mereka tidak tahu akan apa yang mereka harus lakukan, karena secara logika memang tidak mungkin.  Tetapi mereka jujur dan mengikuti apa yang Yesus inginkan.  Saat Yesus bertanya mereka memiliki apa, mereka menjawab, mungkin dengan sedikit putus asa, bahwa mereka hanya memiliki 5 potong roti dan 2 ekor ikan. (ay. 17)  Yesus kemudian berkata supaya mereka membawa roti dan ikan itu kepada Yesus.  Dan kemudian mereka melihat Yesus menengadah ke langit, mengucap berkat, kemudian memecah-mecahkan roti kepada para murid, selanjutnya para murid  membagi-bagikannya  kepada orang banyak.  Orang banyak itu makan sampai kenyang dan masih ada sisa makanan 12 bakul penuh! (ay. 18-20).  Berapa jumlah orang-orang itu?  Lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak! (ay. 21)

Jadi para murid: jujur dengan keadaannya, percaya sepenuhnya kepada Yesus dan melakukan apa yang dikatakan Yesus.  Apakah mereka sesaat ragu?  Mungkin iya.  Tetapi perjalanan iman memang dari keraguan tetapi kemudian menuju kepada sebuah keyakinan.  Ingatlah Ibu Sara, istri Abraham juga begitu.  Saat malaikat Tuhan berkata bahwa Sara yang mandul dan sudah berusia dikatakan akan hamil, dia tertawa.  Tetapi kemudian dia beriman terhadap perkataan Tuhan. (Kejadian 18:11-14) Penulis Ibrani memuji iman Ibu Sara. (Ibrani 11:11)

Ketidakmampuan manusia menghadapi problema hidupnya, bukanlah akhir segala sesuatu.  Saat para murid menyerahkan kendali hidup pada Yesus, dan Abrahan serta Sara menyerahkan sepenuhnya pada Allah, maka apa yang tidak mungkin, dapat terjadi dalam kehidupan mereka.  Mereka sudah membuktikannya, dan kami pun pada saat sekarang ini dapat merasakan kuasa Tuhan dalam kehidupan kami.  Apa yang kami kuatirkan pada masa lalu tentang banyak hal perihal masa depan, satu persatu mendapat jawaban Tuhan dengan sangat baik, bahkan lebih dari yang kami harapkan, dan kami masih terus menantikan pertolongan dan keajaiban Tuhan, pada masa kini dan mendatang!

*) Penulis tinggal di Ambarawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *