Oleh: Erna Widyaningsih*)
13. Indah pada Waktunya
Tak terasa waktu bergulir cepat. Khaila sudah setahun ini bekerja di sebuah klinik. Dia sebenarnya suka bekerja di situ. Tetapi aku yang selalu merasa was-was karena terkadang dia pulang larut malam kalau dapat shif siang. Itu artinya jam 11 malam dia baru pulang. Aku mengkhawatirkan keadaannya. Dia seorang perempuan. Aku tidak ingin dia kenapa – kenapa. Aku tidak mau setiap saat menunggu kedatangannya dengan kecemasan, apalagi sekarang baru marak kasus dan berita perampokan di jalan.
Setelah dengan berbagai pertimbangan Khaila mengundurkan diri dari bekerja di klinik. Lalu dia melamar pekerjaan di rumah pribadi yang lokasinya masih satu kecamatan dengan rumah tinggalku. Pekerjaan utamanya adalah merawat orang jompo. Akhirnya Khaila diterima dan bekerja di situ. Kali ini aku tidak merasa cemas lagi setiap kali melepas Khaila pergi kerja.
“ Bu, apa kita bisa ngobrol sebentar?”, kata Khaila padaku suatu ketika. Nada suaranya seperti harap-harap cemas.
“Iya, ada apa Khaila”, sahutku penasaran. Dan akhirnya Khaila menceritakan panjang lebar kalau pacarnya berniat mau melamarnya. Aku tertegun. Deg.. hati ini terasa tidak karuan. Mengapa waktu terasa begitu singkat. Sepertinya baru kemarin aku menimang Khaila, sekarang dia sudah mau dilamar orang, dan memulai hidup berkeluarga.
Sebenarnya aku ingin Khaila untuk bertunangan lebih dulu, sambil kupersiapkan dana untuk pernikahannya kelak. Dia perempuan jadi biaya yang harus kupersiapkan pasti banyak. Aku hitung – hitung setiap saat, aku merenungkan semua itu. Mampukah aku membiayai pernikahan anakku?
Hari yang sudah disepakati tiba. Khaila anakku dilamar Raditya, pacarnya. Bersama kedua orang tuanya Raditya melamar anakku. Aku mencari saudaraku untuk mewakili menjawab tatacara lamarannya. Aku jadi teringat pada mas Hans. Andai kamu masih hidup mas, tentulah kamu yang menjawab lamaran anak kita ini.
——————————-
Pernikahan itu diputuskan tiga bulan lagi. Tiga bulan, waktu yang singkat, darimana aku memperoleh uang selama 3 bulan untuk biaya Khaila menikah? Aku berusaha mencari dana kesana kemari untuk persiapan pernikahan anakku. Aku tidak mau mengecewakan anakku. Akan aku tunjukkan bahwa meski aku seorang diri tetapi mampu membiayai pernikahan anakku. Tetapi bagaimana caranya?
Kebetulah waktu itu kami sepakati bersama bahwa tentang semua biaya pernikahan akan kami tanggung bersama-sama antara keluarga Raditya dan keluargaku. Ini membuatku sedikit lega. Aku bersyukur bahwa Khaila mendapat keluarga calon mertuanya yang baik, yang sangat menyayangi dia, seperti halnya aku menyayangi Khaila.
Hari itu datanglah. Pernikahan antara Khaila dan Raditya berlangsung dengan meriah dan gembira.
Pada saat acara sungkeman, Khaila dan Raditya menangis di depanku. Ini membuat aku teringat mas Hans. Di saat ini harusnya mas Hans tahu bahwa anak sulung perempuannya kini sudah disunting orang, memulai hidup berumah tangga. Khaila memulai hidup berkeluarga bersama Raditya, suaminya. Sekarang aku pun seperti mendapat anak laki – laki pengganti putraku yang meninggal terdahulu. Dia ini Raditya menantuku, menjadi bagian dari anggota keluargaku yang baru.
Kalau dinalar, mungkin aku sendiri tidak percaya. Aku yang hanya seorang janda dan bekerja sendiri untuk menafkahi keluarga, kini bisa menyelenggarakan pernikahan Khaila dengan meriah, dengan tidak sedikit biaya yang harus kukeluarkan.
Semuanya itu berkat bantuan dari banyak pihak. Seperti saat aku membutuhkan sembako untuk konsumsi seluruh tamu, orang-orang kerabatku dan kerabat mas Hans suamiku, mereka datang mengirim bahan-bahan sembako ke rumahku. Ada pula yang mengirim uang dan meminjamkan uang untukku. Bahkan fotografer pesta ini pun juga meringankanku. Jasanya tidak mau dibayar dimuka. Besuk saja bu kalau sudah selesai acaranya, begitu katanya kepadaku. Kebanyakan mereka semua orang-orang baik yang kukenal dan kini mereka datang dari mana-mana dan membantu aku menyelenggarakan pesta perkawinan Khaila anakku.
Mas Hans pasti senang di alam sana melihat putrinya berbahagia. Tak henti – hentinya aku bersyukur pada Tuhan. Ternyata aku diberi kemudahan, kelancaran dalam menyelenggarakan pesta pernikahan anakku. Padahal semula aku ragu apakah aku mampu menyelenggarakan pesta pernikahan semeriah ini.
Setelah pesta pernikahan usai, beberapa minggu kemudian kusarankan Khaila untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya sekarang. Kusarankan ikut suaminya yang berkerja dan tinggal di Yogya. Aku tidak mau pengalamanku di masa lalu kini terulang lagi. Anak akan menjadi korban jika kedua orangtua masing-masing bekerja di tempat berjauhan dan mereka terpisah. Dan Khaila pun mengikuti saranku. Dia pergi ke Yogya mengikuti suaminya.
————————————
Rumahku terasa sunyi sepi sekarang. Aku hanya tinggal berdua dengan Shinta. Setiap hari aku menyisihkan lebih banyak waktu untuk berdoa bagi kebahagiaan anak-anakku.
Dan setahun kemudian Khaila melahirkan seorang bayi mungil buah hasil cinta Khaila dengan Raditya. Aku meminta mereka untuk menjaga bayi mereka dengan sepenuh hati. Meskipun jaraknya cukup jauh untuk bisa menemui mereka di Yogya, aku setiap seminggu sekali bila tak ada acara lain, aku tengok cucuku.
Ah lucu dan menggemaskan cucuku ini. Dan tanpa kusadari, kini aku dengan sendirinya telah menjadi seorang nenek. Aku sering menimang cucuku dan kugendong kemana-mana. Bahagia rasanya.
Tidak di sangka –sangka, Raditya menantuku suatu hari diberi tawaran untuk pindah pekerjaan di tempat yang lebih dekat dengan rumahku, di Semarang. Dengan tanpa banyak bicara, tawaran itu diterimanya. Aku senang mendengarnya. Mereka bisa berkumpul di Semarang dengan bahagia.
Ternyata semua itu indah pada waktunya. Aku telah diberi ganti anak lelaki ditambah seorang cucu yang lucu. Terimakasih Tuhan.
Khaila, suaminya, cucuku, juga Shinta. Mereka keluarga kecilku ini sekarang tinggal menyatu bersamaku di Semarang. Alangkah bahagianya diriku. Roda nasib ternyata sekarang seperti berpihak kepadaku. Semua terjadi dengan sendirinya, semua terjadi menunggu saatnya.
Semua mimpiku untuk berkumpul dengan keluarga, sekarang terwujud nyata. Semua indah pada waktunya.
S e l e s a i
*) Penulis Guru Mapel Fisika SMAN 1 Ambarawa








