Mondosiyo, Tradisi Syukur Warga Pancot di Lereng Gunung Lawu

Trip & Wisata165 Dilihat

KARANGANYAR, wartaintegritas.com – Di lereng Gunung Lawu, tepatnya di Dukuh Pancot, Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, terdapat sebuah tradisi tua yang masih lestari hingga kini. Tradisi itu bernama Mondosiyo, sebuah upacara adat yang penuh makna spiritual sekaligus simbol kebersamaan masyarakat desa.

Jejak Sejarah Mondosiyo

Upacara adat Mondosiyo sudah menjadi tradisi turun-temurun. Menurut warga setempat, upacara Mondosiyo sudah ada sejak puluhan tahun lalu, sebagai ungkapan rasa syukur warga. Upacara adat itu diadakan setiap tujuh bulan dan  diselenggarakan setiap Selasa Kliwon wuku Mondosiyo.

Ribuan warga biasanya sudah bersiap sejak pukul 15.00 WIB pada hari bersangkutan dan sudah memadati sepanjang gang kecil menuju Balai Pasar. Tidak hanya warga dari desa setempat, namun juga ada yang datang dari dusun-dusun sekitar di Kecamatan Tawangmangu.

Terdapat sembilan reog yang turut serta memeriahkan acara tersebut. Setelah sampai di depan Balai Pasar, satu per satu reog memperlihatkan atraksi. Usai reog menampilkan atraksi, dilanjutkan upacara dengan menyiram air tape di situs Batu Gilang, yang diambil dari Punden Bale Patokan.

Menariknya, setelah itu ribuan warga dengan serius mengamati atap joglo untuk menangkap empat pasang ayam. Unggas-unggas itu sengaja dilempar ke atas joglo untuk diperebutkan jika turun.

Berbagai usaha dilakukan agar bisa menangkap ayam itu tanpa menaiki atap rumah. Mereka hanya boleh berpegangan pada pinggir atap saat mencoba menangkap ayam itu. Dalam adat Mondosiyo, ayam-ayam itu diberikan pemilik sebagai nazar atas keberhasilan yang diraih dengan menyerahkan satu pasang ekor ayam jantan dan betina.

Usaha menangkap ayam (Foto: RRI)

Tradisi Mondosiyo merupakan sebuah ritual budaya dan keagamaan yang unik. Selain itu, tradisi ini juga memiliki potensi pariwisata budaya yang diunggulkan, bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kemendikbudristek pada tahun 2021. 

Nilai Filosofis dan Sosial

Mondosiyo bukan hanya upacara spiritual, melainkan juga cermin kearifan lokal. Ada pesan gotong royong ketika warga bergotong-royong menyiapkan upacara, ada pesan solidaritas ketika semua duduk dalam kebersamaan, dan ada pesan pelestarian budaya ketika tradisi ini terus diwariskan.

Di tengah arus modernisasi, Mondosiyo menjadi pengingat bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Ada ikatan dengan alam, dengan leluhur, dengan Sang Pencipta, dan dengan sesama.

“Tradisi ini adalah warisan yang tidak ternilai. Kalau hilang, hilang pula identitas desa kami,” tutur salah satu tokoh masyarakat Pancot.

Pesona Wisata Budaya

Selain bernilai spiritual, Mondosiyo kini juga mulai dikenal sebagai daya tarik wisatabudaya. Banyak peneliti, wisatawan, hingga pecinta budaya datang ke Pancot untuk menyaksikan langsung prosesi ini. Panorama Tawangmangu yang sejuk berpadu dengan suasana sakral Mondosiyo menjadikan acara ini pengalaman yang tidak terlupakan.

Pemerintah Desa Kalisoro pun berupaya menjadikan Mondosiyo sebagai agenda budaya tahunan yang bisa mendukung potensi wisata. Dengan begitu, Mondosiyo tidak hanya dilestarikan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Warisan untuk Generasi Muda

Di balik prosesi sakralnya, Mondosiyo menyimpan pesan penting: generasi muda harus mencintai dan melestarikan budaya leluhur. Oleh karena itu, setiap perayaan, anak-anak muda diajak ikut terlibat, mulai dari menyiapkan sesaji hingga mengikuti doa bersama.

Dengan cara ini, warga Pancot yakin Mondosiyo tidak akan pudar ditelan zaman, tetapi akan terus hidup sebagai identitas budaya lereng Gunung Lawu.

Oleh: Purwoto N.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *