JEPARA, wartaintegritas.com – Rabu, 9 September 2015 Delegasi Indonesia meninggalkan Indonesia menuju ke Belanda dari Bandara Sukarno Hatta Jakarta dengan pesawat Garuda KL8102045. Delegasi Indonesia terdiri dari utusan Gereja Injili di Indonesia (GITJ) yakni Pdt. Suyito Basuki, Mestuti Hadi, dan Ika Maria Magdalena. Utusan Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) yaitu Anielle Immanuel Santosa, Pdt. Nahum Sudarsono, Pdm. Agus Suyanto, dan Pdt. Wara Adiati Retno Widuri. Kami datang sebagai tukar kunjungan, karena Henk Stenvers dan Gerlof Born sebelumnya mewakili Sinode Gereja Mennonit mengunjungi kami gereja-gereja mennonit di Indonesia. Kami ke Belanda dengan biaya dari Sinode Gereja Mennonit di Belanda.
Hari Kamis, 10 September 2015 delegasi Indonesia tiba di Bandara Schiphol Amsterdam Belanda, dijemput oleh Alle Hoekema dan Henk Stenvers. Oh kami ternyata sudah menginjak tanah di negara Belanda, sebuah negara yang sering kami dengar saat Agustusan. Negara ini sering disebut sebagai negara kolonial bagi bangsa Indonesia. Kami tidak lagi ingat saat capek-capek ngurus visa, rame-rame ke kantor konsulat Surabaya.

Setelah makan siang di rumah Gerlof Born, kemudian berkunjung ke situs-situs bersejarah di kota Makkum dan Harlingen. Selain itu juga mengunjungi situs menonit di Pingjum dan Witmarsum. Kami mengunjungi gereja mennonit tempat Menno Simon, tokoh gerakan mennonit melayani. Dari kata Menno Simon tersebut kemudian lahirlah gereja dengan aliran mennonit, sebuah gereja yang mengedepankan keadilan, kebenaran dan cinta kasih. Di Indonesia gereja yang memiliki aliran mennonit adalah GITJ, GKMI dan JKI.
Gereja itu tidak begitu besar. Di salah bagian gereja, terdapat sebuah tempat sederhana yang digunakan Menno Simon tidur. Tempat ini sekarang digunakan untuk perpustakaan. Orang yang berkunjung dapat melihat alkitab, kidung dan peralatan ibadah pada saat Menno Simon melayani. Saya berdiri di depan kamar kecil yaang digunakan tidur Menno Simon, dan saya terpaku dengan kesederhanaan hidupnya.

Saat ini, gereja tersebut menjadi sebuah museum dan komplek gedung gereja digunakan sebagai restoran dan hotel. Kami kemudian meninjau juga monument yang dibuat untuk menghormati Menno Simon. Monumen itu berupa tugu yang dibuat di makam Menno Simmon.

Usai meninjau situs-situs dan monument, kami dijamu minum teh dan kopi oleh jemaat mennonit di Berlikum. Mungkin karena kami terlalu lama di lokasi situs, maka beberapa jemaat sudah meninggalkan pertemuan karena ada kesibukan. Kami bertemu dengan pendeta dan beberapa jemaat. Setelah kami makan malam di rumah Gerlof Born, maka kami beristirahat di WTC Westcord Hotel di Leeuwarden. (Bersambung)
Oleh: Suyito Basuki










