Oleh: Iwan Firman Widiyanto *)

Gereja, Iman, dan Perjuangan Rakyat
SALATIGA, wartaintegritas.com – Buku Yesus dan Subversi, Praksis Teologi URM Bersama Rakyat Selama Era Orde Baru yang ditulis Pdt. Josef Widyatmadja, diterbitkan BPK Gunung Mulia dan CDC tahun 2025 dengan ketebalan 168 halaman ini sangat relevan dengan situasi Indonesia hari ini. Ketidakadilan sosial terus dirasakan oleh rakyat: korupsi merajalela, pejabat dan penguasa hidup mewah dengan gaji serta fasilitas fantastis, sementara rakyat kecil bergulat dengan pengangguran, PHK massal, dan harga kebutuhan pokok yang melonjak. Hukum seolah hanya tajam ke bawah, melukai yang lemah, sementara yang berkuasa dapat melenggang bebas meski berstatus tersangka. Bahkan aktivis yang bersuara untuk rakyat pun kerap dikriminalisasi.
Di tengah situasi demikian, buku Yesus dan Subversi menjadi sangat penting karena memperlihatkan panggilan profetis. Pdt. Josef mencatat bahwa iman Kristen bukan hanya bicara soal surga dan neraka setelah kematian, tetapi juga bagaimana gereja berjuang bersama rakyat tertindas. Buku ini mengajak gereja untuk tidak diam, melainkan melawan kebijakan penguasa yang lalim dan tidak berpihak kepada rakyat.
Isi dan Gagasan Besar Buku
Buku Yesus dan Subversi, Praksis Teologi URM Bersama Rakyat Selama Era Orde Baru ini berisi pengalaman Pdt. Josef Widyatmadja dalam memulai pelayanan diakonia transformatif, yaitu pelayanan berbasis iman yang mendorong perubahan nyata bagi masyarakat melawan struktur sosial, ekonomi, politik yang menindas. Konteks yang diangkat adalah pengalaman masyarakat yang tergusur akibat pembangunan Waduk Kedungombo pada masa Orde Baru—salah satu proyek yang kerap dikritik karena tidak memperhatikan hak-hak warga.
Penulis memulai kisah dari pengalamannya melayani di gereja lokal di Solo, lalu mengikuti pelatihan Urban Rural Mission (URM). Dari situ, ia menunjukkan bagaimana URM berkembang menjadi lembaga yang melakukan pendampingan terhadap rakyat kecil. Refleksi teologis yang mendasari praksis pelayanan ini jelas: iman Kristen harus membuahkan kasih, keadilan, kesejahteraan, dan perdamaian, bahkan melampaui sekat agama dan budaya.
Analisis Kritis
Salah satu kekuatan buku ini adalah gaya penulisannya yang sederhana dan naratif, sehingga mudah diikuti. Pdt. Josef menuturkan pengalaman pelayanan dengan gaya storytelling, sambil menyelipkan refleksi teologis yang tajam. Ia menggarisbawahi bahwa iman Kristen sejati adalah iman yang bertindak, berjuang bersama rakyat kecil untuk membawa perubahan.
Pengaruh teologi pembebasan sangat terasa, terutama melalui konsep preferential option for the poor (keberpihakan kepada kaum miskin dan tertindas). Meski begitu, buku ini tidak sekadar mengulang teori, melainkan menghadirkan pengalaman nyata di lapangan.
Keterbatasannya, buku ini relatif minim referensi akademis. Bagi pembaca yang mencari basis literatur lebih luas, hal ini mungkin terasa kurang. Namun, justru karena itu buku ini lebih mudah dipahami oleh pembaca awam tanpa kehilangan kedalaman refleksi. Dari sisi akademis, karya ini tetap signifikan karena masih jarang buku teologi Indonesia yang mengupas konsep dan praksis diakonia transformatif secara konkret.
Pesan buku ini semakin relevan ketika kita melihat situasi Indonesia belakangan ini, di mana berbagai kebijakan pemerintah dianggap tidak berpihak kepada rakyat, hingga memicu gelombang demonstrasi besar-besaran yang menelan korban jiwa. Gereja ditantang untuk tidak hanya berfungsi sebagai institusi ritual, melainkan menjadi mitra rakyat dalam memperjuangkan keadilan.
Buku ini cocok dibaca oleh aktivis gereja, pendeta, majelis, mahasiswa teologi, maupun komunitas lintas agama yang ingin belajar bagaimana iman dapat memberi kontribusi nyata dalam menghadapi ketidakadilan sosial.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Yesus dan Subversi adalah bacaan penting bagi siapa saja yang ingin melihat iman Kristen hadir secara nyata dalam pergulatan bangsa. Buku ini menunjukkan bahwa doa Yesus—“jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga”—harus diwujudkan dalam perjuangan untuk menciptakan bumi yang penuh keadilan, kasih, kesejahteraan, dan perdamaian.
Singkatnya, buku ini layak menjadi rujukan bagi gereja dan komunitas beriman yang ingin menjawab panggilan iman secara konkret: berpihak kepada rakyat yang tertindas.

*) Iwan Firman Widiyanto bekerja di Muria Damai Sentosa Indonesia/ Mennonite Diakonia Service Indonesia (MDSI), sebuah unit pelayanan gereja yang bergerak di bidang kebencanaan, pembangunan perdamaian, dan community development. Ia pernah menggembalakan jemaat selama 14 tahun dengan konsep ‘gereja dan masyarakat’. Ia menyelesaikan pendidikan teologi di STT Abdiel Ungaran dan Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, serta pendidikan tata kelola seni di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Iwan juga terlibat dalam perintisan Desa Wisata Kreatif Perdamaian, aktif dalam hubungan lintas agama, dan berbagai aktivitas sosial lainnya.










