Cerbung: Pertarungan Srikandhi-Bisma (9)

Fiksi88 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki *)

Fitri, Vita dan Bagas masih asyik ngobrol. Mereka menoleh melihat Nyi Sutejo dan Bramastho serta teman-temannya.  Fitri dan Vita saling berpandangan.  Fitri kelihatan agak gugup.  Bagas melihat kegugupan itu

Nyi Sutejo yang mengantar mereka mengucap,”Fit, ini ada nak Bramastho cari kamu ndhuk…

Nak Bagas, ini Bramastho teman kuliah Fitri.  Nak Bramastho ini Nak Bagas, siswa bapak,” Nyi Sutejo memperkenalkan antar mereka.

Bagas berdiri dan menyongsong serta menyalami Bramastho sambil menyebutkan nama diri.  Bramastho menerima tangan Bagas dengan mata penuh selidik dan curiga.  Ketika mereka berhadapan, Bagas kaget karena wajah Bramastho mirip dengan wajah pada foto yang pernah ditunjukkan polisi kepadanya ketika polisi mencari pengedar narkoba di kampusnya beberapa minggu yang lalu.

 “Mungkinkah?”Bagas dalam hati bertanya

“Sudah lama ya berlatih di sini?” Bramastho berucap sambil mengamati Bagas.

“Ya baru sekitar 7 bulan,” Bagas menjawab sambil menata wayang.

Fitri tiba-tiba berkata,”Yuk ah, kita ke depan saja.”

Fitri berdiri dan berbalik diikuti oleh Vita: diikuti pula oleh teman-teman Bramastho serta Bramastho yang meninggalkan pandangan curiga pada Bagas.  Bagas menjadi salah tingkah.  Nyi Sutejo yang terakhir meninggalkan Bagas.

“Silakan diteruskan Nak latihannya, ibu mau masak untuk makan malam.  Apakah perlu saya tambah lagi tehnya?” Nyi Sutejo berujar.

Bagas menyahut dengan sopan,”Trimakasih bu, cukup, cukup.”

Sepeninggal Nyi Sutejo, Bagas berbalik lagi ke arah layar.  Meraih salah satu anak wayang, Srikandhi, memainkannya di atas layar, kemudian menancapkannya di atas gedebog/ batang pisang.  Srikandhi diposisikan seperti orang bertapa.  Kedua tangannya bersedekap.  Kemudian meraih kayon/ gunungan, diumpamakan angin pencobaan, kemudian kayon dimainkan mengitari Srikandhi, sambil Bagas kombangan,”Ooo, leng-lenging driya mangu mangungkung…”.  Kayon kemudian ditancapkan di hadapan Srikandhi.  Bagas kemudian meraih pemukul gender lalu menabuh gender dengan melagukan suluk ada-ada “Kagyat risang kapirangu, riangkul kinempit-kempit, dhuh sang retnaning bawana…Oooo”

Di dalam ruang tamu Fitri duduk bersanding dengan Vita dengan muka acuh tak acuh.  Sementara Bramastho berdiri, mondar-mandir kelihatan gelisah.  Sementara teman-teman Bramastho memperhatikannya.

Bramastho membuka percakapan,”Fitri, aku belum menemukan alasan, kenapa kamu menjauhiku akhir-akhir ini?  Dan kenapa kamu tidak berbicara apa-apa tentang itu?.”

Semua diam, Fitri masih kelihatan acuh tak acuh saja.

“Kamu harus bicara Fit, tidak bisa hubungan kita terus  menggantung… Kamu jangan bertindak seperti peribahasa:”Habis manis sepah dibuang,” Bramastho berkata dengan sinis.

Fitrik kelihatan tidak enak dengan ungkapan itu,”Hei, Bram, apa-apaan ini?  Apakah kamu merasa kurugikan?  Apakah aku berusaha mencari keuntungan dengan hubungan kita selama ini?  Bagaimana mungkin kamu merasa terbuang?”

Melihat gelagat yang kurang bagus ini, teman-teman Bramastho pergi keluar teras depan, begitu juga Vita.  Vita pergi ke dalam rumah.

Bramastho merasa bersalah,”Maaf, maaf, itu hanya peribahasa.”

Fitri ternyata marah,”Itu bukan peribahasa biasa, aku merasa sakit dengan ungkapan itu; kamu sudah menuduh aku di pihak yang menggerogotimu.  Bukankah justru aku mau jalan denganmu karena aku simpati dengan keadaanmu dan ingin mendampingimu ke arah perbaikan.  Kapan aku mengambil keuntungan dari kedakatan hubungan kita selama ini?”

Bramastho terbata-bata,”Ya, ya aku salah…tetapi kamu harus menjelaskan, kenapa sikapmu berubah akhir-akhir ini?”

Fitri menyerang dengan kata-kata,”Bram, kamu mulai melakukan kebiasaan lamamu kan?  Bahkan kamu sekarang menjadi pecandu dan pengedar barang maksiat itu kan?”

Bramastho membela diri,”Fitri!  Kamu tahu dari mana?  Itu bohong, tidak berdasar.”

Fitri tidak mau mengalah,”Tidak usah tanya dari mana informasi itu aku dapatkan.”

Bramastho masih membela diri,”Itu fitnah untuk menjauhkan hubungan kita.”

Fitri berusaha meraih tas yang dibawa Bramastho,”Jangan membela diri.  Coba boleh aku lihat tas yang selalu kamu bawa-bawa itu… Apa itu isinya?”

Bramastho terkejut, salah tingkah.  Bagas muncul di pintu depan dengan membawa anak wayang. (Bramastho dan Fitri terkejut dengan kemunculan Bagas)

“Maaf mengganggu, anu mbak Fitri, saya pulang dulu.

Aku pinjam wayang Srikandhi dan Bisma.  Aku sudah bilang Bapak,” Bagas berkata sambil memperhatikan keduanya.

Fitri gugup menjawab,”Eh, eh, iya mas, mangga-mangga.”

Bagas melangkah pergi disertai rasa heran dengan situasi antara Bramastho dan Fitri.

Segera terdengar deru motor Bagas.

Bramastho berkata sambil menudingkan jari telunjuk ke arah depan rumah,”Fitri, orang itukah yang membuat hubungan kita jauh?”

Fitri sengit menjawab,”Hei jangan menuduh sembarangan.  Kebiasaan jelekmulah yang membuat hubungan kita tidak saja jauh tapi putus, mulai saat ini…Aku tidak mau terseret dengan persoalan-persoalan maksiat itu.”

Fitri menangis, Bramastho geram.  Nyi Sutejo keluar bersama dengan Vita.  Bramastho menjadi gugup.

Nyi Sutejo bertanya keheranan,”Ada apa ini, kok malah bertengkar?”

Vita memegang kedua bahu Fitri,”Eh, Fit, ada apa?  Ada apa?”

Fitri menggeleng sambil masih mengusap air mata.

Bramastho berkata kepada Nyi Sutejo, agak salah tingkah,”Eh, bu, saya permisi dulu.”

Bramastho segera beranjak keluar.  Sekilas diperhatikannya Fitri yang masih sesenggukan menahan emosi.  Segera terdengar deru mobil.  Bramastho pergi bersama dengan teman-temannya.

(Bersambung)

*) Penulis tinggal di Ambarawa

Gambar ilustrasi dari Radar Madiun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *