YOGYAKARTA, wartaintegritas.com – Ketika review Nobody 2 ini Anda baca, filmnya memang sudah tidak lagi tayang di lebar karena tergeser oleh film-film yang lebih baru. Namun, adegan demi adegan yang saya tonton di layar lebar rupanya masih membekas dengan kuat dalam ingatan saya. Ketertarikan saya menonton sekuel Nobody ini, tak lepas dari rasa penasaran setelah menonton film pertamanya, juga karena sosok Timo Tjahjanto, orang muda kebanggaan nasional yang terpilih sebagai sutradara.
Nobody 2 dimulai dengan adegan interogasi agen federal terhadap Hutch, yang terlihat penuh luka, lalu sekilas penonton disuguhkan adegan Hutch yang sedang “bekerja” bak agen pembunuh bayaran yang brutal. Ternyata semua aksi Hutch ini dipicu oleh utang besar yang melilitnya gara-gara membakar habis tumpukan uang milik mafia Rusia, yang diceritakan di film pertama Nobody.
Situasi lantas berbelok ketika Hutch yang sudah melewatkan banyak momen kebersamaan dengan keluarganya, lantas diingatkan oleh istrinya bahwa liburan sekolah hampir tiba, tetapi mereka belum ada rencana. Hutch lantas menyanggupi, lalu menawarkan wisata kenangan ke sebuah taman bermain di Plummer Ville, yang menjadi kenangan masa kecilnya. Rencana dadakan ini lantas segera dieksekusi. Keluarga Hutch lantas berangkat, dengan menghampiri ayah Hutch di panti jompo, yang tampak antusias juga pergi ke PlummerVille.
Awalnya Semua Tampak Baik
Hutch bisa menikmati liburannya, sampai sehuah insiden di arena bermain mengubah semuanya. Anak lelaki Hutch yang sedang bermain, mendadak terlibat perkelahian dengan pemuda setempat. Hutch lantas berusaha membela anaknya, tetapi tak diberi kesempatan membela diri, karena dicegah oleh Becca, istrinya (Connie Nielsen). Emosi Hutch yang semula masih teredam lantas agak membara ketika mendapati gadis kecilnya ditoyor kepalanya oleh penjaga arena bermain, sebelum mereka keluar.
Hutch yang tidak bisa menerima anaknya difitnah menggoda pacar orang lain, terlebih gadis kecilnya disakiti, lantas kembali masuk ke arena bermain dan menghajar beberapa orang tanpa ampun. Aksi yang lantas mengirim keluarga Hutch ke markas sheriff setempat untuk dimintai keterangan, sekaligus diperingatkan agar jangan membuat keributan lagi di PlummerVille.
Namun, Hutch yang sejak awal ingin mengenang masa lalunya dengan mengajak keluarganya liburan di sana, bersikeras melanjutkan agenda pribadinya, yang semakin mengalami gangguan serius. Ya, ketenangan Hutch tak hanya terusik oleh para begundal suruhan petugas keamanan setempat, ketika dia ingin menikmati wisata air bersama keluarganya, tetapi lewat pertarungan sengit, Hutch harus kehilangan salah satu jarinya usai terkena sabetan pisau.
Intensitas konflik dan ketegangan semakin memuncak setelah Hutch tahu bahwa kota kecil itu ternyata menjadi basis usaha haram wanita bernama Lendina (Sharon Stone). Hutch yang sudah “terlanjur basah” dengan terlibat konflik di Plumer Ville lantas mendatangi salah satu pusat bisnis haram Lendina, lalu menghabisi semua anak buah Lendina, plus membakar habis tumpukan uang dan semua yang tersimpan di gudang usaha itu, lalu mengakhhiri dengan meledakkan lokasi usaha itu.
Lendina pun Marah Besar
Aksi Hutch yang sangat merugikan itu lantas memicu kemarahan Lendina, yang segera mengajak pasukan terbaiknya untuk memburu Hutch dan keluarganya. Hutch yang sudah diperingatkan soal akibat mengusik usaha wanita kejam itu, lantas bersiap menghadapi pasukan Lendina dengan mengarahkan mereke ke taman bermain, yang sudah disulap bak medan perang dengan jebakan di sana-sini. Oya, sampai titik ini Hutch tidak berjuang sendirian, karena dibantu oleh ayahnya (lansia yang masih doyan aksi brutal) dan Harry, saudara angkatnya yang juga mahir bertarung. Sherif Wyatt, yang kini memihak Hutch setelah anaknya sempat diculik, juga ikut bertarung demi menuntaskan dendam pribadinya, karena Lendina tega menghabisi ayahnya pada masa lalu.
Peperangan kecil tetapi terasa brutal dan diwarnai ledakan sana-sini pun tersaji. Jebakan demi jebakan yang dipasang oleh tim Hutch sukses besar mengurangi pasukan Lendina satu demi satu, meskipun terjadi perlawanan sengit yang membuat Wyatt, Hutch, dan ayah Hutch terluka. Sampai akhirnya tersisa duel antara Lendina dan dua anak buah wanitanya, yang hampir saja mengakhiri hidup Hutch, tetapi istri Hutch mendadak muncul dengan senjata di tangan, yang menjadi kunci kemenangan tim Hutch, yang diakhiri oleh tewasnya Lendina meledaknya taman bermain itu. Tuntas sudah!
Adegan lantas beralih ke lanjutan interogasi kepada Hutch dan istri, yang sempat membuka adegan Nobody 2. Dua orang agen federal semula berniat mengorek lebih dalam karena penasaran, “Bagaimana seorang yang bukan siapa-siapa (nobody) bisa mengacau dengan kondisi yang brutal seperti itu?” Namun, mendadak situasi berubah setelah dua agen itu menerima panggilan telepon, lalu terpaksa membebaskan Hutch dan istrinya.
Overall, Timo Tjahjanto terbilang sukses menyajikan sosok Hutch Mansell, seorang family-man yang mudah lepas kendali ketika keluarganya diusik, lalu tanpa ampun menghabisi siapa pun yang nekat berurusan dengan dirinya. Meskipun Nobody 2 dikemas dengan aksi yang penuh ledakan, adegan perkelahian yang brutal, tetapi Timo masih mampu menyisipkan adegan dan percakapan yang bisa mengundang tawa, bahkan sorakan sebagian penonton ketika saya menyaksikan secara langsung di bioskop. Nilai 8 dari 10 saya sematkan untuk Nobody 2.
Oleh: Widodo SP










