Judul Buku : Dari MEGACHURCH ke PELIPATGANDAAN, SEBUAH PERJALANAN GEREJA KE ARAH KEGERAKAN
Penulis : Chris Galanos
Jumlah halaman : 408 halaman
Cetakan Pertama : Oktober 2024
Ketika saya mendapat kiriman buku berjudul Dari MEGACHURCH ke PELIPATGANDAAN, SEBUAH PERJALANAN GEREJA KE ARAH KEGERAKAN, maka yang pertama kali saya lakukan adalah membaca daftar isi yang berisi 40 Bab dengan Kata Pengantar Roy Moran dan Stan Parks, Ph.D, keduanya mentor Chris Galanos penulis buku ini. Saya langsung terpancang pada Bab 8 yang berjudul: Dimana Chris? Mengapa saya terpancang dan terus membaca Bab 8 yang berjudul: Dimana Chris tersebut? Karena terus terang saya pikir penulis bertanya terhadap keberadaan tokoh Chris Marantika, pencetus visi 1.1.1 Indonesia bagi Kristus, serta pendiri Seminari Theologia Injili Indonesia Yogyakarta yang sekarang berubah nama menjadi Sekolah Tinggi Theologia Injili Indonesia (STTII) Yogyakarta ini.
Ternyata yang dimaksud ‘Chris’ di Bab 8 tersebut adalah nama panggilan Chris Galanos penulis buku Dari MEGACHURCH ke PELIPATGANDAAN, SEBUAH PERJALANAN GEREJA KE ARAH KEGERAKAN ini. Dalam Bab 8 terebut, Chris Galanos ditanyakan oleh warga gerejanya, karena tidak seperti biasanya, Chris Galanos mengurangi jadwal khotbahnya dari 4 kali seminggu menjadi 3 kali dalam seminggu. Chris tidak menginginkan dirinya menjadi pengkhotbah selebritas. Sebagaimana Paulus dan Barnabas di Antiokhia, Chris ingin banyak orang menyampaikan firman Tuhan dan mengambil bagian dalam pelayanan di gereja e-life.
Inilah esensi gerakan DMM, Disciple Making Movement, yang menginginkan banyak orang terlibat dalam pelayanan. Pelayanan ini tidak seperti pelayanan di gereja mainstream ala Amerika, dimana pendeta menjadi sentral dan penggerak pelayanan. Seorang pendeta seperti itu menjadi sibuk dengan urusan gerejanya sehingga pengembangan pelayanan yang berarti penjangkauan orang-orang yang belum percaya di luar gereja tidak bisa dilakukan dengan maksimal. DMM yang diindonesiakan sebagai Gerakan Pemuridan. Chris Galanos mengembangkan Gerakan Pemuridan ini setelah 10 tahun memimpin sebuah gereja e-Life di Lubbock Texas Amerika Serikat. Saat memimpin gereja E-Life, sejak perintisan hingga 10 tahun kemudian, gerejanya memiliki anggota baptis 6.756 orang dan saat merayakan hari ulang tahun yang ke-10, terdapat 13.337 orang yang ikut merayakannya.
Gerakan Pemuridan ini dimulai dengan sebuah pertanyaan AyPD yang berarti apa yang perlu dilakukan untuk menjangkau sebuah suku dengan berita Injil. Untuk mengembangkan Gerakan Pemuridan ini maka yang pertama adalah berfokus pada firman Allah, yang mencakup pola membaca, menaati, dan menceritakan Firman secara teratur. Yang kedua melipatgandakan doa yang luar biasa, ini berarti menambah jumlah jam doa setiap hari dan berpuasa di setiap akhir pekan. Yang ketiga adalah pergi ke tengah-tengah mereka yang belum percaya. Tidak akan ada gerakan kecuali orang-orang yang belum percaya datang beramai-ramai menjadi murid Yesus. Yang keempat adalah menyaksikan dimulainya kelompok-kelompok. Gerakan Pemuridan ini menyebut adanya kelompok penemuan yang diawali ditemukannya orang damai. Yang kelima menebarkan visi sehingga terbentuk banyak tim yang lakukan Gerakan Pemuridan. Yang keenam adalah melatih orang-orang percaya. Mereka dilatih untuk menjadi pemurid dan merintis gereja. Mereka dilatih untuk bisa memuridkan sehingga melahirkan murid-murid yang lain. Yang ketujuh adalah melakukan pembinaan berkelanjutan. Hal ini penting sekali untuk mencapai visi yang telah ditetapkan. Pelatih yang baik adalah yang pernah mengalami dan melakukan apa yang ia sampaikan sebagai bahan latihan.
Ada istilah-istilah yang digunakan dalam gerakan DMM ini. Orang damai disebut sebagai WOOLY. WOOLY adalah W (Welcome), OO (Open Oikos), L (Listening), Y mengubah kata benda dalam bahasa Inggris menjadi kata sifat. WOOLY menunjuk kepada orang-orang yang belum percaya tetapi bisa menjadi kontak untuk Gerakan Pemuridan selanjutnya.
Ada lagi istilah lagi: PIPSY yang berarti mudah, tidak mengusung masalah, sangat sederhana. PIPSY yang adalah akronim bisa dijelaskan sebagau berikut. Huruf P adalah Poor dalam bahasa Inggris. Yang berarti berkekurangan, mereka yang lapar, yang haus, yang tidak punya pakaian. Gerakan Pemuridan dapat dimulai di tengah kondisi mereka yang berkekurangan, sehingga bisa memenuhi kebutuhan mereka lebih dahulu. Huruf I berarti ‘Internasional’ yang menunjuk kepada orang-orang yang berasal dari bangsa lain yang datang di lingkungan orang percaya, merekalah yang bisa diprioritaskan pula untuk dilayani. Huruf P berarti ‘Prisoner’ atau tawanan atau orang-orang yang dipenjara. Mereka yang seperti itulah juga perlu diprioritaskan dalam pelayanan Gerakan Pemuridan. Huruf ‘S’ dimaksudkan dengan ‘Sick’ atau sakit. Kondisi seperti itulah yang perlu perawatan dan di situlah dapat dimulainya Gerakan Pemuridan.
Pengalaman Chris Galanos melakukan Gerakan Pemuridan ditambah dengan kisah-kisah seperti Akachi yang bersemangat tentang Gerakan Pemuridan meskipun awalnya gagal menerapka; kemudian kisah Andrew dan Kristin yang usai terlepas dari jerat narkoba kemudian aktif dalam Gerakan Pemuridan; Kisah Kate dari Thailand dan Lucy dari China yang kemudian menjadi orang percaya, dibaptis setelah mengikuti pertukaran pelajar di Lubbock Texas; kisah para tahanan yang berhasil dimuridkan; Ty yang semula menolak Gerakan pemuridan namun akhirnya menjadi salah satu pendukung Gerakan pemuridan yang terbesar dan berbagai kisah lainnya menjadi Gerakan Pemuridan tidak saja sekedar teori tetapi kenyataan yang terbuka, yang menarik untuk dipelajari.
Sebagai sebuah peringatan juga disampaikan supaya gereja yang sudah mapan saat akan mengikuti Gerakan Pemuridan atau DMM ini, yakni akan: adanya krisis identitas bagi seorang pemimpin gereja karena metoda yang digunakan jelas berneda dengan metoda pelayanan sebelumnya, berkurangnya persembahan, menyusutnya jumlah yang hadir, serta adanya orang-orang yang ragu-ragu dan berkecil hati terhadap Gerakan Pemuridan ini.
Untuk memulai Gerakan Pemuridan, Chris Galanos yang memiliki visi menjangkau 1.000.000 dalam 10 tahun menyarankan untuk memulai dengan staf mengenal DMM, menyampaikan apa yang telah dipelajari dan temukan tiga bulan terakhir, bertukar pikiran dengan staf untuk mengidentifikasikan orang-orang yang tertarik dengan Gerakan Pemuridan, setelah menemui secara pribadi lalu sampaikan kepada gereja, tetap melakukan percakapan dengan staf gereja untuk dapat memanfaatkan segala sesuatu di gereja guna mewujudkan visi baru itu, serta terus melatih banyak orang dan membagikan cerita-cerita tentang apa yang sedang Tuhan lakukan. Selain itu juga perlu memulainya dengan jemaat yakni dengan menebarkan visi Gerakan Pemuridan, membentuk tim perintisan, mulai mengembangkan layar dengan 7 prinsip yang telah dibahas di depan, menebarkan visi kepada staf gereja dan terus temui pelatih Gerakan Pemuridan untuk terus ‘mengembangkan layar’.
Buku ini sangat menarik, baik dari segi tema yang diketengahkan maupun gaya penceritaannya yang menampilkan kisah-kisah nyata para pelaku Gerakan Pemuridan atau DMM ini. Yang perlu dicermati adalah saat pembicaraan tentang pendirian gereja. Gereja yang menjadi acuan mereka adalah rumah-rumah persekutuan di Kisah Para Rasul, bukan gereja-gereja seperti gereja di kota Roma, Korintus, atau Efesus. Harus dipahami bahwa Gerakan Pemuridan ini adalah reaksi dari keadaan gereja-gereja di Amerika yang dirasa stagnan, hanya berfokus pada beberapa orang yang mereka analogikan sebagai gereja ‘gajah’ yang sulit melipatgandakan diri.
Gereja Gerakan Pemuridan ini dianalogikan seperti gereja ‘kelinci’ yang cepat berkembang, sehingga definisi dan fungsi gereja mainstream perlu mereka ubah sehingga pelipatgandaan itu menjadi sebuah kenyataan!
Hanya saja ada informasi di buku bahwa biaya seorang Amerika yang dibaptis itu mencapai 1,5 juta dollar USA yang setara dengan 23.385.450.000, 00 rupiah (h.21) itu maksudnya Pemerintah memberi gereja uang sejumlah itu kepada gereja yang membaptis atau gereja mengeluarkan dana sebesar itu untuk biaya pembaptisan berikut follow upnya? Sementara itu diinformasikan juga bahwa di India, biaya baptisan hanya 66 Sen Dollar?
(Suyito Basuki)










