Berpegang Teguh pada Imam Besar Agung Kita

Kontemplasi185 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki *)

Ada tiga orang nelayan yang sedang mencari ikan di lautan.  Mereka menggunakan perahu kayu yang bertenagakan mesin.  Saat mereka menebarkan jala atau melepaskan pancing, maka mesin mereka matikan.  Saat di tengah lautan, mereka berhenti.  Mereka menebarkan jala mereka.  Tetapi tidak disangka-sangka, datanglah ombak yang besar, menghempas perahu mereka.  Ketiga orang nelayan itu terpental ke lautan.  Dua orang nelayan, berhasil meraih dan berpegangan erat pada perahu mereka.  Sementara yang seorang berusaha berenang dalam upaya menyelamatkan dirinya.  Dua orang nelayan itu terus saja terus saja berpegangan erat pada perahu, meski gelombang mengombang-ambingkannya.  Sampai suatu saat lautan tenang dan sebuah perahu nelayan lain mendatangi mereka dan menyelamatkannya.  Lalu di mana nelayan satunya?  Mereka mencarinya, tetapi tidak menemuinya, karena gelombang laut telah membawanya entah kemana perginya. 

Penulis surat Ibrani menyebutkan bahwa Yesus Kristus adalah Imam Besar Agung kita.  Imam Besar adalah jabatan keimaman di Israel.  Imam Besar bangsa Israel adalah Harun.  Dalam Perjanjian Baru, Imam Besar  yang tercatat menjabat sebagai Imam Besar adalah Hanas (Lukas 3:2, Yohanes 18:13-14, Kisah Rasul 4:6) dan Kayafas (Matius 26:3, Yohanes 11:49).  Tugas Imam Besar adalah masuk ke ruang maha suci di Bait Allah untuk menyampaikan segala keluh kesah dan korban penghapusan dosa orang umat.  Tuhan Allah yang hadir di Bait-Nya berkenan mendengar dan memberikan pertolongan kepada mereka.  Imam Besar harus dapat merasakan pergumulan umat (Ibrani 5:2).  Saat dia mempersembahkan korban penebusan dosa, dia memohon pengampunan dosa umat dan juga dosanya sendiri!

Yesus Kristus sebagai Imam Besar Agung dapat merasakan pergumulan manusia dalam berjuang mengatasai pencobaan.  Yesus Kristus dicobai, tetapi tidak berbuat dosa (Ibrani 4:15).  Dia juga berkuasa, karena telah melintasi semua langit (Ibrani 4:14).  Oleh karena itu, penulis surat Ibrani mendorong kita untuk : “berpegang teguh pada pengakuan iman kita.”

Saat kita menghadapi berbagai masalah dan pencobaan, apa yang akan kita lakukan? Seperti cerita nelayan di atas, apakah kita akan berenang dengan memakai kekuatan kita sendiri atau berpegangan perahu, mengandalkan kekuatan Tuhan kita.  Marilah kita selalu berpegang teguh pada pengakuan iman kita pada Imam Besar Agung kita dan dengan berani menghampiri tahta kasih karunia-Nya, maka kita akan diselamatkan dan diberi pertolongan tepat pada waktunya!

*) Penulis tinggal di Ambarawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *