Cerbung: Penantian di Ujung hari (5)

Fiksi14 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki *)

Ina segera menyalakan mesin mobilnya.  Ia ingin segera berada di rumah.  Dia tahu bahwa sebentar lagi Adi akan pulang dari kerjanya.  Beberapa hari Adi berada di luar kota mengantar tamu-tamunya.  Saat Adi kembali maka Ina akan menyambutnya di rumah.  Itulah saat-saat yang membahagiakan bagi keduanya.  Ina kemudian akan membuka oleh-oleh yang dibawa Adi.  Jika oleh-oleh itu berupa makanan, maka keduanya akan menikmatinya bersama-sama.  Tentu saja ada bagian-bagian yang akan dikirimkan kepada kedua orang tua mereka masing-masing.  Jika oleh-oleh itu berupa pakaian, maka Ina akan segera mengenakan dan Adi akan memuji penampilan Ina dengan pakaian baru.  Adi biasanya akan berkata,”Kamu menjadi semakin cantik dengan pakaian warna ini sayangku.”  Adi kemudian akan memeluk Ina dan menumpahkan segala kerinduan yang dipendam Adi selama melakukan perjalanan ke luar kotanya.

Saat Adi pulang, biasanya Ina sudah menyiapkan makanan-makanan kesukaan Adi.  Adi bukan tipe laki-laki yang menyukai makanan yang aneh-aneh.  Sayur kesukaan Adi hanya sayur oseng-oseng kangkung dengan lauk pindang yang digoreng dengan sebuah sambal trasi.  Oleh karena itulah, sebelum Adi pulang, Ina akan membeli kangkung dan ikan pindang.  Dia akan pilihkan trasi yang terbaik, sehingga saat bikin sambal, akan menghasilkan sambal yang enak.

Benar saja, tidak selang lama Ina berada di rumah, Adi pulang dengan naik motor kesayangannya.  Ina menyambut Adi sambil tersenyum.  “Eh, bukankah hari ini kita harusnya kontrol kesehatan ke dokter?” Demikian Adi megingatkan kepada Ina.  Ina menjadi terperanjat juga, betul setiap Sabtu sore sebulan sekali mereka selalu meluangkan waktu untuk konsultasi kesehatan ke dokter kandungan.  Beberapa bulan ini mereka memang mereka melakukan kontrol kesehatan.  Hal ini mereka lakukan supaya kesehatan mereka terkontrol dengan baik dengan harapan mereka dapat segera mendapatkan keturunan.  Dokter pun selain memberi saran-saran hidup sehat, juga memberikan obat-obat untuk penopang kesuburan bagi mereka masing-masing.

“Oh iya betul.  Ayuk kita segera berangkat.  Tapi apa mas Adi tidak capek?”  demikian kata Ina setengah merajuk. 

“Ya setelah beristirahat sebentar, mandi, minum kopi dan makan snack, kita akan segera berangkat saja, jangan sampai kemalaman, nanti jam praktek dokter sudah habis,” demikian Adi berkata sambil masuk ke kamar mandi, segera akan mandi.

Mereka sampai di tempat praktek dokter.  Dokter menyambut mereka dengan ramah.  Dokter kemudian bertanya kepada Ina dan Adi hal-hal tentang kesehatan mereka, termasuk perkembangan emosi mereka akhir-akhir ini.  Setelah dokter mengecek kesehatan mereka dan memberikan nasihat-nasihat dokter kemudian berniat untuk mengecek kandungan Ina dengan sebuah alat deteksi.  Dokter terkejut dan kemudian mengatakan kepada Ina dan Adi.

“Ini kelihatannya di kandungan bu Ina ada pergerakan kecil.  Apakah mungkin ini bakal janin telah tumbuh?” Dokter berkata.

“Bagainana dok?  Ada pergerakan dan kemungkinan itu bakal janin saya?” Demikian Ina berkata tak sadar berteriak.  Adi segera memegang tangan Ina, menyadarkannya.

“Sebaiknya saya periksa pakai USG saja ya untuk memastikannya.” Dokter kembali berucap.  Hati Ina seolah tidak sabar, ingin sekali segera mengetahui kebenaran perkiraan dokter itu.  Ina kemudian segera disuruh masuk ke ruang USG.  Setelah tindakan pemeriksaan dilakukan, Ina disuruh dokter untuk keluar menunggu beberapa saat hasilnya.

Selang beberapa jam kemudian Ina dan Adi dipanggil dokter.  Dokter menyodorkan gambar seperti sebuah toples yang di dalamnya ada isi bentuk  kecil.

“Selamat bu Ina, kandungan ibu ada bakal janin, semoga dapat dirawat dengan baik, sehingga sehat pertumbuhannya,” demikian kata dokter.

Ina tidak bisa melepas keharuannya.  Sambil matanya berkaca-kaca, dipeluknya suaminya.  “Aku akan merawatnya dengan sebaik-baiknya.” Demikian ucap Ina lirih di dada Adi. 

Ina kemudian teringat dengan kolam anak-anak yang penuh dengan senda gurau anak-anak yang berada di pinggir dan di dalam air kolam.  Aku akan segera ke kolam renang anak-anak itu, janin yang ada di dalam kandunganku ini akan mendengar suara anak-anak di kolam yang kelak menjadi teman sepermainannya.

Saat pulang ke rumah, dalam mobil Ina banyak terdiam, hingga Adi menegurnya, “Kenapa kamu tiba-tiba banyak berdiam diri?  Apakah ada yang salah?”

Ina tidak menjawab pertanyaan Adi, ia hanya tersenyum.  “Aku terharu,” kata Ina.  Ina menjadi tersadar, pantas dua bulan ini tidak mensturasi.  Adi tiba-tiba saja menggenggam tangan Ina.  Dalam hati, keduanya menaikkan ucapan syukur kepada Tuhan yang telah menjawab doa-doa mereka. Mereka bersepakat akan menjaga benih dalam kandungan Ina, sehingga berkembang dan akhirnya lahir menjadi seorang anak yang menjadi dambaan mereka.

(Selesai)

*Spesial buat H, R & Rn

*) Penulis tinggal di Ambarawa, riwa-riwi ke Salatiga/ Jepara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *