Oleh: Erna Widyaningsih*)
Setahun berlalu. Kondisi bapak sudah pulih membuat keluarga senang. Tapi karena sikap bapak seperti anak kecil, ia masih suka mencuri-curi makanan pantangan diabetesnya. Makanya diabetes bapak memburuk.
Ternyata diabetes bapak menyerang sudah sampai ke mata, penglihatannya sudah mulai kabur. Parahnya lagi, menyerang ke ginjal.
Desember Kelabu. Lagu itu seperti yang kualami sekarang ini. Karena keadaan ginjalnya bermasalah maka bapak harus transfusi darah. Bapak harus dirawat di rumah sakit.
Dalam keadaan kalut karena harus memilih antara dua pilihan berangkat ke Bandung karena tugas atau menunggui bapak yang sedang terbaring sakit. Kebetulan aku harus ikut pelatihan teknisi laboratorium di Bandung selama dua minggu, saat bapakku terbaring sakit parah.
Akhirnya kuberangkat pelatihan di Bandung dengan hati gundah, kurang semangat. Padahal pelatihan itu yang banyak diharapkan guru – guru karena tingkat nasional, bisa untuk tambahan kredit poin untuk kenaikkan pangkat. Tapi aku tidak berfikir sampai ke situ, aku hanya berharap bapak segera sembuh.
Di Bandung selama pelatihan pikiranku bercabang. Apalagi ketika ada telepon dari Semarang.
”Bu Lia, ini dapat telepon”, suara petugas di pelatihan memberitahu aku. Deg…hatiku berdegup kencang, ada apa ini kok perasaanku tidak enak.
Ternyata telepon dari rumah sakit memberitahu bahwa ada alat yang harus dipasang pada tubuh bapakku, dan itu harus persetujuan dariku, anak tertua. Karena ibu menunjukku sebagai wakil dari keluarga kalau ada apa – apa yang dibutuhkan bapak selama perawatan di rumah sakit Elizabet.
Memang sebelum berangkat ke Bandung, aku berpesan ke rumah sakit untuk mengabari perkembangan bapak atau hal – hal yang penting, yang harus segera dilakukan.
Tanpa pikir panjang kulangsung menyetujui saja kalau harus beli alatnya demi kebaikkan bapak. Berapapun harganya, demi kebaikan bapak, apapun akan kulakukan.
Rasanya waktu dua minggu seperti setahun. Siang itu acara penutupan tiba juga. Sesegera mungkin aku bergegas pulang ke Yogya. Sambil menunggu travel tiba, aku mencoba telepon suamiku. Biasanya suamiku tidak pernah absen untuk telepon, tapi kenapa hari ini belum telepon, padahal Mas Hans juga tahu kalau aku akan pulang dari Bandung hari ini. Ada apa ini? Semoga tidak terjadi apa apa dengan keluargaku.
Kulangkahkan kakiku menuju tempat telpon umum di sekitar PPPG IPA ( Pusat Pengembangan Penataran Guru IPA ). Kumasukkan kartu telepon dan segera kutekan tuts no telepon yang kutuju.
“ Hallo, mas , bagaimana kabar bapak ?”, tanyaku pada mas Hans ketika telepon sudah nyambung.
“ Eh, maaf ya wuk, mas belum sempat telepon, karena ini baru cari donor darah untuk bapak ,” jawab mas Hans dengan suara datar, seperti baru kebingungan.
“Apa di rumah sakit tidak ada darah untuk bapak? “, tanyaku cemas.
“Bapak hari ini butuh 4 kantong darah, tapi di rumah sakit baru 1 kantong darah. Kita sudah cari di mana- mana, di PMI, di rumah sakit lain, tapi saat ini belum ada. Maka ini mas baru cari teman – teman untuk minta bantuan mencarikan yang golongan darahnya O. Semoga cepat mendapatkannya, “ jawab suamiku menerangkan.
Sebenarnya golongan darahku juga O, tapi masih di Bandung, dan aku pun darah rendah, tentu tidak memenuhi syarat sebagai pendonor.
Aku mulai khawatir dengan kondisi bapak. Tapi apa boleh buat, aku tidak bisa langsung sampai ke Semarang dalam sekecap. Kucoba hubungi saudara – saudaraku di Yogya menceritakan kondisi bapak yang butuh donor darah. Aku tak berhenti berdoa untuk kesembuhan bapak, semoga diberi jalan yang terbaik.
Selama perjalanan pulang, aku hanya diam sambil berdoa, tidak bisa melakukan apa – apa. Keesokan harinya aku sampai di rumah Yogya. Segera kuletakkan koper pakaianku, dan segera bersih diri. Dan menyiapkan beberapa potong pakaian untuk kubawa ke Semarang.
Tak kupedulikan badan yang capek, aku langsung meluncur lagi untuk ke Semarang setelah minta ijin kepala Sekolah, karena kondisi bapak kritis. Kebetulan kegiatan sekolah habis tes adalah classmeting, jadi aku tidak mengajar.
Kebetulan ada saudaraku yang di Yogya, bareng ke Semarang karena tahu kondisi bapak. Dia ingin ikut membantu donor darah karena kebetulan golongan darahnya O seperti golongan darah bapak.
Hatiku rasanya tak karuan. Perjalanan Yogya Semarang yang memakan waktu 3,5 jam kalau lancar, kalau pas macet begini rasanya seperti setahun. Lama banget.
Saudaraku tahu kegelisahanku, ia menghiburku supaya tetap pasrah semuanya pada yang di atas, Tuhan Sang pemberi hidup.
Sampai di rumah sakit Elizabeth, kucari ruangan tempat bapak dirawat. Di sana kutemui ibu yang lesu, kuyu, kelihatan capek, lelah pikiran dan tenaga. Sekarang ibu tampak kurus dan tua. Dan kulihat mas Hans suamiku dengan teman – temannya pun ada di sana. Dokter dan perawat tampak masih menangani bapak.
Buru – buru saudaraku tadi menuju ruang pemeriksaan laboratorium untuk secepatnya diperiksa supaya bisa donor darah. Beberapa saat kemudian saudaraku dengan langkah gontai menemuiku.
“ Mbak, maafkan aku tidak bisa donor darah karena ternyata hasil pemeriksaan aku kena hepatitis B,” kata Sandy saudaraku itu dengan murung.
“ Aku ingin menolong, ternyata aku sendiri juga sakit”,ucap Sandy sambil duduk lesu.
Ku dekati Sandy, aku hibur dia untuk tidak bersedih.
“Sabar ya, yang penting kita sudah berusaha, berikhtiar, segala sakit penyakit bisa disembuhkan asal kita berdoa meminta kesembuhan pada Nya, insyaallah semua bisa dikabulkan. Tuhanlah yang menentukan semuanya” hiburku pada Sandy.
Sebelumnya Sandy tidak tahu bahwa dia terkena hepatitis B. Dia jadi syok saat tadi mengetahui dari hasil lab darah di waktu hendak donor darah.
Di sela – sela dokter dan perawat yang sedang menangani bapak kulihat ibu dekat pembaringan bapak.
“ Bu, Lia datang bu, gimana kondisi bapak?,” kupeluk ibu sambil menangis. Dan setelah itu kulihat bapak. Tubuhnya terpasang selang – selang untuk mengambil lendir dari mulut bapak. Dan ketika kusampai baru diambil lendirnya, suaranya memekakkan telingaku, miris aku mendengarnya. Aku tidak tega melihat kondisi bapak seperti itu.
Kuajak ibu duduk di luar sambil menunggu dokter selesai menangani bapak.Sambil kupeluk saling menguatkan, meski sebenarnya aku juga tidak tega melihat kondisi bapak seperti itu. Selang beberapa saat dokter dan perawat ke luar dengan membawa alat penyedot lendir.
Berkat usaha mas Hans dan teman – temannya yang cari ke segala penjuru akhirnya darah 4 kantong untuk bapak sudah didapatkan.
Setelah transfusi darah, bapak kelihatan segar kembali. Sudah bisa diajak komunikasi meski kadang lupa nama siapa yang datang, dengan saudaraku, dengan anaknya saja kadang menyebut nama salah. Mungkin karena pengaruh otaknya yang dulu kecelakaan sehingga memengaruhi memorinya.
Alhamdullilah, berangsur – angsur kondisi bapak membaik. Dan ingatannya juga sudah membaik. Ketika dites ibu, digoda ibu, ditanya nama anaknya, bapak menyebut satu persatu nama anaknya dari aku anak tertua sampai ketiga adikku. Semua disebutkan bapak dengan nama lengkap, komplit dan benar.
“ Pak, hayo coba anaknya bapak siapa aja,” tanya ibu menggoda.
“Amalia Kusuma Wardani”, sambil tersenyum melihatku. Senyuman bapak begitu lembut, saat memandangku
“Ridho Indrajati, Bagas Herlambang, Dody Pamungkas”, jawab bapak dengan lancar. Kebetulan bapak yang memberi nama semua anak – anaknya jadi bapak ingat semuanya.
Karena kondisi bapak sudah membaik, kami konsultasi dengan dokter dan diijinkan pulang 1 atau 2 hari lagi. Karena selama ini ibu yang nunggui bapak tidak pernah pulang ke rumah, karena kondisi bapak sudah membaik, dan akan bersih – bersih rumah untuk kepulangan bapak, ibu hari itu kujemput untuk pulang dan istirahat. Gantian yang nunggu bapak di rumah sakit adikku nomor tiga. Dia kebetulan libur. Aku sendiri juga kebetulan sudah libur semester ganjil.
——————————
Sebenarnya di rumah pun ibu tidak bisa beristirahat, karena pikirannya selalu tertuju pada kondisi bapak yang terbaring di rumah sakit.Berkali – kali kuamati ibu duduk termenung sesaat setelah bersih – bersih kamar , mengganti seprei dan bersih – bersih ruangan kamar.
Telepon berdering. Aku yang kebetulan berada di dekat telepon rumah langsung mengangkat gagang telepon. Dari seberang sana terdengar suara adikku.
“ Hallo! Mbak !Bapak mbak….”, suara lirih dari adikku ketika kuangkat telepon.
“ Ada apa dengan bapak,dik “, suaraku seperti tercekat sulit untuk mengucap.
“ Bapak sudah tidak ada mbak”.
“ Maksudnya apa bapak sudah tidak ada, bapak meninggal?”, aku kaget mendengar penjelasan adikku.
Ibu yang ternyata tidak jauh dariku mendengarnya dan langsung meminta telepon kupegang. Ibu langsung minta penjelasan dari adikku.
“ Bu, bapak sudah dipanggil Tuhan, bapak baru saja meninggal, ibu yang sabar ya, ibu ke rumah sakit segera”, ucap adikku pada ibu.
Mendengar itu semua ibu jadi lemas tak berdaya, antara percaya dan tidak percaya. Derai air mata mengucur . Kemarin bapak masih sehat, kondisinya pun sudah membaik. Kenapa sekarang dikatakan meninggal ? Kupapah ibu yang lemas, tidak kuat untuk berdiri.
Setelah saudara – saudaraku, adikku, tetanggaku kuberi tahu, akhirnya aku bersama ibu, menuju ke rumah sakit, sedang mas Hans menyusul kemudian. Saudaraku dan tetangga ada yang kupasrahi untuk mengurus kebutuhan di rumah dan di makam.
Kudapati bapak yang sudah terbujur kaku, sambil tersenyum. Ibu sampai di rumah sakit malah pingsan. Setelah sadar, ibu langsung menangis, memeluk bapak.
“ Pak, kenapa bapak meninggalkanku sendiri, kenapa tidak pamit padaku?”, jeritan ibu menyayat hati yang mendengar.
Ibu menyesal kenapa kemarin pulang ke rumah. Ibu menyesal karena tidak menunggui bapak saat terakhirnya. Dan ternyata adikku pun saat bapak meninggal tidak berada di samping bapak. Karena kebetulan mau mengusap lendir di mulut bapak tissunya habis, sudah ngebel ke petugas perawat tidak nyambung, jadi adikku pergi sendiri ke ruang perawat. Tidak lama sebenarnya adikku pergi ambil tissu, tapi saat itulah bapak dipanggil Tuhan. Bapak ternyata tidak mau menyusahkan anak dan istrinya.
Setelah semua administrasi di rumah sakit sudah terselesaikan, kamipun membawa bapak dengan ambulance ke rumah. Di sana adik – adikku,tetangga, saudara sudah pada berkumpul menyambut kedatangan jenazah bapak. Semua sudah tertata, sudah siap untuk proses pemakaman bapak.
Karena sudah tidak ada yang ditunggu, maka pemakaman bapak dilaksanakan hari itu juga, di makam keluarga yang tidak jauh dari rumahku.
Pemakaman bapak berjalan lancar, dan dihadiri pelayat yang banyak mengantar bapak di peristirahat terakhir. Meski ibu agak lemas, tapi tetap mengantar sampai ke makam. Doa telah dipanjatkan para pelayat dan satu persatu dari mereka meninggalkan pemakaman.Ibu , aku , mas Hans , Khaila dan adik – adikku masih berada di sisi makam.
Rasanya belum percaya kalau bapak sudah tiada. Baru kemarin bapak kelihatan sehat, bisa diajak bergurau, sekarang sudah terkubur di bawah sana. Bapak sudah tenang di surga.
————————
Hari demi hari berlalu, semenjak bapak meninggal, ibu hanya dengan anakku berdua di rumah besar di Semarang. Karena aku ingin menemani ibu yang sekarang sendiri, aku ajukan surat pindah mengajar ke Semarang. Tapi ternyata belum diijinkan karena aku masih mengajar seorang diri, belum ada guru pengganti lain.
Sebenarnya aku sudah kerasan mengajar di Gunungkidul. Tapi aku harus berpisah dengan anak dan suamiku yang tinggal di Semarang.
Kalau dulu masih ada bapak, aku agak tenang karena kalau anakku butuh ke mana – mana bisa diantar naik sepeda bapakku. Supaya tidak merepotkan ibu, aku berlangganan mobil antar jemput sekolah untuk anakku. Mobil itu tiap hari menjemput dan mengantar sekolah anakku. Akupun tenang saat bekerja karena anakku sudah ada yang antar jemput saat sekolah.
————————-
Seperti tertiup angin
Dedaunan itu dan rantingnya
Jatuh di rerumputan
Kering Sekejap,
bahkan
tak menyisakan
apa-apa
*) Penulis Guru Mapel Fisika SMAN 1 Ambarawa





