Belajar di  Mindanao Peacebuliding Institute Filipina, Eh…Dikira Menikahi Wanita Sana

Trip & Wisata588 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki *)

KAB. JEPARA, wartaintegritas.com – Tanggal 13 Mei-3 Juni 2017, delapan tahun  yang lalu (uh, sudah lama ya ternyata) saya berkesempatan mengikuti training perdamaian di Mindanao Peacebuliding Institute (MPI).  Kami berempat, saya (Jepara), Pdt. Herin K.Hadijaya (Kudus), Najahan Musyawak (Semarang), dan Anas Aijudin (Solo) berangkat ke Davao Filipina dengan sponsor  Mennonite Central Commite (MCC).  Saya dan Pdt. Herin mewakili sinode gereja kami yakni Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ).  Najahan dan Anas mewakili bidang akademik.  Najahan mengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, sementara Anas mengajar di UIN Solo dan pengasuh sebuah pondok pesantren di Karanganyar.  Kedua rekan ini memiliki gelar akademis sebagai doktor sekarang ini.

Rute perjalanan dari bandara Ahmad Yani Semarang, kami ke Jakarta.  Setelah dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta kami ke transit ke bandara udara Internasional Ninoy Aquino Manila.  Dari Bandara Manila baru kemudian kami ke Bandara Internasional Fransisco Bangoy Davao.  Sesampai di Davao, kami dibawa ke sebuah tempat tepi pantai.  Rupanya lokasi pelatihan berada di sebuah pinggir pantai.  Banyak rumah kecil berderet dengan dua kamar menjadi tempat tinggal kami selama 3 minggu pelatihan.  Saya tinggal dengan rekan dari Kepulauan Solomon dan dari India.  Peserta pelatihan berasal dari berbagai negara.  Yang saya tahu selain kami dari Indonesia, juga dari India, Laos, kepulauan Solomon, Papua Nugini, Birma, Jepang, Bangladesh, Mexico, Filipina sendiri dan lain-lain.  Tulisan identitas saya yang dikalungkan setiap hari di leher: “Suyito”, dikira saya berasal dari Jepang.  “Are you Japanesse sir?” begitu tanya seorang gadis muda Filipina pembawa acara.

Yang agak lucu adalah saat hari Minggu, saya dan Herin mengunjungi sebuah gereja dengan menumpang taksi.  Sopir taksi malah mengira kami adalah orang Filipina.  Setelah kami jelaskan bahwa kami ini dari Indonesia, sopir taksi malah kembali bertanya,”Did you marry to a filipino women?”  Wah, malah kami dikira menikahi wanita Filipina.  Herin tertawa saja, mungkin dia ingat istrinya.  Saya nyengir saja, ingat posisi saya waktu itu sebagai seorang widower karena istri meninggal akibat sakit tumor colon awal tahun, tgl. 16 Januari 2016.

Tetapi by the way, ngomong-ngomong soal wanita Filipina nih ya, meski secara postur tubuh mereka hampir sama dengan wanita Indonesia, tetapi rata-rata kulit mereka agak lebih putih.  Mungkin hampir sama dengan wanita Manado ya.  Tetapi yang jelas, sikap mereka sangat terbuka.  Dengan penguasaan bahasa Inggris yang bagus, mereka mudah bergaul dengan lelaki wanita dari negara mana pun.  Wanita-wanita Filipina ini menurut pengamatan saya selama 3 minggu di tempat pelatihan, mereka suka acara party dan suka dansa atau menari.  Setiap akhir pekan diadakan semacam talenta show, masing-masing negara menampilkan kesenian khas mereka dan biasanya diakhiri dengan tarian.  Di sinilah, wanita Filipina terlihat suka menari atau berdansa, mereka menguasai berbagai jenis tarian modern.  Kami yang dari Indonesia dan negara lain mengikuti saja gerak tarian mereka.

Diajak foto selfie oleh rekan wanita-wanita muda dari Laos, Bangladesh dan India (Foto: Dokumen Pribadi)

Materi pelatihan perdamaian  yang diberikan selama 3 minggu, disampaikan oleh para pengajar dari berbagai negara dengan cara-cara mengajar yang menarik.  Seperti Wendy Kroeker Direktur pada Canadian School of Pecae Building serta pengajar pada Studi Transformasi Perdamaian dan Konflik di Departemen Universitas Mennonite di Winnipeg, Canada.  Wendy yang sudah berpengalaman lebih dari 20 tahun sebagai mediator komunitas, pengajar transformasi konflik, manajer program perdamaian dan manajer program pengembangan proyek internasional, mengajar dengan santai tetapi semangat.  Role playing adalah salah satu metode yang ia terapkan.  Jadi misalnya kami dibagi menjadi dua kelompok.  Satu kelompok adalah sebuah negara yang bertahan, kemudian kelompok yang lain sebagai pihak pemberontak.  Setelah “perang” berkecamuk, maka datanglah seseorang yang memiliki pengaruh yang menyarankan adanya resolusi perdamaian. 

Dari beberapa pelajaran yang ada, saya mengambil pelajaran dengan topik Interreligious Peacebuilding: Approaches for Cooperation, Social Cohesion and Reconciliation.  Saya mengambil pelajaran ini karena memang di Indonesia seringkali terjadi konflik dengan dimotivasi oleh perbedaan pandangan agama.  Tujuan pelajaran ini adalah pada prinsipnya mengenali dan memahami dasar-dasar agama yang dianut dalam rangka mengupayakan perdamaian dalam suatu konflik.  Oleh karena itu, pada saat tugas kerja kelompok, setiap kelompok diminta untuk menulis dasar-dasar ayat atau ajaran agama/ kepercayaan kami masing-masing yang dapat menjadi kontribusi terhadap perdamaian terhadap konflik yang ada.  Kemudian kelompok diminta untuk menerangkan ayat atau dasar agama/ kepercayaan yang kami cantumkan di lembar panel.  Seorang pengajar di topik ini adalah Shamsia Ramadhan.  Wanita berjilbab ini bekerja di Catholic Relief Services (CRS) yang berbasis di Kenya .  Shamsia mengepalai berbagai proyek di beberapa negara yakni proyek pembangunan perdamaian intereligius.  Dia banyak mempromosikan perdamaian kepada para ekstrimis di Kenya, Uganda, Tanzania, Mesir, Nigeria dan Nigeria. 

Beberapa pengajar lain yang kami serap ilmu dan pengalaman perdamaiannya antara lain Babu Ayindo seorang pencerita kisah, pengajar, fasilitator, peneliti dan penulis.  Lebih dari dua dekade, dia mengikuti seni dan pembangunan perdamaian dalam berbagai konteks.  Sebelumnya dia sebagai Direktur seni di Chelepe Arts di Nairobi, Kenya. 

Melukis untuk perdamaian, bersama pengajar cantik Kyoko Okumoto (Foto: Dokumen Pribadi)
 

Selain itu ada pula pengajar yang sudah lebih dari 20 tahun memiliki pengalaman  dalam merencanakan dan memberikan teknik program pembangunan perdamaian di Afrika.  Dia juga bekerja sebagai penasihat di Catholic Services Peacebuilding untuk Afrika.  Pengajar itu adalah Jean Baptiste Talla. 

Ada seorang pengajar wanita dari Jepang, yakni Kyoko Okumoto.  Kyoko mendapatkan gelar Ph.D di bidang the Arts and Literature dari Sekolah Kobe Jepang.  Pengajar wanita yang menjadi favorit kami ini menyelesaikan studi  MA di bidang Peace Study di Lancaster University di UK.  Saat ini pengajar yang mengajak kami banyak melukis untuk perdamaian ini menjadi dosen di Universitas  Jogakuin Osaka Jepang.  Masih banyak lagi pengajar-pengajar dengan ilmu dan pengalaman luas yang memberi ilmunya di program MPI ini dan mereka adalah para pengajar yang top markotop di bidangnya.

*) Penulis tinggal di Ambarawa, pelayanan jemaat di Salatiga, sesekali ke Jepara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar