Oleh: Erna Widyaningsih*)
4. Berpisah Karena Keadaan
Orangtua mana yang tidak ingin anaknya sukses, dan mendapat pendidikan yang baik. Itupun terjadi pada keluargaku.
Ketika anakku tumbuh menjadi anak seusia lima tahun, yang lincah, pintar dan lagi lucu-lucunya, aku harus memilih antara 2 pilihan yang sulit bagiku.
Tetap tinggal bersamaku tapi sekolah yang biasa saja, sekolah di desa. Atau ingin sekolah yang maju, tapi harus berpisah denganku untuk sementara. Akhirnya dengan banyak pertimbangan, kuputuskan Khaila aku sekolahkan di sebuah sekolah favorit di Semarang. Meskipun baru sekolah TK, tapi bagiku itu bisa menjadi dasar yang kuat untuk pendidikannya. Sekolah TK seperti itu, di desa tempat kontrakanku belum ada.
Akhirnya kami hidup terpisah. Anak dan suamiku di Semarang, sedangkan aku tinggal di Yogya. Setiap seminggu sekali atau kalau ada kesempatan aku pulang ke Semarang untuk bertemu anak dan suamiku.
Kebetulan mas Hans juga punya usaha sendiri di Semarang, dekat rumah mertuaku. Dan usahanya mulai berkembang, jadi apa salahnya kalau anakku juga sekolah di Semarang , tinggal dengan kakek, neneknya di Semarang.Meski sebenarnya aku tidak tega berpisah dengan anakku. Tapi apa boleh buat, itu semua untuk kebaikkan anakku.
Bapak dan ibuku sangat sayang dengan anakku, beliau sangat senang anakku tinggal bersama mereka.
Awalnya aku sangat kesepian karena sekarang tinggal sendirian, tanpa mendengar gojegan anak dan suamiku. Tapi aku hapus kesepian itu dengan berbagai kesibukan yang bisa menghapus keriduanku pada anak dan suamiku.
———–
Waktu berlalu cepat. Aku sudah mulai biasa hidup sendiri. Anakku di Semarang waktu itu sudah kelas dua SD. Dia menjadi anak yang pintar, gemuk, dan ceria. Aku senang dengan semuanya itu.
Hari itu bapakku yang sudah pensiun dari pekerjaannya, tengah membantu ibu mengantar pesanan kue yang diantar ke sekolah – sekolah, mengalami kecelakaan .
“ Lia, pulanglah segera, bapakmu….”, suara lirih dari seberang telepon.
” Ada apa bu, ada apa dengan bapak?” Aku semakin penasaran karena ibu telepon sambil menangis.
“ Bapakmu kecelakaan, sekarang di ICU”, jawab ibu.
Tiba – tiba badanku lemas mendengarnya.
Tanpa berpikir dua kali aku segera pulang ke Semarang langsung ke rumah sakit Elizabeth tempat bapak dirawat.
Tiba di rumah sakit, setelah masuk ruangan ICU, kulihat tubuh yang kekar dan gagah itu, kini terkulai lemas tak sadarkan diri.
“ Bapak …. bapak“, kupanggil tapi bapak tetap diam.
Sudah 4 hari bapak tidak sadarkan diri. Kecelakaan itu membuat bapak gegar otak tak sadarkan diri.
Ibu yang dengan setia menunggui bapak, selalu mengamati setiap perkembangan bapak.
“ Dokter… dokter “, suara ibu keluar ruangan ICU memanggil dokter. Ternyata bapak mulai sadar. Setelah diperiksa, dan dilakukan tindakan, ibu dipanggil ke ruangan dokter untuk diajak berembug.
Kudampingi ibu ke ruangan menemui dokter.
“ Bu, untuk memastikan kondisi bapak maka nanti kita akan melakukan pemeriksaan dengan CT (Computerized Tomography) Scan pada kepala bapak dan melakukan MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk melihat adanya perdarahan di otak dan melihat adanya gangguan struktur otak”, kata dokter menjelaskan.
“ Ya dok, tolong lakukan apapun untuk kesembuhan bapak”, sahutku mewakili ibu yang bingung mau menjawab apa.
“ Nanti ditunggu hasil CT Scannya ya bu, sebentar lagi suster akan membawa pasien untuk CT Scan “ kata dokter memberitahu kami.
“ Ya, dok, terimakasih penjelasannya”, balasku dengan ramah.
Beberapa saat dua orang perawat menggeledek membawa bapak menjalani CT Scan .
Aku dan ibu mengikuti kemana bapak dibawa. Kugandeng ibu supaya memberi kekuatan. Dan kami tunggu hasil CT Scan keluar. Kalau hasil MRI baru besuk.
Tak berapa lama, perawat keluar membawa bapak dari ruang CT Scan. Aku dan ibu menemui dokter lebih dulu untuk mendengar penjelasan dokter mengenai tindakan selanjutnya.
“ Permisi dok … “ sapaku pada pak dokter
“ Ya, silakan bu,” dengan ramah sang dokter mempersilakan aku dan ibu duduk di depan mejanya. Dokter menjelaskan banyak hal.
“Operasi otak”, ya itu jalan satu – satunya yang harus dilakukan untuk kesembuhan bapakku.
Lalu ibu mengajak berembug kami dan keluarga. Aku sebagai anak tertua dengan berbagai pertimbangan langsung memberi keputusan “ya”. Karena itu jalan yang terbaik buat bapak, meskipun kemungkinan pulih tidak seratus persen. Berapa pun biayanya akan kita usahakan, demi kebaikan bapak.
Operasi bapak mulai berlangsung.
Ternyata operasi berjalan lama, mungkin karena untuk dilakukan dua tindakan operasi kepada bapak.
Hatiku khawatir. Ibu yang kutemani diluar ruang operasi, hanya terduduk lemas. Kupegang kedua tangan ibu dingin. Aku menghibur ibu dengan kata-kata sebisaku. Meskipun aku sendiri juga harap – harap cemas, tapi aku harus tetap tegar. Kasihan ibu.
Akhirnya operasi selesai juga. Operasi berjalan dengan lancar dan berhasil, karena operasinya dua tempat jadi lama. Ternyata setelah mengoperasi otak, karena ada penyumbatan di otak, kemudiaan mengoperasi daerah paha, tempurung otaknya di simpan di sana. Begitulah penjelasan dokter.
Beberapa waktu bapak berangsur pulih. Dia sudah bisa diajak komunikasi, meski belum lancar. Memorinya belum 100 % pulih.
Ketika kondisi bapak sudah stabil maka diadakan operasi lagi untuk mengembalikan tempurung otak yang di simpan di paha. Syukurlah operasi berjalan lancar dan berhasil.
Beberapa hari kemudian bapak diperbolehkan pulang. Aku dan ibu sangat gembira ketika dokter memberitahukan bapak sudah boleh pulang bisa berkumpul lagi di rumah.
Semenjak kecelakaan itu bapak banyak diam. Seringkali tingkah lakunya seperti anak kecil. Karena kebetulan bapak juga punya penyakit diabetes jadi pola makannya dibatasi. Setiap hari ibu sudah mengaturnya.
“ Pak, bawa apa?“, suatu ketika ibu menyapa bapak saat ibu melihat tangan bapak memegang sesuatu tapi disembunyikan.
“ Gak bawa apa – apa, ini cuma bawa biskuit punya Khaila, mau kukasihkan dia”, jawab bapak sambil menunjukkan genggamannya yang berisi penuh biskuit cokelat. Padahal pagi itu jelas tidak ada Khaila, karena dia sedang sekolah.
“ Pak, kalau pingin sembuh ya jangan makan yang manis – manis dulu, lagian Khaila kan belum pulang dari sekolah”, ibu mendekati bapak sambil meminta biskuit tadi.
Sebenarnya ibu kasihan karena bapak ingin makan saja kok tidak boleh, tapi demi menjaga kesehatan bapak, itu semua ibu lakukan.
*) Penulis Guru Mapel Fisika SMAN 1 Ambarawa











