KAB. JEPARA, wartaintegritas.com – Hari Jumat, 11 September kami dibawa mengunjungi museum di kota Frisian. Kota yang terkenal karena produk susu sapinya melimpah. Selain kami dijelaskan sejarah mennonit juga diberi masukan sejarah yang bersifat umum. Kami mendapatkan cerita tentang seorang wanita Belanda, yang bernama Mata Hari. Mata Hari adalah perempuan Belanda yang bernama asli: Margarethe Zelle pada 1876, lama hidup di kota Malang di Indonesia, karena menikah dengan seorang perwira Belanda keturunan Skotlandia; sehingga ia mahir menari Jawa. Dia dikenal sebagai ganda Eropa dan sekutu, pada zaman pendudukan Jerman atas Belanda. Kisah Mata Hari berakhir tragis di hadapan regu tembak dia meninggal.

Kami kemudian juga mengunjungi sebuah pasar yang ada di pasar terbuka di depan museum. Ini semacam pasar krempyeng, kata orang Semarang. Saya sempat mencatat harga-harga sayuran dan makanan yang, saat itu 1 euro= Rp. 16.000. Dua dos mika strowberi: 3,50 euro, 1 plastik buncis: 0,99 euro, 2 buah jagung: 0,99 euro, 1 kg sambal: 9,95 euro kalau dirupiahkan hampir 160 ribu rupiah, 1 ikat bunga dahlia merah: 2,5 euro kalau dirupiahkan 40 ribu rupiah!

Di pasar itu ada pengamen dengan alat musik klarinyet, seruling dan alat perkusi. Lagu yang dibawakan bagus-bagus, saya sempat beberapa saat menikmati lagu-lagu mereka.

Ada rumah makan tertulis melayani setiap hari pada jam tertentu, tertulis: Openingtijsden: Maandag 12.00-18.00, Dinsdag 09.30-18.00, Woensdag 09.30-18.00, Donderdag 09.30-21.00, Vrijdag 09.30-18.00, Zaterdag 09.30-18.00, Zondag 12.00-17.00. Ada sebuah outlet yang menjual makanan cepat saji, pemiliknya ada orang Korea, ramah sekali dan banyak pemuda-pemudi yang membelinya.

Kami kemudian diajak naik perahu boat, berwisata mengelilingi kota Leeuwarden melalui kanal yang melingkari kota. Setelah itu kemudian kami diajak makan malam bersama dengan anggota gereja mennonit di Leeuwarden.

Hari Sabtu, 12 September kami meninggalkan Leeuwarden menuju kota Schoorl dengan mobil. Di Schoorl ini terdapat gedung pusat kegiatan sinode gereja mennonit Belanda: Algemene Doopgezinde Society (ADS). Setelah kami makan siang bersama dengan para pengurus ADS, kami kemudian bertemu khusus dengan Dutch Mennonite Mission (DMM). Misi ini secara khusus bergerak di bidang penginjilan. Saya menyampaikan bahwa GITJ terbeban untuk mengobarkan gerakan church planting, seperti yang terjadi pada era 60-80-an. Kondisi para pendeta GITJ juga saya sampaikan, dengan harapan ada respon dari mereka. Yang saya pikirkan adalah, saat para pendeta memiliki kondisi yang baik, maka pekerjaan pemberitaan Injil dapat lebih berjalan dengan baik. Kami kemudian dijamu makan malam oleh gereja Mennonite di Heemstede. Di gereja Heemstede inilah, Gerlof Born bergereja. Gerlof Born adalah pengurus ADS khususnya di bagian komite Indonesia. Gerlof Bornlah yang mengurus segala sesuatu, sehingga delegasi bisa tiba di Nederland. (Bersambung)
Oleh: Suyito Basuki










