Oleh: Pdt. Samuel Basri Harnomo *)
Di era digital, berita bergerak lebih cepat daripada kebenaran. Satu unggahan di media sosial bisa membentuk opini jutaan orang dalam hitungan jam, bahkan sebelum fakta sempat diverifikasi. Wartawan senior Dahlan Iskan pernah mengatakan, “Kini ada kebenaran baru: persepsi publik.” Kalimat ini sederhana, tetapi mencerminkan realitas dunia media saat ini: apa yang dipercaya orang banyak – benar atau salah-dapat menjadi “kebenaran operasional” yang menggerakkan opini publik, menuntut kecepatan yang menjadi dasar “breaking news”, kebijakan, bahkan arah sejarah.
Masalahnya, persepsi publik tidak selalu sejalan dengan kebenaran sejati. Alkitab memberi banyak contoh: orang banyak yang sama yang memuji Yesus dengan “Hosana!” di Yerusalem (Mat. 21:9) adalah orang yang berteriak “Salibkan Dia!” hanya beberapa hari kemudian (Luk. 23:21). Persepsi mereka berubah, bukan karena kebenaran berubah, tetapi karena narasi yang mereka dengar dan percaya berubah.
Dahlan Iskan benar, dalam praktik media, siapa yang lebih dulu membentuk persepsi publik sering menang dalam memengaruhi arah pikiran masyarakat. Tetapi di sinilah bahaya itu mengintai: ketika kebenaran faktual datang terlambat, opini sudah terkunci. Dalam bahasa Amsal 18:17, “Siapa yang pertama datang mengemukakan perkaranya nampak benar, tetapi datanglah orang lain dan menyelidikinya.” Masalahnya, di era kecepatan informasi, publik sering tidak sabar menunggu orang kedua itu datang.
Dari perspektif iman Kristen, kebenaran bukanlah hasil voting atau trending topic. Kebenaran adalah karakter Allah itu sendiri (Yoh. 17:17) dan telah dinyatakan sepenuhnya di dalam Yesus Kristus (Yoh. 14:6). Karena itu, media Kristen tidak boleh tunduk pada arus persepsi publik yang menyesatkan, sekalipun itu populer atau menguntungkan secara komersial.
Misi media Kristen di era ini menjadi sangat strategis. Pertama, menjadi penjaga kebenaran, memastikan berita yang diterbitkan sudah diverifikasi, walau harus melawan arus kecepatan berita. Kedua, membentuk persepsi berdasarkan firman Tuhan, memberi kerangka pikir alkitabiah kepada pembaca, sehingga cara mereka memandang berita dan isu semakin selaras dengan kebenaran ilahi. Ketiga, mengoreksi narasi palsu, bukan dengan kemarahan atau kebencian, tetapi dengan kasih, kesabaran, dan data yang jelas. Dan keempat, memberi pengharapan, tidak hanya memberitakan masalah, tetapi juga menghadirkan solusi dan janji Tuhan di tengah kabar buruk.
Namun, tanggung jawab ini tidak hanya ada di pundak redaksi. Setiap pembaca adalah agen pembentuk persepsi. Tombol “share” di tangan Anda bisa menjadi alat penyebar kebenaran atau alat penyebar kebohongan. Sebelum membagikan berita, tanya tiga hal: Apakah ini benar? Apakah ini membangun? Apakah ini memuliakan Tuhan? (1 Korintus 10:23,31; Filipi 4:8-9).
Di tengah gempuran persepsi publik yang cepat terbentuk, media Kristen dipanggil untuk menjadi garam yang mencegah pembusukan informasi, dan terang yang menyingkapkan kebenaran di tengah kabut opini. Dunia mungkin memuja persepsi, tetapi kita dipanggil untuk memuliakan kebenaran. Sebab seperti janji Yesus, “Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:32).
*) Penulis meraih gelar Doktor Teologi di STTII Yogyakarta, Gembala Jemaat JKI Satelit Citarum Semarang.










