Oleh: Suyito Basuki
KAB.JEPARA, wartaintegritas.com – Hari Minggu, 13 September 2015 kami beribadah di gereja Mennonite di Harleem. Sore sebelumnya kami tiba dan dijamu makan malam oleh warga gereja Mennonite di Harleem. Kami menginap di host family. Saya menginap di rumah Rev. Herman Heijn, yang melayani di gereja mennonit Harleem tersebut. Istrinya bernama Marijke Stapel. Mereka memiliki 3 orang anak: Janse (27), Lieveka (26), Quinten (22).
Dalam ibadah kami menyanyikan lagu “Dhuh Pangeran” yang diciptakan Pdt. Saptojo Adi. Kami kebagian menyanyi dengan syair Jawa, sementara jemaat menyanyikan syair dalam bahasa Belanda. Kami juga menyanyi lagu rohani Jawa: “Mangga sami ndherek Gusti.” Usai kami makan siang bersama jemaat, kami berjalan-jalan memasuki gedung-gedung bersejarah. Kebetulan, hari itu adalah hari open day untuk gedung-gedung bersejarah. Kami diajak ke gedung balaikota. Sebenarnya tujuan utama adalah museum Teylers. Tetapi untuk masuk, harus membayar, oleh karena kami hanya berada di depan museum saja.
Kami juga melewati monument yang mengingatkan pembantaian orang-orang Yahudi pada jaman PD I oleh Jerman. Kami kemudian diajak makan malam di restoran De Lachende Javaan. Kami makan nasi dan masakan khas Jawa lainnya sambil tersenyum melihat poster-poster iklan jaman doeloe.

Senin, 14 September kami diajak meninjau lembaga pelayanan sosial “Stem in the Stad” (Voice in the city). Lembaga ini menolong orang yang tidak memiliki rumah dan bermasalah psikis. Caranya antara lain, orang-orang yang tidak punya rumah ini (biasanya para pengungsi) dan orang yang bermasalah psikis ini diminta menjual koran Straat Journal ke supermarket-supermarket. Sebagian hasil diberikan kepada mereka. Ada makan malam gratis untuk mereka. Acara makan malam ini diadakan seminggu 3 kali. Puluhan orang datang menikmati makan malam tersebut. Lembaga ini memiliki 300 orang volunteer.
Kami kemudian diajak ke Faittrade shop Jansje. Faittrade shop Jansje menjual kerajinan tangan dari berbagai Negara, misalnya dari Nepal, Indonesia dll. Kami kemudian makan siang di lembaga pelayanan sosial “Stem in the Stad” (Voice in the city). Resto itu terletak di belakang Faittrade shop Jansje. Baik Faittrade shop Jansje dan resto de Wereldvan Jansje adalah merupakan proyek sosial gereja mennonit Haarlem. Tenaga kerja antara lain terdiri dari orang-orang difabel, orang-orang yang memiliki hambatan mental. Dengan merekrut orang-orang semacam itu, gereja mennonit Haarlem ingin memperhatikan orang-orang yang kurang diperhitungkan oleh masyarakat. Nama “Jansje” diambil dari seorang wanita yang sejak kecilnya hidup di rumah piatu gereja mennonit Haarlem. Sebelum Jansje meninggal, ia mewariskan penghasilannya untuk gereja mennonit Haarlem supaya digunakan untuk pelayanan sosial.

Kami kemudian meninggalkan Haarlem menuju ke Amsterdam dengan menggunakan kereta api, dipandu oleh Alle Hoekema. Sesampai di Amsterdam kami ke kantor ADS bertemu dengan Henk Stenvers yang adalah Sekum ADS. Kemudian kami diajak meninjau perpustakaan mennonit di Universitas Amsterdam. Di dalam perpustkaan ini, kami dapati sumber-sumber sejarah GITJ serta terbitan-terbitan GITJ. Dalam kesempatan ini, kami memberikan buku Pokok-pokok Ajaran GITJ dan buku materi baptisan GITJ.

Buku atau jurnal sejarah GITJ itu hanya dapat kami baca atau foto, tidak bisa difoto copy. Di perpustakaan itu juga kami temukan sebuah diktat pujian yang berisi nyanyian-nyanyian rohani yang diciptakan oleh Pdt. Saptojo Adi. Setelah itu kami ke rumah host family. Saya tinggal di rumah Ineke. Ineke adalah seorang janda yang sudah cukup umur, memiliki 2 anak perempuan dan cucu. Rumah host family kami terletak di Wetering straat 5 1017 sc Amsterdam. (Bersambung)










