PATI, wartaintegritas.com – Suara vokal untuk paduan suara hendaknya menggunakan head voice yakni dengan menggunakan ruang kepala bagian atas dan depan. Jangan sampai bahu maupun dada terangkat saat mengambil nafas dengan hidung. Karena waktu turun maka akan kaku. Jika bernyanyi seperti itu, akan memperpendek nafas, sehingga tidak bisa tahan 15 detik. Oleh karena itu yang digunakan adalah diafragma atau area perut untuk menyimpan dan mengeluarkan nafas saat bersuara. Demikian Yambres Leunupun di hadapan peserta Training of Trainer Paduan Suara Gerejawi 2025 yang diadakan Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Jawa Tengah di GBI Sobat Setia Pati hari Rabu 19 November 2025 yang baru lalu.
Lebih lanjut dijelaskan oleh Yambres yang saat ini aktif melatih paduan suara di SMP Kristen Satya Wacana Salatiga, Voice of Teologi, Mutiara Timur Voice Salatiga bahwa saat menyanyi paduan suara, volume suara sangat penting diperhatikan. “Volume suara pada paduan suara sangat penting. Jangan sampai 30 orang peserta yang terdengar seperti 10 orang peserta saja,” demikian Yambres menguraikan.
Perihal suara vibrasi dalam bernyanyi, menurut Yambres vibrasi harus dijaga, jangan sampai saat menyanyi rahang dan leher tegang. Harus rileks katanya. “Nada bisa turun kalau vibrasi tidak dijaga dengan baik. Vibrasi menjadi turun kalau rahang dan leher kita tegang,” demikian ujarnya.

Menurut Yambres lebih lanjut, Marthin Luther pernah berkata, bahwa bernyanyi dengan baik dan benar itu bobotnya sama dengan dua kali berdoa. Oleh karena itu harapannya di depan peserta yang diutus LPPD Jepara, Kudus, Rembang, Grobogan dan Pati ini ia berharap mestinya penyanyi paduan suara tidak sembarang menyanyi. “Semua elemen bernyanyi harus diikuti, pesannya harus sampai. Di gereja tidak hanya memuji Tuhan, bisa jadi nyanyian menjadi penggembalaan kepada jemaat dan keperluan lainnya. Bernyanyi sebenarnya tidak gampang, tidak sekedar membaca notasi saja. Tanggung jawab penyanyi hampir sama dengan tanggung jawab pendeta jemaat dalam menyampaikan pesan kepada jemaat, hanya sarananya berbeda” demikian tegas Yambres.
Selain membahas teknik bernyanyi yang baik, Yambres yang sejak 2019 hingga saat ini menjadi petugas musik gereja dan pemazmur di GKI Jendral Sudirman Salatiga ini pada session kedua membahas strategi melatih sebuah paduan suara yang baik. Pembahasan ini meliputi teknik-teknik sebagai dirijen juga karakter pelatih paduan suara yang kreatif, rendah hati, tepat waktu harus dimiliki sehingga bisa mendorong minat dan semangat anggota paduan suaranya. Dia berpesan supaya tidak menyalahkan anggota paduan suara jika ada kesalahan bernyanyi. “Yang harus disalahkan ya pelatihnya,” ujarnya.
Pada session terakhir, Yambres membagikan sebuah partitur lagu natal dan para peserta diajak untuk berlatih mulai dari pemanasan vokal dan menyanyikan lagu dengan formasi SATB hingga beberapa bar partitur.

Dwi Kuncoro selaku Ketua Umum LPPD Jateng dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelatihan vokal dan paduan suara gerejawi ini mungkin baru pertama kali dilaksanakan sejak adanya LPPD di Jateng. Dijelaskannya bahwa berdasarkan PP Menteri Agama no. 19 tahun 2005. Berarti sudah 20 tahun lebih LLPD ada di Indonesia. Menurut Dwi Kuncoro, LPPD adalah lembaga strategis untuk pengembangan seni dan budaya gerejawi.
“LPPD sebuah lembaga yang strategis karena kita bisa menginterpretasi iman kita khususnya dalam hal seni dan kebudayaan Kristen. Kami mendorong supaya daerah kota/ kabupaten di Jateng yang belum memiliki LPPD supaya dapat terbentuk LPPD. Di tahun 2025 ini baru ada 14 kota/ kabupaten yang memiliki kepengurusan LPPD dari 35 kota/ kabupaten yang ada,” demikian Dwi Kuncoro yang kesehariannya adalah sebagai Gara Kemenag Kabupaten Pati ini.
Seorang peserta dari Pati Eko Susanto, mengaku bahwa kebanyakan peserta paduan suara berlatih dengan otodidak, sehingga terkadang dalam paduan suara masalah dinamika lagu kurang cermat, sehingga menyanyi dipukul rata dinamikanya. Dengan adanya pelatihan ini, dia bersyukur bisa belajar masalah dinamika dan hal lainnya yang perlu diperhatikan dalam bernyanyi khususnya paduan suara.

Terkait dengan lomba-lomba Pesparawi yang diadakan oleh LPPD Jateng, Immanuel utusan LPPD Kudus berharap lagu-lagu yang dilombakan dalam pesparawi jauh hari sudah diberitahukan supaya ada persiapan matang di daerah-daerah. Demikian juga yuri diharapkan dipersiapkan dengan baik dan yuri tetap menjaga netralitasnya dalam menilai peserta lomba.
Setelah terselenggaranya Training of Trainer di Pati untuk wilayah Pantura ini, maka berturut-turut akan diselenggarakan oleh LPPD Jateng acara serupa di Semarang, Jumat 21 November 2025; di Karang Anyar, Selasa 25 November 2025; di Purwokerto, Senin 24 November 2025; dan di Temanggung Rabu, 26 November 2025.
(Suyito Basuki)
















